MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
82. Cantik dan Baik Hati


__ADS_3

Empat tahun kemudian keluarga pak Hendrik dan keluarga pak Gideon tampak sibuk. Seminggu lagi pesta pernikahan antara Angga dengan Erika akan segera digelar. Persiapan demi persiapan sedang dilakukan di dua rumah yang bertetanggaan itu.


Hubungan mereka juga sudah akrab sebagai tetangga. Ibu Elma dan ibu Arlin sering keluar berduaan walau hanya ke pasar untuk membeli bumbu dapur dan mereka juga selalu berbagi makanan secara bergantian.


Pak Gideon dan Ibu Arlin juga sudah hidup rukun kembali setelah mendengar cerita dari ibu Elma yang senasib dengan dirinya, ibu Arlin pun mulai melepaskan pengampunan kepada suaminya dan lebih banyak berpikir positif sesuai dengan anjuran dari ibu Elma akhirnya kehidupan rumah tangga mereka kembali seperti semula bahkan jauh lebih baik bila dibanding dengan yang lalu-lalu sebelum ada masalah.


Pak Gideon dan pak Hendrik juga sering pergi refresing pada hari sabtu. Mereka memilih hari sabtu karena itu adalah hari libur buat pak Gideon yang sehari-harinya bekerja di BANK. Lokasi pemancingan, itulah yang mereka selalu kunjungi.


Benar kata orang, bahwa pergaulan bisa mempengaruhi karakter seseorang. Pergaulan yang baik akan membawa pengaruh yang positif dan juga sebaliknya.


Ibu Arlin sangat bersyukur bisa menjalin persahabatan dengan tetangganya karena telah membawa dampak yang sangat baik dalam kehidupan rumah tangganya. Ia berharap hubungan mereka akan semakin erat setelah Angga dan Erika dipersatukan dalam ikatan perkawinan.


Angga dan Erika telah menyelesaikan kuliahnya dengan baik juga selesai dengan tepat waktu dan sesuai dengan kesepakatan sejak menjalin hubungan sebagai seorang kekasih maka pernikahan akan segera digelar.


Orang tua kedua belah pihak juga merestui hubungan mereka sehingga tanpa mengulur-ulur waktu lagi segala sesuatunya sudah dipersiapkan.


"Bagaimana dengan pakaian seragam keluarga, apakah sudah siap juga?" tanya ibu Elma kepada Anna.


"Iya Bu, tadi penjahit sudah menelepon dan katanya sudah beres, tinggal dijemput," sahut Anna yang diberi tugas untuk mengurus baju seragam tersebut.


"Bagus, terima kasih sudah mengurusnya dengan baik!"

__ADS_1


"Sama-sama, Bu,"


***


Tibalah saatnya pesta pernikahan antara Angga dan Erika digelar. Kedua belah pihak mengundang kerabat, sahabat, dan teman sehingga pesta tersebut sangat ramai.


Karyawan yang bekerja di rumah makan milik pak Hendrik yang diberi tugas untuk mengurus konsumsi hampir-hampir kewalahan tapi beruntung karena mereka sudah mengantisipasi semuanya.


Di atas pelaminan yang didekorasi dengan mewah, tampak Angga dan Erika sangat bahagia, senyum tak lepas dari bibir.


Erika yang sedikit tomboy tampak cantik dengan polesan make up. Wajahnya sangat berubah karena selama ini ia jarang menggunakan scincare sehingga make upnya melengket dengan sempurna.


Demikian juga dengan orang tua mereka, wajahnya berseri-seri melihat kebahagiaan anaknya. Mereka juga mengenakan pakaian yang seragam. Pak Gideon dan pak Hendrik mengenakan jas berwarna hitam sedangkan ibu Arlin dan ibu Elma mengenakan kebaya warna merah maron yang dipadukan dengan rok batik dan lengkap dengan selendang yang senada dengan rok.


Tanpa sepengetahuan Anna dan Eric, ternyata Beni juga datang bersama dengan Yura, calon istrinya. Keduanya sangat kaget ketika melihat mereka tiba-tiba muncul di gerbang masuk.


Setelah bersalaman dengan para penjemput tamu, Beni dan Yura ditemui oleh Eric dan Anna.


"Selamat datang!" sapa Eric dengan ramah.


"Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?" tanya Anna penasaran.

__ADS_1


"Erika itu teman saya, loh," sahut Yura sambil tertawa senang.


"Kalian kenal di mana?" tanya Anna lagi.


Yura menceritakan kepada mereka bahwa ia pernah bertemu dengan Erika ketika datang ke kota A dan sejak saat itu keduanya sering chatingan hingga di hari yang spesial buat Erika ini, kembali dirinya mendapat undangan.


Tak lupa Anna menunjukkan tempat duduk buat Beni dan Yura yang berdekatan dengan tempat duduk Johan dan Susi. Anna sengaja membawa mereka ke tempat tersebut agar ada teman mengobrol lalu ia dan suaminya pamit untuk menyambut tamu yang lain.


Sesekali Beni melirik ke arah Anna yang tampak cantik dengan gaun berwarna hijau tosca melekat pas di tubuhnya. Anna tidak pernah berubah, ia murah senyum dan ramah terhadap siapa saja. "Eric adalah laki-laki yang sangat beruntung karena memiliki istri yang cantik dan baik hati pula," gumamnya dalam hati.


"Kakak kok ngelamun, sih?" tanya Yura membuat Beni terhenyak dari lamunannya.


"Ahh, nggak, cuman sedikit capek," sahut Beni. Ia memberikan alasan yang tepat karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh, apalagi ditempuh dengan kendaraan roda dua.


Beni kembali merenung, namun kali ini ia tertunduk karena merasa berdosa telah mengagumi perempuan lain yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain, sementara di sisinya ada calon istri yang tak kalah cantik dan baik hati.


Refleks tangannya meraih jemari Yura dan menggengamnya dengan erat sambil berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang selalu menghantuinya tentang masa remaja yang pernah dijalani bersama dengan Anna.


"Sabar Kak, nggak lama lagi kita juga akan segera menyusul, seperti Angga dan Erika!" kata Yura sambil mengeratkan juga genggamannya.


"Iya Sayang, udah nggak sabar, nih," ucap Beni sambil tersenyum. Senyum yang selalu membuat dada Yura berdebar-debar.

__ADS_1


"Cie, cie...," goda Anna yang kembali datang menemui mereka karena acara akan segera dimulai.


Yura tersenyum malu lalu menarik tangannya secara perlahan dari genggaman Beni.


__ADS_2