MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
27. Hari Pernikahan Sang Kakak


__ADS_3

Pernikahan Andi dengan Mariam akan segera digelar. Sudah beberapa hari ini tampak ada kesibukan di rumah pak Mardi dan tenda terowongan juga sudah terpasang bahkan saat ini sudah sementara di dekor.


Pak Niko dan ibu Nadia sudah menginap di rumah lama mereka untuk melakukan pembenahan karena keluarga akan menginap di sana sedangkan Anna masih menjual di toko.


Andi juga sudah datang dari Irian tiga hari yang lalu karena ada beberapa hal yang harus diurus sehubungan dengan persiapan pernikahannya. Ia sangat senang melihat adiknya yang tampak bersemangat mengurus toko.


"Besok kamu harus tampil cantik di acara pernikahanku!" kata Andi menggodanya.


"Iya dong," sahut Anna sambil tersenyum.


"Kakak yakin pasti ada yang mengira bahwa kamu masih gadis,"


"Kakak bisa aja,"


Keduanya tertawa dan terlihat sangat bahagia dan sore itu juga mereka berangkat ke rumah yang lama menggunakan mobil baru milik Andi. Tak lupa Anna mengajak Yura ikut serta karena kebetulan besok adalah hari cuti bersama.


"Saya mau duduk di belakang sama Kak Yura," kata Felyn.


"Boleh, silahkan naik Sayang!" ucap Anna dengan lembut.


Yura menggandeng tangan Felyn dan naik ke mobil mewah tersebut lalu duduk di kursi tengah. Sementara itu Anna duduk di depan, samping kakaknya yang sedang menyetir.


Di rumah yang banyak mengukir kenangan itu, sudah ada banyak keluarga dari tempat yang jauh sudah berkumpul dan mereka sangat senang bisa bertemu satu dengan yang lain untuk ikut mendukung kebahagiaan keluarga pak Nico dengan ibu Nadia.


Suara riuh terdengar dari sanak keluarga yang berasal dari kampung. Mereka sangat mengagumi keberhasilan Andi yang sudah berhasil membangun rumah untuk kedua orang tuanya dan juga telah mampu membeli sebuah mobil mewah yang harganya mencapai kurang lebih lima ratus juta rupiah. Bahkan menurut kabar, ia juga sudah punya rumah di Irian yang akan dihuni setelah menikah.


Sikap Andi selalu merendah mendapat pujian dari kerabatnya. Ia memang tergolong anak yang baik dan tidak sombong sehingga punya banyak teman.

__ADS_1


Keesokan harinya, Andi diantar oleh sanak keluarga ke rumah pengantin perempuan. Terlihat Anna sangat cantik dengan gaun berwarna kuning keemasan melekat di tubuhnya. Ia berjalan mendampingi kakaknya untuk menjemput Mariam, calon istri yang masih berada di dalam kamar pengantin.


Tidak lama kemudian pasangan pengantin sudah keluar dari rumah dan berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan menuju ke pelaminan. Semua pasang mata para tamu undangan mengagumi keserasian Andi dan Mariam.


"Hemm, pengantinya sudah sama-sama dewasa," komentar salah seorang tamu.


"Iya, dan keduanya sangat serasi. Gagah dan cantik!" timpal yang lain.


Andi dan Mariam berjalan dengan anggun. Senyum manis tak pernah lepas dari wajah mereka berdua menambah rasa kagum para tamu undangan.


Andi dan Mariam sudah duduk di pelaminan ketika Johan sahabatnya muncul dan kehadirannya membuat Andi sangat gembira karena mereka sudah lama sekali tidak pernah bertemu. Johan dan Andi bersahabat sejak duduk di bangku SMA dan persahabatan itu masih berlanjut ketika masuk di perguruan tinggi karena masih memilih jurusan yang sama, hingga mencapai gelar sarjana. Sejak saat itu keduanya berpisah karena Andi pergi mencari pekerjaan ke luar pulau sedangkan Johan memilih bekerja di kota yang agak dekat lantaran kedua orang tuanya yang tidak boleh ditinggalkan terlalu jauh karena sering sakit-sakitan.


Sejak berpisah keduanya tidak pernah lagi bertemu namun komunikasi tetap lancar bahkan undangan pernikahan Andi saat ini hanya dikirim melalui email saja.


Andi tersenyum melihat Johan datang tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang perempuan cantik dengan rambut lurus, panjang sebahu. Perempuan tersebut mengenakan gaun berwarna merah maron yang panjang. Sangat serasi dengan kemeja yang dikenakan oleh Johan yang juga berwarna merah maron bercorak garis warna putih di bagian dada sebelah kiri.


***


Eric sudah tiba di kota B. Dengan semangat ia segera melajukan motornya ke alamat yang diberikan oleh Susi. Tiba di sana ia kembali mencocokkan alamat sambil menatap layar ponselnya. "Jalan Mawar nomor tiga. Tidak salah lagi," gumannya dalam hati.


Ia pun memarkir kendaraannya di pinggir jalan lalu mendekati pagar rumah tersebut yang terkunci dengan rapat.


"Permisi... permisi!" serunya dengan suara agak keras dan berharap akan kedengaran oleh penghuni rumah.


Suasana sepi. Tiba-tiba Erik melihat tulisan "TUTUP" pada toko yang berada di samping rumah. Ia menarik nafas dengan pelan san menghembuskan dengan kasar. Ada niat untuk bertanya kepada tetangga yang ada tapi pagar mereka pun terkunci dan tak satu pun orang yang dilihatnya berada di rumah tetangga.


Eric merasa sangat kecewa. Ia melajukan motornya untuk mencari rumah makan terdekat karena perutnya sudah keroncongan.

__ADS_1


Sebelum mencari rumah penginapan ia kembali menyempatkan diri singgah di alamat yang diberikan oleh Susi untuk mengecek siapa tahu penghuni rumah sudah datang.


"Permisi Bu, yang punya rumah di sebelah kira-kira ke mana yah?" tanya Eric dengan sopan kepada seorang ibu yang kebetulan sedang menutup pagar rumahnya.


"Mereka sedang keluar untuk mengantar salah seorang anaknya yang mau menikah," jawab ibu tersebut.


Eric kaget mendengar jawaban dari ibu itu. "Jangan-jangan Anna yang akan menikah lagi," desisnya dalam hati.


"Oh, iya,Bu, terima kasih informasinya!"


"Sama-sama, Den,"


Eric berlalu dengan perasaan yang tak menentu. Dalam hati ia berpikir bahwa Anna benar-benar sudah melupakan dirinya karena terlalu percaya dengan hasutan dari ibunya bersama Dewi.


Sementara itu di rumah pak Mardi sudah sangat ramai oleh para tamu undangan dan kerabat dekat yang datang mendukung acara pernikahan antara Mariam dengan Andi.


"Kak, sepertinya saya mengenal perempuan itu," kata Susi sambil menunjuk ke arah Anna yang sedang berdiri tak jauh dari tempat duduk Johan dan Susi.


Sontak Johan menoleh ke arah yang ditunjuk oleh kekasihnya dan memperhatikan dengan saksama perempuan itu. "Itu 'kan Anna, adiknya Andi," gumamnya dalam hati. Ia mengenalnya karena dulu sering bertemu ketika datang ke rumah Andi dan Andi selalu menyuruh adiknya itu untuk membuatkan kopi buat mereka berdua.


"Kamu kenal sama Anna?" tanya Johan.


"Kakak mengenalnya?" Susi balik bertanya dengan kedua alisnya naik.


"Perempuan itu bernama Anna, adiknya Andi," jawab Johan membuat Susi terperangah. Ia tak menyangkah bisa bertemu dengan istri Eric di tempat ini.


Susi menceritakan mengapa bisa mengenal Anna walaupun ia hanya mengenalnya lewat Fecebook dan tak lupa juga ia menyinggung tentang pergumulan rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Cerita keduanya terjeda karena acara inti dari pesta pernikahan Andi dan Mariam telah tiba yaitu pemotongan kue pengantin yang akan dipandu oleh ibu Rika.


__ADS_2