
Setelah Johan dan Susi tiba di kota Baru, pak Zeno dan ibu Hera langsung mengumpulkan beberapa kerabat dekatnya untuk merembukkan acara pesta pernikahan yang akan digelar sesegera mungkin.
Satu minggu kemudian pesta pernikahan antara Johan dan Susi berlangsung dengan sederhana. Mereka hanya mengundang kerabat dekat dan tetangga.
Johan sangat terharu karena tidak pernah menyangkah sebelumnya tiba-tiba Andi, sahabatnya muncul pada acara pernikahannya. Andi datang bersama Mariam, istrinya serta anaknya.
Andi mendapat informasi pernikahan Johan dan Susi dari Anna, adiknya. Sebagai sahabat dekat ia meluangkan waktu untuk bisa menghadiri pesta tersebut apalagi mengingat sahabatnya yang hanya sebatang kara. Dua tahun yang lalu ayahnya meninggal dan dua bulan berikutnya ibunya pun dipanggil yang Maha Kuasa. Johan tidak punya lagi kerabat karena ayahnya juga adalah anak tunggal sedangkan ibunya hanya dua bersaudara dan saudaranya itu sudah meninggal pada usia muda.
Tidak lama kemudian, Johan dan Susi kembali dikejutkan dengan kehadiran Eric dan Susi, mereka juga datang bersama dengan anaknya. Rupanya mereka sudah janjian dengan keluarga Andi untuk memberikan kejutan dengan menghadiri acara pernikahan sahabatnya itu.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Johan tampak sangat bahagia, terlihat dari wajahnya yang berbinar-binar dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ia juga sangat senang karena pak Zeno dan ibu Hera menerima dia dengan baik.
Susi juga berusaha tampak ceria walau dari sorot matanya bisa terbaca bahwa ada beban yang menganjal di hatinya. Sampai detik ini pun ia masih belum yakin bahwa Johan akan benar-benar berubah tapi demi anak yang ada dalam kandungannya kini ia pasrah saja.
Acara terakhir ditandai dengan berfoto bersama. Secara bergantian kerabat dekat naik ke atas pelaminan kemudian disusul dengan para sahabat termasuk keluarga Andi dan keluarga Anna.
"Selamat berbahagia!" ucap Andi saat bersalaman dengan pengantin.
"Terima kasih atas kehadirannya!" ucap Johan dan Susi hampir barengan.
Andi dan Johan berpelukan. Ada rasa haru menyeruak di hati Johan membuat matanya berkaca-kaca. Kini ia tidak merasa sendirian tanpa sanak saudara karena ternyata ada teman yang peduli bahkan lebih dari kerabat sendiri.
Setelah itu mereka berfoto untuk dijadikan kenang-kenangan.
Kini giliran keluarga Anna yang naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada sahabatnya.
__ADS_1
Kali ini Susi pun meneteskan air mata haru mengingat semua perhatian dan kebaikan Eric bersama Anna terhadap dirinya yang menurutnya tidak akan dapat terbalaskan. Ia merasakan kepedulian mereka yang begitu tulus dan ikhlas.
"Udah, jangan nangis, entar make up-nya luntur, loh!" kata Anna.
Susi menyeka air matanya dan mengeringkan menggunakan tisyu lalu berfoto dengan sahabatnya.
"Mungkin kami langsung pamit, yah!" kata Eric.
"Kok, buru-buru amat?" tanya Johan.
"Besok Felyn harus masuk sekolah dan ada urusan yang saya harus selesaikan hari ini juga," sahut Eric.
"Oke, sekali lagi terima kasih, hati-hati di jalan!" kata Johan.
"Da-da, Felyn cantik," ucap Susi sambil tersenyum.
Mereka masih menyempatkan diri untuk menemui Andi beserta istri dan anaknya di sebuah rumah penginapan.
Tiba di sana Felyn mengajak Lora untuk main-main sejenak sebelum berpisah dan itu membuat mereka sangat senang melihat keakraban yang terjalin diantara kedua anak tersebut walaupun baru pertama kali bertemu.
Eric termangu melihat mobil kakak iparnya yang terparkir di halaman rumah penginapan tersebut. Sebuah mobil mewah keluaran terbaru dan katanya baru dibeli tiga bulan yang lalu. Sedangkan mobil yang pertama dibeli dulu sudah ia berikan kepada orang tuanya
Tidak heran karena gaji seorang karyawan swasta di Irian sangat tinggi dan Mariam, istrinya juga sudah buka usaha sendiri dengan menjual makanan secara On Line dan menurutnya pengakuannya, kadang kala ia kewalahan melayani pembeli meskipun sudah punya karyawan.
"Kapan kira-kira kita bisa berkunjung ke rumah orang tua?" tanya Andi kepada Anna.
__ADS_1
"Mungkin kita bisa ketemu di sana pada saat anak sekolah libur. Tinggal sebulan lagi Felyn akan libur semester," sahut Anna.
"Usul yang bagus, berdoa saja semoga tidak ada halangan sehingga kita bisa ngumpul lagi.
Mariam membuka pintu mobil dan mengambil ole-ole yang sudah ia siapkan lalu memberikan kepada Anna.
"Apa ini?" tanya Anna penasaran setelah menerima sebuah dos dari tangan adik iparnya.
"Ada deh, nggak boleh dibuka sekarang, nanti kalau udah sampai di rumah baru boleh dibuka," sahut Mariam sambil tersenyum.
"Ada juga buat Felyn,Tante?" tanya Felyn membuat Mariam dan Anna tertawa.
"Iya, Sayang, masakan Tante lupa sama ponakan yang cantik," sahut Mariam.
"Hore, hore...!" seru Felyn dengan senang. Lora pun ikut melompat-lompat mengikuti gaya Felyn dengan wajah yang berbinar dan sangat menggemaskan.
"Nih, buat beli jajan nanti di jalan!" kata Andi sambil memberikan tiga lembar uang pecahan seratus kepada Felyn.
"Wahh, banyak bangat, Om, satu lembar aja udah cukup, kok," ucap Felyn dengan serius dan ia mengembalikan yang dua lembar itu.
Mereka semua tersenyum. Anna memang selalu mengajar anaknya untuk hidup hemat dan tidak pernah membiarkan untuk membelanjakan uang yang banyak dan ajaran tersebut sudah tertanam dalam pikiran Felyn.
Tanpa sepengetahuan Felyn, Andi memberikan uang itu kepada Anna.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat, akhirnya Eric dan Anna pamit lalu pulang ke kota A.
__ADS_1
Keluarga Andi masih menginap sampai besok karena rencananya malam ini mereka masih mau bertemu dengan Johan, sahabatnya.