
Pak zeno, ayah Susi sedang berada di luar kota untuk menghadiri acara kerabatnya dan rencananya besok ia akan kembali. Ini juga yang membuat istrinya takut karena suaminya itu orangnya sangat emosian dan tidak bisa mengontrol diri. Bagaimanapun juga Susi adalah anak perempuan satu-satunya dan ia tidak akan tega melihat dia disakiti oleh ayahnya secara fisik.
Susi mempunyai dua orang kakak laki-laki yang saat ini berada di Kalimantan dan mereka sedang bekerja di sana. Susi merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, itulah sebabnya ibu Hera sangat menyesalkan apa yang sedang menimpa anak kesayangannya itu.
Kata-kata kasar keluar dari mulutnya, bukan berarti ia membenci anaknya tapi karena terbawa emosi. Saat ini ibu Hera sedang berfikir bagaimana cara agar anaknya terhindar dari amukan ayahnya.
Sebenarnya pak Zeno itu orangnya baik dan penyayang juga terhadap anak-anaknya tapi jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya maka emosinya akan meluap-luap tanpa bisa mengontrol kata- kata yang diucapkan.
Bagi ibu Hera, hal ini sudah biasa karena sejak dari dulu ia sudah mengalaminya. Sakit tapi ketika amarahnya sudah surut maka ia akan merendahkan diri untuk meminta maaf dan menyesali sikapnya.
Ibu Hera turun dari pembaringan dan menemui Susi yang masih mendekam di kamarnya. Hatinya pilu mendapatkan anaknya yang bersimbah dengan air mata.
"Mungkin sebaiknya kamu cari tempat dulu untuk berlindung demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Besok ayahmu akan pulang dan kamu sudah tahu bagaimana jika dia sedang emosi!" kata ibu Hera dengan suara parau karena matanya juga sudah basah.
Susi bangun dan memeluk ibunya. Tangisnya kembali tumpah.
"Jangan lupa hubungi ayah dari anak yang sedang kamu kandung itu dan tuntut agar dia mau bertanggung jawab. Jika sudah ketemu, suruh datang ke sini menghadap kepada kami supaya pernikahan kalian segera diurus sebelum perutmu itu semakin membesar!" sambung ibu Hera lagi.
Susi langsung teringat dengan Anna. Ia bertekad untuk menemuinya.
"Iya Bu, sekarang juga saya akan berangkat ke kota A," kata Susi.
Ibu Hera membantu anaknya untuk berkemas-kemas lalu menghubungi kendaraan jurusan ke kota A.
__ADS_1
Sementara berkemas, ibu Hera memberikan banyak nasihat kepada anaknya dan tak lupa juga ia mengemas berbagai kebutuhan selama menempuh perjalanan.
"Ini ada sedikit uang untuk keperluan kamu di sana nanti!" kata ibu Hera sambil menyerahkan amplop kepada anaknya. Uang itu adalah tabungannya selama dua tahun terakhir ini yang rencananya akan dijadikan modal usaha.
"Nggak usah Bu, saya masih punya simpanan, kok," ucap Susi. Ia menolak pemberian ibunya karena di ATM-nya masih ada simpanan, hasil kerjanya dulu di kota A.
"Kalau begitu, hubungi saja Ibu jika kamu butuh sesuatu!" ucap ibu Hera dengan mata berkaca-kaca.
"Siap, Bu!" ujar Susi.
Sore hari mobil yang akan ditumpangi oleh Susi sudah datang menjemput. Mereka akan jalan malam.
Susi berangkat dengan deraian air mata. Tadi ia sudah menghubungi Anna dan menyampaikan bahwa ia mungkin akan tiba di kota A pada pagi hari.
Suasana rumah Anna sepi ketika Susi tiba di sana. Eric sudah keluar untuk urusan bisnisnya dan Felyn juga sudah berangkat ke sekolah. Hanya Anna seorang diri yang sedang menata pot-pot bunga yang baru di teras rumahnya.
Melihat kedatangan Susi, Anna segera menyambut dengan hati yang gembira. Keduanya bersahabat tapi pertemuan langsung saat ini adalah baru kedua kalinya.
Anna menunjukkan kamar tamu kepada Susi dan menaruh kopor dan barang-barang bawaannya di dalam kamar tersebut. Setelah itu keduanya duduk di sofa dan ibu Lastri datang membawa minuman hangat dan kue yang sudah dipesan oleh Anna.
"Ehh, tamunya udah datang," kata ibu Lastri basa-basi.
"Iya Bu, terima kasih, Bu!" sahut Susi dengan ramah.
__ADS_1
Ibu Lastri segera pamit dan meninggalkan mereka karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan di rumah makan. Tapi ia balik lagi karena mengingat sesuatu.
"Bagaimana dengan makan siangnya nanti?" tanya ibu Lastri.
"Nggak usah repot-repot Bu, soalnya siang ini Susi mau menikmati masakanku!" sahut Anna.
"Oh, begitu yah?"
Anna tersenyum dan ibu Lastri segera berlalu.
Tanpa dipersilahkan Susi segera meraih pisang goreng yang masih hangat dan memakannnya. Dari kemarin ia berkhayal ingin sekali makan pisang goreng dan saat ini makanan tersebut sudah ada di depan mata, jadi tunggu apa lagi.
"Pisangnya sangat enak, terima kasih sudah menyuguhkan!" ujar Susi lalu menyuruput teh hingga setengah habis setengah gelas.
"Ehhh, silahkan dicicipi lagi!" kata Anna yang ikut mencicipi pisang tersebut.
Susi makan dengan sepuasnya karena memang ia sedang lapar. Selama dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih sepuluh jam termasuk waktu istirahat ia malas makan karena rasa mual sangat mengganggunya.
Perasaannya sekarang sudah lega setelah kenyang makan pisang namun tiba-tiba rasa mual itu datang lagi.
"Hooeeekkk, hooooekk, hoooek!"
Susi berlari ke kamar mandi membuat Anna panik.
__ADS_1