MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
54. Sudah Berubah


__ADS_3

Keesokan harinya Eric ke tempat kost Susi tapi kamarnya digembok. "Kemana yah, padahal ia belum sembuh?" gumamnya dalam hati.


"Cari siapa, Den?" tanya ibu kost yang datang menghampirinya.


"Cari Susi tapi sepertinya ia sedang keluar karena kamarnya terkunci dari luar," Jawab Eric.


"Ibu tahu Susi ke mana?" sambungnya pula.


"Kemarin sore dia dijemput oleh orang tuanya," ujar ibu kost.


"Ohhh, terima kasih informasinya Bu, saya permisi dulu!" Eric pamit lalu meneruskan perjalanan. Ia hendak ke rumah orang tuanya dan memperjelas tentang rencana mereka untuk menjemput Anna pada hari sabtu mendatang.


Keadaan rumah sangat sepi ketika Eric tiba di sana dan tak berselang lama ayahnya pun tiba. Ia baru saja pulang dari sekolah untuk mengantar istrinya.


"Sudah lama, Nak?"


"Baru aja tiba,"


Eric tidak langsung masuk ke dalam rumah saat diajak olah ayahnya karena ia begitu terpukau dengan kebun sayur yang ada di samping rumah. Tidak terlalu luas tapi menjadi sebuah pemandangan yang indah dengam tanaman sayur yang tampak segar. Pada bedengan yang lain terdapat tanaman lombok dan tomat yang juga sudah berbuah bahkan ada yang sudah mulai matang.


Melihat anaknya masih bersantai di luar, pak Hendrik datang menghampiri.


"Bagaimana menurutmu dengan kebun Ayah?"


"Sangat luar biasa dan patut untuk dijadikan sebagai contoh,"


Pak Hendrik tertawa mendengar pujian dari anaknya. Keduanya pun berkeliling mengintari bedengan-bedengan dan terlihat pak Hendrik sesekali menunduk untuk mencabut rumput liar yang tumbuh di sela-sela tanamannya.


Eric mengakui bahwa ayahnya telah berubah menjadi orang yang rajin dan perhatian kepada keluarga setelah mengalami masalah yang sangat fatal.


Bunga-bunga yang ada di taman dan di teras juga tertata dengan rapi sehingga memberikan kesegaran dan kesejukan. Semua ini kembali mengingatkan Eric kepada suasana rumahnya ketika Anna belum pergi. Anna juga pencinta tanaman hias dan sebagian waktunya dihabiskan untuk mengurus tanaman tersebut setelah semua urusan pekerjaan rumah telah selesai.


Setelah puas berkeliling untuk memanjakan mata dengan aneka tanaman segar, pak Hendrik dan Eric duduk di teras.


"Bagaimana dengan rencana kita untuk menjemput Anna?"


"Yah, kita akan berangkat hari Sabtu pagi dan tidak boleh ditunda-tunda lagi,"


"Oke, siap!"


Cukup lama keduanya bercakap-cakap tentang banyak hal hingga tak terasa sudah tiba waktunya bagi pak Hendrik untuk menjemput istrinya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau saya aja yang jemput ibu," tawar Eric.


"Boleh, ini kunci mobil!" sahut pak Hendrik sambil menyerahkan kunci mobil tersebut kepada Eric.


Tiba di sekolah, tempat ibunya mengajar ia langsung memutar kendaraannya karena ibunya sudah berdiri menunggu di gerbang sekolah.


Ibu Elma kaget melihat Eric ketika membuka pintu mobil.


"Kaget?" Eric terkekeh.


"Kenapa kamu yang menjemput ibu? Ayah ke mana?" tanya Ibu Elma.


"Kebetulan saya mampir ke rumah tadi jadi nggak salah 'kan kalau sekali-kali jemput Ibu?"


"Yah, nggaklah, malahan Ibu senang, loh!"


"Erika mana, Bu?"


"Biasanya dia selalu pulang bersama Angga, anak tetangga yang punya motor itu,"


"Ohh, jadi kita langsung berangkat, nih!"


"Iya,"


"Ini uangnya, Mbak!" ibu Elma memberikan selembar uang berwarna merah lalu cepat-cepat naik ke mobil.


"Bu, Bu, ini uang kembaliannya!" seru penjual gorengan.


"Nggak usah, buat ibu aja," sahut ibu Elma sambil tersenyum


"Terima kasih, Bu!"


"Sama-sama,"


Mobil bergerak setelah ibu Elma menutup kaca jendela. Dalam hati Eric merasakan kebahagiaan melihat ibunya yang sudah mulai peduli dengan orang lain. Sangat berbeda dengan sifatnya yang dulu, cuek dengan keadaan sekitar dan selalu menganggap dirinyalah yang paling benar.


Pak Hendrik menyambut kedatangan mereka dengan senyum bahagia.


"Tumben Kak Eric yang jemput Ibu," kata Erika yang baru juga tiba di rumah dan melihat kakaknya turun dari mobil.


"Iya nih, lagi pengen punya mobil sendiri juga, jadi belajar dulu nyetir mobil biar nantinya kalau mobilnya udah ada, Kakak sudah tidak diragukan lagi buat nyetir ke mana-mana,"

__ADS_1


"Beli dong, kirain Kakak udah punya banyak duit!"


"Dari mana kamu tahu kalau Kakak punya duit yang banyak


"Menurut teori yang pernah saya pelajari, orang yang berbisnis itu punya banyak uang bila dibanding dengan pengangguran,"


Semua yang berada di situ tertawa mendengar lelucon yang dibuat oleh Erika. Tentu saja pengangguran akan kalah karena ia tidak bekerja.


"Ada-ada aja kamu, Nak," kata pak Hendrik yang masih tertawa karena merasa lucu dengan ucapan anaknya.


Erika berlalu sambil bersenandung kecil. Ia tampak sangat bahagia. Kedekatannya dengan Angga membuat hatinya selalu berbunga-bunga.


Angga adalah anak tunggal dari pasangan pak Gideon dan ibu Arlin. Mereka sudah hampir satu tahun menjadi warga di kota ini setelah pindah tugas dari dari kota Jakarta. Ayahnya bekerja di BANK swasta dan ibunya bekerja di kantor pajak. Mereka sangat sibuk sehingga jarang bertemu dengan keluarga pak Hendrik sebagai tetangganya.


Erika satu kelas dengan Angga namun selama ini keduanya tidak akrab karena Angga sangat pendiam hingga suatu hari Angga memberanikan diri datang ke rumah Erika untuk meminjam soal PR karena ia sudah membongkar semua buku-bukunya tapi buku tempat mencatat soal tidak ditemukan. Kemungkinan besar buku itu tinggal di sekolah, sementara besoknya PR tersebut akan diperiksa.


Sejak saat itulah keduanya mulai berteman dan Angga menawarkan untuk selalu berangkat bareng ke sekolah, begitu pula saat pulang.


Mereka juga sering mengerjakan tugas dari sekolah secara bersama-sama dan sekarang Angga tidak hanya mengurung diri di kamar setelah pulang sekolah karena sudah punya teman.


Kemungkinan besar ia menjadi anak yang pendiam karena orang tuanya sangat sibuk dan biasanya akan tiba di rumah pada malam hari setelah Angga sudah tertidur pulas.


Selama ini Erika enggan menyapa Angga karena orangnya sangat tertutup. Ketika berada di sekokah pun ia sangat irit bicara dan selalu menyendiri tapi setelah akrab dengan Erika sedikit demi sedikit ia mulai berubah.


Pada jam istirahat, Erika selalu mengajaknya ke kantin sehingga teman-teman sekelas yang lainnya juga sudah ikut ngobrol dengannya.


"Ternyata Angga ganteng juga yah, kalau tersenyum," seorang teman kelasnya yang terbilang cerewet mengganggunya kala itu saat mereka sedang menikmati gorengan di kantin sekolah.


Awalnya Angga malu tapi Erika selalu memberinya semangat akhirnya lama-kelamaan ia sudah terbiasa mendengar ledekan dari teman-temannya yang bersifaf humoris.


Usai mengganti seragamnya, Erika datang bergabung ke meja makan karena semua sudah duduk di situ menanti kedatangannya untuk makan siang bersama.


"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta, nih!" goda Eric sambil senyum-senyum.


"Siapa yang sedang jatuh cinta?" tanya ibu Elma dengan matanya dikedipkan sebelah.ke arah Eric.


Sebenarnya Ibu Elma juga memperhatikan tingkah laku putrinya akhir-akhir ini dan ia dapat menduga bahwa anak gadisnya ini sedang jatuh cinta.


"Oh, yah, Ayah juga ingin tahu, siapa sih yang sedang jatuh cinta selain Ayah yang setiap saat jatuh cinta sama Ibu," ujar pak Hendrik sambil terkekeh.


"Ayo ngaku, Dek!" goda Eric lagi membuat wajah Erika bersemu merah.

__ADS_1


"Apa-apaan sih!" sahutnya lalu mengisi piringnya dengan nasi dan lauk serta sayur sambil senyum-senyum.


Suasana yang akrab membuat hati mereka senang.


__ADS_2