MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
44. Teman Biasa


__ADS_3

Selama satu minggu Felyn dirawat di rumah sakit dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Tidak banyak yang berubah tentang kondisinya dan dokter hanya menyarankan agar ia selalu didampingi.


Felyn sangat irit untuk berbicara bahkan ketika ditanya pun hanya dijawab singkat bahkan jika pertanyaan yang sifatnya bisa dijawab dengan iya dan tidak maka Felyn akan menanggapi dengan anggukan dan gelengan kepala.


Felyn sangat membenci ibunya karena Beni selalu datang bertamu ke rumah meskipun Beni selalu membawa camilan untuknya bahkan aneka mainan sudah menumpuk di dos karena setiap kali berkunjung Beni tidak pernah datang dengan tangan kosong.


Mainan tersebut tidak pernah disentuh oleh Felyn membuat Beni ikut sedih dengan keadaan anak tersebut. Ia pun mulai menjaga jarak dengan Anna untuk melihat perkembangan Felyn tapi bukan berarti ia tidak lagi datang berkunjung namun akhir-akhir ini ia malah lebih sering datang tapi datangnya ke toko untuk mengobrol bersama Yura.


Mungkin karena sering bertemu membuat ia mulai merasa nyaman. Keduanya bahkan sudah bertukar nomor ponsel sehingga bisa berkomunikjuasi setiap saat.


Selisih usia mereka sekitar enam belas tahun tak jadi masalah untuk menjadi teman dekat dan kedekatan mereka mendapat dukungan dari Anna.


"Cie... cie, ada yang lagi berbunga-bunga, nih," goda Anna ketika menghampiri Yura di toko pada sore hari. Yura yang sedang merapikan jualan pada rak-rak menoleh ke arah suara dan tersenyum malu.


Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Wajahnya selalu berseri-seri sejak dia berteman dengan Beni. Sebatas teman tapi rasanya berat jika sudah lebih dari tiga hari pria itu tidak berkunjung ke toko. Sekarang ia sering senyum-senyum sendiri dan kerjanya semakin bersemangat.


"Ehh, Kak Anna...," ujar Yura dengan wajah merona.


"Kok, hari ini Beni cepat bangat pulang?"


"Iya Kak, katanya nanti malam dia akan balik ke Sumatera,"


"Ohh...., kapan balik lagi ke sini?"


"Saya nggak tahu, Kak,"


"Ada yang akan merana, nih...,"


"Kami hanya berteman biasa kok, Kak,"


"Tapi saya lihat, Beni itu suka sama kamu, loh! Buat apa coba, dia selalu datang ke sini kalau tidak ada maksud dan tujuannya?"


"Yahhh, dia datang karena temanan sama Kakak,"

__ADS_1


Anna tertawa mendengar ucapan Yura. Ia tahu bahwa Yura juga sudah mulai suka sama Beni karena tampak dari sikapnya ketika ia bertemu dengan pria tersebut.


Yura meninggalkan Anna yang masih menggodanya karena ada seorang ibu muda yang harus ia layani dulu. Seperti biasa, Yura selalu melayani pembeli dengan ramah dan mungkin ini adalah salah satu yang menjadi daya tarik bagi orang-orang sehingga toko tersebut tidak pernah sepi oleh pembeli.


"Bagaimana keadaan Yura, Kak?" tanya Yura setelah melayani ibu muda tadi yanga datang membeli tempat bekal buat anaknya yang baru mau masuk sekolah Taman Kanak-Kanak.


"Dia sangat sulit untuk diajak ngomong dan wajahnya selalu tampak muram," jawab Anna dengan sedih.


"Saya turut prihatin dengan keadaan Felyn. Sebenarnya saya ingin bermain dengannya tapi sudah beberapa kali saya temui, ia sama sekali tidak merespon," ucap Yura dengan iba.


Felyn tidak yakin bahwa ayahnya akan melupakan dirinya begitu saja bahkan ia sangat yakin suatu saat nanti ayahnya akan datang menjemputnya.


Anna sudah berkali-kali mengatakan bahwa jangan terlalu berharap dan mulai sekarang harus belajar menerima kenyataan tapi justru pendapat seperti itulah yang membuat Felyn semakin tertekan.


Tak terasa waktu terus berlalu dan Yura sudah harus menutup toko. Setelah itu ia menyerahkan uang hasil perjualan hari ini kepada Anna.


"Jangan langsung pulang dulu yah!" pinta Anna.


"Ada apa, Kak?"


Yura mengangguk dan mengikuti Anna setelah mengunci pintu toko. Di rumah tampak ibu Nadia sedang sibuk di dapur sendirian. Tanpa dikomando, Yura langsung turun tangan untuk membantu pekerjaan di dapur.


Ibu Nadia sangat senang karena pekerjaannya diringankan oleh Yura. Ia kagum dengan gadis ini yang rela menghabiskan waktunya untuk bekerja demi meringankan beban kedua orang tuanya. Sangat berbeda dengan anak seusianya di luar sana yang hanya bersantai dan bersenang-senang.


"Tolong panggil dulu Felyn di kamar!" kata Anna setelah melihat pekerjaan di dapur sudah kelar.


"Baik, Kak," sahut Yura. Ia mencuci tangan dan mengeringkan dengan lap bersih.


Perlahan ia mengetuk pintu kamar tapi tidak ada respon dari dalam hingga beberapa saat akhirnya ia mendorong pintu tersebut yang ternyata tidak terkunci lalu menghampiri Felyn yang berbaring dengan tatapan kosong.


"Yuk kita makan!" ajak Yura.


Felyn menggeleng kepala dengan tatapan yang tidak beralih sedikit pun.

__ADS_1


Yura jadi bingung menghadapi sikap Felyn. Ia duduk di tepi tempat tidur dan mengusap kepala Felyn dengan lembut.


"Boleh nggak saya pinjam ponselnya?" kata Felyn. Akhirnya ia membuka suara juga.


"Buat apa?" tanya Yura penuh selidik. Ia menduga bahwa anak ini pasti akan menghubungi ayahnya tapi nomor ayahnya sudah dihapus dari nama kontak yang ada di ponsel miliknya.


"Mau lihat-lihat aja," ucap Felyn.


Yura mengunci pintu kamar karena takut kepergok bahwa ia meminjakan ponselnya kepada Felyn.


Dengan lincah Felyn membuka aplikasi Facebook dan mencari nama ayahnya. Setelah menemukan, ia membuka foto-foto masa kecilnya dan memandangi sambil senyum-senyum. Yura jadi terharu melihatnya.


"Tok, tok, tok" suara ketukan di pintu membuat Felyn segera menyerahkan ponsel tersebut kepada Yura lalu kembali pada posisi semula. Berbaring dengan tatapan kosong.


"Hey, buka pintunya dong!" seru Anna


Yura bergegas membuka pintu dan tampak Anna sudah berdiri di sana.


"Ayo kita makan, oma dan opa sudah menunggu kita loh!" ajak Anna.


Felyn tirun dari tempat tidur dan tanpa ekspresi ia berjalan menuju ke meja makan.


Mereka menikmati makan malam dan hanya suara sendok yang beradu terdengar. Sesekali di antara beberapa pasang mata melirik kearah Felyn yang makan dengan sangat terpaksa.


"Saya tunggu besok di kamar, yah!" kata Felyn ketika Yura berpamitan untuk pulang ke kostnya.


Semua yang berada di situ saling berpandangan karena barusan lagi mendengar suara Felyn. Anna tersenyum senang dan mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Iya Sayang, tentu saja Yura akan datang dan kalian boleh nermain sepuasnya di kamar!" ucap Anna dengan senang.


"Iya, pulang dari sekolah saya langsung datang ke sini," ujar Yura untuk lebih meyakinkan Felyn.


Felyn membalas senyum Yura lalu kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Sementara itu pak Nico dan ibu Nadia masih duduk di ruang tengah untuk membahas masalah cucunya yang sudah beberapa waktu ini tidak masuk ke sekolah.


__ADS_2