
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Eric dan Anna. Rasa letih setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh tidak terasa lagi karena keduanya benar-benar menikmati seperti malam pertama yang sangat indah.
Pagi ini Eric bangun lebih awal dari biasanya dan dengan semangat ia menuju ke dapur. Di sana istrinya sudah bergelut dengan pekerjaan sebagai seorang ibu, menyiapkan sarapan buat suami dan anaknya.
Tadi Anna sempat kaget ketika membuka kulkas dan melihat isinya penuh. Namun ia berpikir bahwa mungkin ibu mertuanya sengaja menyiapkan semua itu dan mungkin ini masih bagian dari penyambutan mereka buat dirinya sebagai tamu yang istimewa.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Eric dengan senyum. Ia masih seperti orang yang sedang bermimpi bahwa istrinya telah kembali.
"Selamat pagi juga, Mas!" sahut Anna tersipu malu.
Eric merasakan suasana yang baru. Selama ini ia yang sibuk menyiapkan sarapan buat anaknya bahkan jika tidak sempat maka ibu Lastri yang datang mengantar makanan siap saji tapi sekarang masih pagi-pagi buta, makanan untuk sarapan sudah tersaji di meja dengan lengkap. Aromanya menggugah selera dan tanpa menunggu waktu yang lebih lama, Eric duduk dan menikmati makanan tersebut dengan lahap.
"Ma, hari ini Felyn pengen bawa bekal ke sekolah!"
"Boleh kok, Nak, sebentar Mama akan buatin bekal yang enak,"
Usai sarapan, Anna tampak sibuk lagi membuat nasi goreng buat bekal anaknya. Sesekali ia melirik ke arah suaminya yang masih saja bersantai.
"Mas nggak ke kantor?"
"Sebentar, mau antar Felyn dulu ke sekolah soalnya Mas mau ngajak kamu sekalian kita ke tempat kerja bersama-sama,"
Anna bingung dengan ucapan yang sekaligus menjadi ajakan buat dirinya. Buat apa juga saya ke kantor?
"Ayo Pa, entar Felyn terlambat!" seru Felyn setelah menyimpan bekal ke dalam tas sekolahnya.
"Kami jalan dulu, jangan lupa segera bersiap karena Mas akan kembali menjemputmu!" kata Eric saat pamit untuk mengantar Felyn ke sekolah.
Anna menuruti perintah suaminya. Ia bergegas mandi dan berpakaian rapi lalu memoles wajahnya dengan make up tipis-tipis. Sederhana tapi terlihat cantik dan menawan. Setelah itu ia duduk di teras menunggu Eric yang akan menjemputnya.
Belum satu menit ia duduk, ponsel milik suaminya berdering. Ia kembali masuk ke rumah dan mencari benda, sumber suara tersebut.
Ponsel itu rupanya berada di dekat TV. Anna mengambil dan memeriksa. Ada nomor baru yang sedang memanggil. Ia meletakkan kembali ponsel milik suaminya itu ke tempat semula dengan pikiran bahwa tidak sopan jika menjawab telepon seseoang tanpa izin dari si pemilik. Namun ponsel tersebut kembali berdering dengan nomor yang masih sama, akhirnya ia menjawab dengan pertimbangan siapa tahu si penelepon ini ingin menyampaikan informasi yang penting atau jangan-jangan dari kantor karena hari ini Eric terlambat masuk.
"Halo, ini dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?" sapa Anna dengan ramah.
"Mohon maaf sebelumya, apa ini benar nomor ponsel pak Eric?" suara seorang perempuan dari seberang sana.
__ADS_1
Anna mengerutkan keningnya karena sepertinya ia mengenal suara si penelepon.
"Iya, benar, ponselnya ketinggalan di rumah. Kalau boleh tahu, ini siapa yah?"
Perempuan tersebut pun tidak segera menjawab karena ia heran, kenapa ada perempuan yang tinggal bersama dengan Eric.
"Eh, eh, saya temannya pak Eric,"
Anna memutar otak dan berusaha untuk mengingat siapa gerangan perempuan yang sedang berbicara dengannya lewat ponsel.
"Telepon dari siapa?" tanya Eric yang sudah pulang mengantar Felyn dri sekolah.
"Nih, ada yang mencarimu!" sahut Anna. Ia menyodorkan ponsel tersebut kepada suaminya.
Eric juga penasaran karena melihat nomor baru pada layar ponselnya.
"Iya, halo, ini dengan siapa dan ada perlu apa?"
"Saya Susi,"
Dulu Susi sempat mencatat nomor ponsel Eric dan menyimpannya di tempat tersembunyi dan aman dari jangkauan penglihatan si Johan, kekasihnya yang punya sifat cemburuan.
"Duhh, kirain siapa, kamu di mana sekarang?"
"Di kampung. Ehh, tadi yang angkat telepon siapa yah? istri baru?"
Eric terkekeh mendengar pertanyaan Susi.
"Tanyakan sendiri kepada yang bersangkutan!"
Eric memberikan ponselnya kepada Anna. Susi dan Anna pun menggunakan kesempatan untuk bercerita panjang lebar hingga ponsel milik Eric kehabisan baterai. Semalam ia lupa mengisi daya lantaran terlalu asyik menghabiskan malam yang panjang bersama istrinya.
Susi belum sempat menyampaikan pokok permasalahan yang sedang di hadapi ketika panggilan terputus.
"Sedih juga yah, perjalanan hidup yang dialami oleh Susi," kata Anna mengomentari cerita yang baru saja disampaikan oleh sahabatnya.
"Yah, begitulah, masing-masing orang punya pergumulan hidup yang berbeda-beda," ujar Eric.
__ADS_1
Anna membenarkan ucapan suaminya. Sejenak ia merenungi nasibnya yang tak kalah menyakitkan dari apa yang dialami oleh Susi.
"Yuk, kita berangkat sekarang!" ajak Eric yang sudah siap. Jaket levis berwarna hitam melekat di tubuhnya yang dipadukan dengan celana pendek yang memiliki banyak kantong membuat Anna semakin heran.
"Bukannya kita mau ke kantor?"
"Ayolah, entar juga kamu akan tahu di mana kantornya!"
Eric meraih tangan istrinya dan berjalan menuju parkiran motor.
"Mau ke mana?" tanya ibu Lastri yang tiba-tiba muncul dari samping rumah.
"Biasa, mau nyenangin hati istri dulu," jawab Eric sambil tersenyum.
"Cocok bangat, pengantin baru memang butuh banyak waktu untuk selalu berduaan," ucap ibu Lastri sambil terkekeh.
Anna hanya tersenyum mendengar percakapan antara suaminya dengan ibu Lastri.
"Oke, kami jalan dulu, Bu. Kalau ada keperluan masuk saja di rumah, kunci saya taruh di tempat biasa!"
"Oh, iya, kebetulan sebentar siang kami akan memindahkan isi kulkas nanti ke rumah makan soalnya semalam ayahmu sudah memesan lagi kulkas dan menurut penjualnya bahwa siang ini akan diantar,"
"Silahkan, Bu!"
Eric segera melajukan motornya menuju lokasi, tempat usahanya. Ia sudah membangun lagi sebuah gedung di tanah yang masih kosong tepat di samping gedung tempat karyawan untuk bekerja. Gedung baru tersebut digunakan sebagai tempat untuk menampung barang yang sudah jadi dan siap untuk dijual.
"Loh, kenapa kita ke tempat ini, Mas?" tanya Anna dengan heran.
"Sekedar cuci mata, atau siapa tahu ada yang barang yang memikat hati, kita bisa beli," sahut Eric dengan senyum khasnya.
"Selamat pagi, Pak!" sapa salah seorang karyawan penuh rasa hormat.
"Selamat pagi juga!" jawab Eric dengan ramah pula.
Tak lama kemudian pak Jasmin keluar dari gedung untuk menyambut kedatangan mereka. Ia sangat senang melihat Tuannya datang bersama dengan sang istri.
"Selamat datang, Bu!" ucap pak Jasmin sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Anna. Anna menyambutnya uluran tangan pak Jasmin sambil tersenyum.
__ADS_1
"Selamat juga, Den!" ucap pak Jasmin dengan nada sedikit meledek.
Eric pun tertawa bahagia.