
Eric dan Beni merasa bosan berada di mobil karena Anna dan Yura belum nongol juga akhirnya keduanya pun turun dari mobil dan menyusul ke toko yang tidak jauh dari tempat itu, namun baru beberapa langkah keduanya terpaksa putar balik haluan karena dari arah sana Anna dan Yura sudah muncul sambil menenteng barang belanjaannya yang lumayan banyak.
"Lama bangat sih, kami sampai bosan nungguin di mobii," ujar Beni.
"Maaf, namanya juga perempuan!" sahut Yura dengan santai.
Anna dan Yura memang cukup lama berada di toko tadi karena ada berapa buah tas yang mereka beli. Anna juga membelinya untuk dikirim kepada ibunya dan juga yang satu lagi buat ibu mertua.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke toko emas dan sepanjang perjalanan Anna tidak banyak bicara karena ia masih kepikiran dengan Dewi dan berharap bahwa perempuan itu sudah bertobat.
Ia sangat iba melihatnya tadi ketika ingin mengembalikan uang pembayaran tas karena lebih namun ditolaknya. Tampak matanya berkaca-kaca dan menyampaikan ucapan terima kasih secara berulang-ulang.
"Kita udah sampai, nih!" ujar Eric mengejutkan Anna.
Mereka turun dari mobil lalu memasuki salah satu toko emas.
Beni dan Yura memilih cincin belah rotan hingga mendapatkan yang pas di jarinya.
"Ayo Sayang, silahkan dipilih juga!" kata Eric yang melihat istrinya melamun saja sambil menunggu Yura.
"Nggak usah, Mas, saya sudah punya perhiasan emas, kok," sahut Anna.
Tahun lalu ia pernah datang ke toko ini bersama ibu mertua dan membeli satu set perhiasan emas. Ia masih ingat, waktu itu ibu mertua mengatakan bahwa anak mantunya harus tampil cantik apalagi kalau ikut kondangan, katanya harus pakai perhiasan emas. Waktu itu, uang yang dibawa oleh Anna tidak seberapa tapi ibu mertuanya ngotot harus membeli perhiasan emas satu set sehingga tanpa ragu ia menggunakan uang pribadinya untuk mencukupkan kekurangan yang ada. Anna jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat momen tersebut.
"Kali ini Mas yang mau belikan, Sayang," ucap Eric dengan serius.
Sebenarnya Anna enggan karena pikirnya, mau diapakan itu perhiasan, toh, ia sudah punya tapi untuk tidak mengecewakan suaminya maka ia pun mulai memilih perhiasan yang tampilannya sederhana saja.
__ADS_1
"Pilih yang satu set, Sayang!" kata Eric lagi.
Ia sangat kagum dengan sikap istrinya yang tidak gila-gila dengan perhiasan mahal dan selalu mau tampil apa adanya. Sangat berbeda dengan wanita lain yang sering ditemui di luar sana, ada yang menuntut suaminya untuk bekerja keras agar bisa membeli perhiasan sehingga sang suami tak jarang melakukan kejahatan karena tuntutan dari istri bahkan ada pula yang sudah seperti toko emas berjalan karena mengenakan perhiasan yang ukurannya besar-besar. Anehnya, bukannnya cantik dan menarik tapi malah sebaliknya, alias norak dan kampungan.
Anna memilih perhiasan yang kecil-kecil saja dan setelah ditotal semua, harganya tidak sampai sepuluh juta. Ia menolak ketika suaminya menawarkan perhiasan yang lainnya dengan alasan bahwa lebih baik uangnya disimpan saja dulu karena rencananya bulan depan ia akan membuka sebuah usaha yaitu menjual bunga hidup.
Sejak punya pembantu di rumah ia sudah mulai mengisi waktu luangnya dengan menanam bunga. Usaha ini tidak perlu banyak modal tetapi butuh ketekunan dan kerajinan. Setengah dari halaman yang kosong di samping rumah sudah dipenuhi dengan pot-pot bunga yang berjejer dengan rapi. Tinggal menunggu waktu sedikit lagi maka sebagian dari bunga tersebut sudah bisa di pasarkan.
Eric mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mencabut kartu ATM lalu membayar harga perhiasan menggunakan kartu tersebut.
Usai dari toko emas, rencananya mau langsung pulang namun Eric malah membelok mobilnya ke warung yang ada di pinggir jalan. Warung itu sangat sederhana dan hanya menjual bakso.
Orang-orang yang sedang berada di situ sangat heran ketika sebuah mobil mewah singgah karena pikirnya, mana ada orang kaya mau makan di warung kecil seperti ini. Mereka pun jadi pusat perhatian, apalagi dengan penampilan yang biasa-biasa saja dan seperti biasa mereka menyapa orang-orang di situ dengan ramah dan sopan disertai dengan senyum yang tulus.
Kebetulan ada meja yang kosong dan pas untuk empat orang. Mereka langsung mengisi bangku tersebut.
Tak perlu menunggu waktu yang lama, bakso panas sudah terhidang di hadapan mereka. Aromanya mengingatkan Anna ketika ia ngidam anak keduanya dulu. Ia sangat suka makan bakso dan terbawa hingga sekarang. Ketika keluar bersama suami, tidaklah lengkap jika tidak menikmati semangkuk bakso.
"Hhmmm..., makanan kesukaanku," seru Anna sambil tersenyum senang.
"Makanya Mas ngajak ke sini karena tahu selera istri," ucap Eric.
Beni dan Yura ikut merasa senang melihat kebahagiaan mereka. Tak lupa mereka mengabadikan momen itu, bukan untuk diumbar di sosmed tapi hanya untuk dikenang pada masa yang akan datang, entah kapan momen ini dapat terulang kembali.
"Terima kasih traktiranya!"
"Terima kasih, semoga rezekinya makin melimpah!"
__ADS_1
"Kami duluan, terima kasih sudah berbaik hati!"
"Besok-besok ke sini lagi, Bang!"
Anna, Beni, dan Yura melongo karena heran dan bingung melihat dan mendengar ucapan orang-orang yang sudah selesai makan bakso dan datang di hadapan mereka sambil mengucapkan terima kasih.
Hanya Eric yang terlihat santai dan tetap menikmati baksonya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum kepada orang -orang yang datang berterima kasih kepadanya.
Rupanya Eric sudah menyampaikan kepada pemilik warung bahwa hari ini ia ingin berbagi sedikit rezeki dengan para pelanggan yang kebetulan sedang berada di warung tersebut.
Anna baru paham setelah mereka selesai makan dan melihat Eric mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya lalu memberikan kepada si pemilik warung.
"Totalnya nggak sampai segini juga, Pak," kata bapak, pemilik warung itu.
"Ambillah, buat Bapak dan Ibu!" ucap Eric sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, Pak!" ujar mereka bersamaan.
Pemilik warung itu sangat senang karena dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan tulus.
"Sering-seringlah mampir ke sini, biar kami memberi bonus khusus!" kata istrinya
"Iya, nanti kami usahakan," sahut Anna mewakili.
"Hati-hati di jalan!"
"Terima kasih!"
__ADS_1