
Susi kembali ke ruangannya. Ia membuka tupperware tempat bekalnya lalu makan dengan lahap, menikmati hasil masakannya sendiri yang tentunya enak dan gurih.
Usai makan, ia mulai membuka ponselnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang data pribadi Anna dan setelah menemukan, ia mengirim permintaan pertemanan dan kebetulan Anna juga sedang aktif.
Sudah setengah jam berlalu tapi belum ada respon dari Anna. Susi menyimpan ponsel di tasnya karena jam istirahat telah selesai dan pekerjaan sudah menumpuk di meja telah menantinya.
Sementara itu di toko, Anna baru saja selesai menghitung pemasukan untuk bulan ini dan tampak ia sangat lelah karena hampir dua jam berada di depan laptop.
Ia berbaring sejenak untuk meluruskan belakangnya dan sambil berbaring ia membuka ponsel dan melihat ada permintaan pertemanan dari seseorang yang bernama Susi dan belum ia kenal.
Anna memeriksa profil orang tersebut karena ia tidak mau sembarang menerima pertemanan, jangan sampai mantan suaminya yang menyamar menjadi orang lain ingin dan punya niat untuk mengusik kehidupannya lagi.
Setelah melihat-lihat foto dan postingan Susi, ia tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan, pikirnya tak ada salahnya menerima pertemanan ini.
"Terima kasih Kak, sudah menerimaku! Saya Susi, mau tanya-tanya harga barang yang ada di berandanya Kakak,"
"Sama-sama Dek, kira-kira barang mana yang mau ditanyakan?"
Anna bertanya seperti itu karena ia juga menjual secara Online sehingga setiap ada waktu ia selalu mempromosikan barang jualannya lewat aplikasi Facebook.
"Tunggu yah, Kak, saya screenshot dulu!"
Susi mau memesan barang jualan Anna sebagai alasan untuk bisa punya kesempatan lebih dekat lagi sehingga bisa lebih jauh mengenalnya.
"Ok, siap Dek!"
Anna memenjamkan mata sejenak untuk beristirahat karena sudah ada karyawan yang melayani para pembeli. Anna mempekerjakan anak sekolah yang ngekost di samping rumahnya setelah pulang dari sekolah. Yura, nama gadis itu dan baru duduk di kelas X SMA.
Yura sering main bersama Felyn setelah pulang dari sekolah dan sudah akrab dengan Anna sejak beberapa bulan yang lalu. Ia senang dengan kepribadian Yura yang sederhana dan peramah sehingga menawarkan pekerjaan kepadanya untuk menjaga toko.
Yura sangat gembira dengan tawaran tersebut. Dengan senang hati dan penuh semangat ia melakukan pekerjaan yaitu melayani pembeli. Ia berasal dari keluarga yang pas-pasan bahkan untuk biaya sekolahnya, orang tuanya di kampung harus banting tulang asalkan anak mereka dapat bersekolah, mengingat Yura adalah anak yang cerdas. Mereka menyekolahkan anaknya di kota karena di kampung belum ada sekolah tingkat SMA.
Anna terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara Felyn yang datang berteriak-teriak memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa Nak, kenapa berteriak-teriak?" tanyanya dengan lembut.
"Kirain Mama di mana," sahut Felyn dan berlalu meninggalkan mamanya. Ia menghampiri Yura yang sedang menyusun dan merapikan barang-barang yang sempat dibongkar oleh para pelanggan.
"Kak Yura, main yuk!" ajak Felyn sambil menarik-narik lengan Yura.
"Sebentar Sayang, Kakak kerja dulu, nih!" ucap Yura dengan lembut sambil memegang pundak Felyn.
Tampak wajah Felyn kecewa tapi Yura segera membujuknya.
"Ayo bantu Kakak dulu dong, nanti kalau pekerjaan ini udah beres baru kita boleh main!"
"Okey!"
Felyn ikut memindahkan barang-barang atas petunjuk yang diberikan oleh yura. Keduanya tampak kompak dan bekerja sambil menyanyikan lagu anak-anak.
Yura benar-benar pintar mengambil hati anak-anak sehingga Felyn sampai lupa untuk bermain karena saking asyiknya melakukan pekerjaan tersebut.
"Tolong kemas dulu barang ini, Yura!" pinta Anna sambil menyerahkan botol minuman, pesanan dari Susi yang akan dikirim ke kota A.
"Baik, Kak," kata Yura. Ia meraih barang tersebut dan membungkusnya dengan rapi. Selama melakukan pekerjaan tersebut, Felyn duduk di dekatnya dan memperhatikan cara Yura mengemas karena ia pun ingin melakukan hal yang sama.
Tak terasa sudah satu bulan Yura bekerja di toko milik Anna dan hari ini ia mendapatkan gaji pertama.
"Astaga, kenapa uangnya banyak sekali, Kak?" tanya Yura ketika menerima gajinya sebesar satu juta rupiah.
"Cuma sedikit kok, hitung-hitung bisa kamu gunakan buat bayar kost," jawab Anna sambil tersenyum.
"Tapi Kak, saya hanya bekerja setengah hari saja bahkan makan malam di sini juga, tiga ratus ribu aja sudah lebih dari cukup," bantah Yura dengan serius.
"Ambillah, Kakak tulus memberikan karena itu adalah hakmu!"
Anna merasa tidak rugi mengeluarkan uang sekian bahkan menurutnya itu masih kurang karena Yura tidak hanya membantunya untuk menjual tapi juga menjaga dan menemani Felyn bahkan sebelum pulang ke kostnya ia masih menyempatkan diri mencuci perabotan setelah makan malam meskipun Anna dan ibu Nadia melarangnya.
__ADS_1
Dengan mata berkaca-kaca Yura menerima uang tersebut. Ia sangat terharu karena tak menyangkah bisa dipertemukan dengan orang-orang baik yang peduli kepadanya.
Tiba di rumah kostnya ia berbaring karena tubuhnya lelah setelah sepanjang hari beraktifitas. Sejak bekerja di toko milik Anna ia tidak pernah lagi tidur siang namun baginya hal itu tidak dipersoalkan karena jam tujuh malam ia sudah pulang dan bisa langsung tidur jika tidak ada tugas dari sekolah yang harus dikerjakan.
Sambil berbaring ia menghubungi papa dan mamanya yang ada di kampung.
"Selamat malam, Ma, Pa!"
"Iya nak, selamat malam!"
"Ada berita bagus loh!"
"Berita apa Nak, cerita dong, biar papa dan mama dengar dan nggak penasaran!"
"Papa dan mama nggak usah kirim uang bulan ini yah, soalnya tadi saya terima gaji!"
"Terima gaji? Memangnya kamu udah nggak sekolah?"
"Iya Ma, terima gaji. Maaf Ma, Pa, udah sebulan saya kerja di rumah tetangga kalau pulang dari sekolah!"
"Kamu jangan main-main yah! Bagaimana dengan sekolahmu jika kamu kerja?" Kami masih kuat cari duit buat biaya sekolahmu kok,"
"Iya Pa, Ma, saya tahu itu, tapi saya di sini kerjanya santai karena hanya melayani pembeli, terkadang pula kalau pembeli lagi sepi, saya gunakan waktu untuk belajar,"
"Kalau kami orang tuamu selalu menginginkan yang terbaik, jadi kalau kamu nyaman dengan pekerjaan itu, silahkan! Tapi ingat jangan sampai sekolahmu terganggu!"
"Iya Pa, Ma, udah dulu yah, Yura mau istirahat!"
"Iya Nak,"
Sambungan telepon terputus. Yura tersenyum sambil memandangi langit-langit kamar kostnya yang sempit. Kamar yang berukuran tiga kali tiga yang setiap bulannya harus dibayar.
Ia kembali meraih dompetnya dan memandangi uang pemberian Anna tadi. Dalam hati ia bersyukur karena uang sebanyak itu ia bisa gunakan untuk membayar biaya kost dan keperluan lainnya.
__ADS_1