
Dewi tak bisa lagi berkutik. Ia keluar dari rumah meninggalkan pak Hendrik yang juga sedang kebingungan. Tujuan utamanya untuk mendapatkan uang tidak tercapai karena tidak mungkin ia memintanya dalam keadaan genting.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga di tengah perjalanan mobilnya tiba-tiba mogok karena kehabisan bahan bakar. Dewi pusing karena tidak ada penjual di sekitar tempat tersebut. Ia mencoba menghubungi Johan tapi ponselnya juga mati.
Akhirnya ia berjalan mondar-mandir di bawah panas teriknya matahari.
Tak lama kemudian ada seorang tukang ojek yang lewat. Ia pun memanggil orang tersebut dan menyuruhnya untuk membelikan bensin. Dengan tergesa ia membuka dompetnya yang ternyata isinya hanya selembar uang pecahan lima puluh ribu.
Tukang ojek segera berlalu dan hanya dalam waktu beberapa menit saja ia sudah kembali dengan membawa bensin dua liter saja.
"Kok hanya segini?" tanya Dewi heran.
"Uangnya Mbak 'kan hanya lima puluh ribu rupiah, harga bensin dua puluh enam ribu, sisanya buat bayar saya sebagai tukang ojek. Jaman sekarang tuh, nggak ada gratis loh," ujar tukang ojek itu dengan sewot kemudian tancap gas meninggalkan Dewi.
Dewi masih terselamatkan karena mobilnya masih bisa tiba di rumah dengan modal bensin hanya dua liter. Dengan tergesa ia masuk ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar.
Belum hilang rasa capeknya, ponsel dalam tas kecilnya berdering. Segera diperiksa siapa gerangan yang menelepon. Nama ibu Since, pemilik rumah kontrakan tertera di layar ponsel. Dewi langsung paham bahwa ibu tersebut hendak menagih lagi sementara tak sepeser pun uang yang ia miliki sekarang. Akhirnya panggilan itu ia abaikan.
Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering, panggilan dari orang yang masih sama. Merasa terganggu dengan suara ponsel yang terus berisik, akhirnya ia mengusap layar ponsel tersebut.
"Kamu sengaja yah, nggak mau angkat telepon dari saya?"
"Maaf Bu, tadi aku lagi di kamar mandi, nih, baru aja keluar!"
__ADS_1
"Mana uang pembayaran kontrakan rumah, ini sudah lewat lagi dari janjimu. Kalau sampai tiga hari ke depan kamu nggak bayar maka saya tidak akan mengizinkanmu lagi tetap berada di situ. Asal kamu tahu yah, ada banyak orang yang antri ingin mengontrak rumahku!"
"Sabarlah Bu, mudah-mudahan nggak sampai tiga hari aku udah bisa bayar, kok!"
"Pegang itu omonganmu, kalau tidak, kamu udah tahu akibatnya!"
Ibu Since memutuskan sambungan teleponnya. Sementara itu Dewi semakin prustasi. Gajinya dari kantor untuk bulan ini tidak akan diterima pula karena ia sering tidak masuk bahkan kemarin dulu ia sudah mendapat surat peringatan dari pimpinan kantor.
Usaha menjual secara Online yang selama ini ia lakoni juga sudah tidak lancar karena ada banyak pelanggannya yang kabur lantaran kecewa dengan barang yang mereka terima tidak sesuai dengan pesanan.
Mobil yang ia miliki juga sampai saat ini belum lunas. Pembayarannya masih harus diangsur selama lima belas bulan. Dari mana ia harus mendapatkan uang? Pak Hendrik yang selama ini ia harapkan menjadi sumber keuangannya kini hidupnya juga sudah terancam.
Ibu Elma pernah menceritakan bahwa harta yang mereka punya adalah miliknya seutuhnya, termasuk bisnis yang sedang digeluti oleh suaminya.
Sore hari ibu Elma baru keluar dari kamar karena kepalanya makin pening dan ulu hatinya juga sudah pedis. Ia sama sekali belum makan siang karena terlanjur sakit hati.
Ketika ia membuka pintu kamar, hatinya bertambah kesal karena suaminya masih baring-baring di sofa dengan santai.
"Heyyy, kenapa masih di sini?" teriaknya dengan suara keras.
"Maafkan saya Bu, biar pun kamu mengusirku, saya tidak akan pernah pergi dari rumah kita ini karena saya sangat mencintaimu," sahut pak Hendrik seolah tanpa beban.
"Jangan omong cinta lagi di hadapanku karena terus terang saya sangat jijik mendengarnya. Sekarang, keluar dari rumahku, kalau dalam waktu sepuluh menit kamu masih di sini, saya akan menelepon tukang pukul ayahku supaya ke sini dan menyeretmu keluar!" seru ibu Elma dengan serius.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya tentang tukang pukul ayah mertuanya membuat pak Hendrik gemetar. Ia tahu bagaimana kebengisan mereka dan tidak tanggung-tanggung untuk melakukan perintah dari majikannya.
"Kamu pasti akan menyesal karena mengusirku dari rumah!"
"Apa? Menyesal? Sama sekali nggak! Justru saya akan terbebani jika masih membiarkan laki-laki sepertimu untuk tinggal di rumahku ini. Seorang laki-laki yang tidak tahu diuntung,"
Pak Hendrik meraih ponselnya di meja dan berniat mengambil kunci motor yang tergantung di dinding tapi secepat kilat dirampas oleh istrinya.
"Jangan coba-coba bawa sesuatu yang ada di rumah ini karena dulu kamu datang dengan tangan kosong jadi keluar juga dengan tangan kosong. Ini adalah risiko yang harus kamu tanggung karena sudah menyia-nyiakan cinta dan perhatianku yang tulus selama ini!"
Pak Hendrik tertunduk lesu mendengar perkataan istrinya. Bayangan masa lalunya seketika muncul di benaknya. Tetingat ketika ia menjadi gelandangan di pasar dan menjadi langganan ibu Elma untuk membantu membawa barang belanjaannya. Karena sering bertemu membuat ibu Elda jatuh cinta hingga bersimpuh di depan ayahnya untuk minta doa restu karena waktu itu ayahnya sangat marah dan menentang pilihan anaknya yang dianggapnya tidak selevel dengan derajat mereka.
Dengan langkah gontai ia keluar dari rumah. Kepalanya tertunduk menelusuri jalan raya, tak tahu mau ke mana arahnya.
Di tengah perjalanan ia kepikiran untuk ke tempat bisnisnya karena di sana ada ruangan pribadinya yang biasa digunakan untuk beristirahat. Namun kekecewaan kembali tergambar di wajahnya ketika tiba di sana karena bangunan tersebut tertutup rapat dan digembok. Rupanya ibu Elma sudah menghubungi karyawan agar segera menutup toko.
Pak Hendrik duduk sejenak di luar toko sambil memutar otak, kira-kira ia mau ke mana karena sudah hampir magrib. Mau ke rumah Eric, ia sudah memastikan bahwa anaknya itu tidak akan sudi membukakan pintu rumah baginya karena sudah tahu kelakuan ayahnya lewat video yang dikirim ibunya tadi siang.
Penyesalan selalu datang belakangan. Itulah yang dialami oleh pak Hendrik. Rasa lapar sudah menyerangnya, sementara ia tidak punya uang untuk membeli makanan. Ia teringat dengan kehidupannya yang sudah pernah merasakan kenyamanan hidup karena bebas mengatur keuangannya bahkan uang sejuta atau lebih tak pernah dipusingi oleh istrinya ketika ia menahan sebagian setoran hasil penjualan dari usaha bisnisnya.
Tadi ia sudah menyelipkan uang sebanyak satu juta lima ratus ribu rupiah di bawah pot bunga yang terletak di meja yang ada di kamar tamu dan rencananya akan diberikan kepada Dewi namun tidak sempat karena kepergok oleh istrinya.
Roda kehidupan terus berputar. Kini pak Hendrik benar-benar merasa berada di bawah dan tidak bisa bergerak. Ia benar-benar prustasi dengan musibah yang sedang menimpanya karena perbuatannya yang sudah di luar batas.
__ADS_1