
Sudah tiga hari Eric tidak masuk kantor karena harus menjaga istrinya di rumah sakit yang sampai saat ini masih terbaring lemah bahkan kondisinya semakin memprihatinkan.
Eric menghubungi mertuanya yang tinggal di kota B agar datang untuk menggantikan dirinya menjaga Anna karena ia harus masuk kantor.
Keesokan harinya pak Nico dan ibu Nadia tiba di kota A. Keduanya sangat panik ketika mendapat kabar dan semalam langsung berangkat.
Ibu Nadia mencucurkan air mata melihat kondisi anaknya yang sangat lemah.
Hari itu Eric sudah bisa masuk kerja karena sudah ada mertuanya yang menggantikan dia untuk menjaga Anna. Sebelum ke kantor ia menyempatkan diri ke rumah ibunya untuk menjenguk Felyn.
"Anakmu hanya satu malam di sini dan kembali lagi ke rumah Dewi," kata ibu Elma ketika Eric tiba di sana.
"Kenapa Ibu membiarkan Felyn pulang ke rumah Dewi? Harusnya Ibulah yang menjaganya!" ucap Eric dengan kecewa.
"Maaf Nak, Ibu sudah berusaha membujuk Felyn agar mau tinggal di sini tapi ia malah menangis. Menurut Ibu, Dewi memang sangat cocok untuk menjadi ibu buat Felyn," kata ibu Elma tanpa merasa bersalah.
***
Sudah seminggu pak Nico dan ibu Nadia berada di kota A namun keadaan Anna belum juga membaik sehingga mereka berencana untuk membawanya ke kota B dan akan mengusahakan pengobatan tradisional.
Dokter juga tidak bisa mencegah keinginan kedua orang tua Anna untuk mengeluarkan anaknya dari rumah sakit karena pihaknya juga tidak bisa berbuat banyak untuk menangani penyakit yang diderita oleh Anna.
Eric mengalah saja karena tidak bisa berbuat apa-apa, juga ketika kedua mertuanya meminta agar mengikutsertakan cucunya.
Hari itu juga mereka berangkat ke kota B menggunakan mobil sewaan. Eric tidak bisa mengantar mereka karena bertepatan dengan kegiatan kantor yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan.
"Hati-hati di jalan!" ucap Eric sambil mencium kening istrinya dengan mesra dan juga memeluk putrinya.
"Felyn jangan nakal di sana yah dan tolong jaga mama biar cepat sembuh!" katanya lagi sambil mencium pipi anaknya.
Anna hanya mampu meneteskan air mata karena ia tidak kuat walau hanya untuk mengucapkan dua, tiga kata.
Mobil pun bergerak meninggalkan pekarangan rumah tersebut. Eric merasa sedih karena tidak bisa mengantar istrinya tapi ia berjanji dalam hati untuk menyusul istrinya ke kota B pada akhir pekan mendatang.
Tanpa ia sadari ada dua pasang mata yang sedang mengawasi dirinya dari balik jendela tetanggga. Siapa lagi kalau bukan ibu Elma dengan Dewi yang sedang bertepuk sorai atas kepergian Anna yang dianggap sebagai penghalang untuk melancarkan rencananya.
__ADS_1
Ibu Elma dan Dewi sedang menyusun rencana yang akan dilakukan untuk bisa meyakinkan Eric tentang cinta mereka yang masih bisa dipersatukan kembali.
"Gimana kalau nanti malam Tante undang Eric ke rumah biar kami bisa ketemu di sana?" usul Dewi.
"Ide yang bagus. Nanti saya kirim pesan jika Eric sudah berada di rumah!" kata ibu Elma bersemangat.
Sebelum ibu Elma pulang ke rumahnya, terlebih dahulu Dewi mengajak dia ke warung Mak Jejen untuk makan bakso. Warung ini selalu ramai oleh pengunjung karena letaknya strategis dan baksonya sangat enak. Para pelayannya juga sopan dan ramah berkat ajaran dari sipemilik warung tersebut yang juga terkenal baik dan peramah.
Kemarin Dewi mendapatkan uang dari Johan sehingga ia malas lagi masak di dapur dan lebih memilih makan di luar. Hal ini juga yang membuat ibu Elma senang dan berharap agar Dewi bisa jadi mantunya.
Usai makan bakso, Dewi memesan lagi dua porsi bakso untuk pak Hendrik dan Erika.
Ibu Elma tersenyum bahagia karena tak sepeser pun uangnya keluar, semuanya dibayar oleh Dewi.
"Terima kasih, Tante sudah merepotkanmu, Nak!" ucap ibu Elma ketika turun dari mobil saat tiba di depan rumahnya.
"Sama-sama, Tante. Saya permisi dulu!" kata Dewi lalu memutar balik mobilnya.
"Jangan lupa nanti malam yah!" seru ibu Elma sambil melambaikan tangan.
Di dalam rumah Erika sudah menunggu ibunya karena ia tahu pasti ada sesuatu makanan yang dibawanya.
"Kak Dewi, orangnya baik bangat!" kata Erika yang langsung menyantap bakso dengan nikmat.
"Iya Nak, makanya Ibu ingin jadikan dia sebagai menantu biar kita selalu makan enak," ucap ibu Elma dengan senyum.
"Gimana dong dengan kak Anna?" seru Erika dengan mulut dimonyongkan karena kepedisan.
"Dia udah dijemput oleh orang tuanya, lagi pula buat apa dia tinggal di sini terus kalau hanya mau merepotkan kakakmu. Kakakmu itu kerja loh, bukan mau ngurus orang sakit," sahut ibu Elma.
"oh, ya,"
Erika kembali manikmati baksonya dengan lahap hingga keringatnya berjatuhan.
Tak lama kemudian pak Hendrik juga datang. Ia baru pulang dari tokonya untuk memantau para pekerja.
__ADS_1
"Ehhh, ada bakso... kebetulan saya sedang lapar nih!" ucapnya dengan senang. Ia memang sangat doyan makan bakso tapi enggan beli pakai uang sendiri, maunya gratisan.
"Makanya Ayah sekali-sekali dong beliin bakso buat kita-kita di rumah! Masakan kalah ama kak Dewi!" kata Erika dengan senyum sinis. Ia sengaja ngomong demikian karena ayah dan ibunya sangat pelit. Mereka selalu perhitungan sehingga tidak pernah menikmati uang hasil kerjanya. Entah sudah berapa banyak tabungannya di Bank. Erika kadang kala bingung melihat kedua orang tuanya yang selalu ingin makan makanan enak tapi tidak mau berkorban.
"Sabar Nak, besok-besok Ayah ajak kalian makan bakso di warung Mak Jejen!" ucap pak Hendrik.
Erika tersenyum miring mendengar ucapan ayahnya karena entah sudah berapa kali ia mengatakan hal yang serupa namun semua hanya janji yang manis dan lebih tepatnya sering anak-anak zaman sekarang menyebutnya dengan istilah Pemberi Harapan Palsu ( PHP).
"Ehh, Ayah sudah pulang," sapa ibu Elma yang baru saja keluar dari.kamar untuk mengganti seragam dinasnya dengan pakaian rumah.
"Iya Bu, apa benar bakso ini adalah pemberian Dewi?" tanya pak Hendrik dengan penasaran.
"Benar Ayah dan sebentar malam Dewi akan main ke sini," sahut ibu Elma.
Wajah pak Hendrik seketika berbinar-binar. Ia sangat bersemangat mendengar kabar tersebut. Bayangan Dewi yang genit menari-nari di pelupuk matanya. Ia pun mulai membayangkan penampilan Dewi yang sangat seksi. Tanpa sadar ia senyum-senyum dan tak sabar lagi untuk menanti malam segera tiba.
Sejak sore hari pak Hendrik sudah mulai mempersiapkan diri mulai dari mandi, berpakain rapi, dan menyemprot tubuhnya dengan parfum.
"Ayah mau ke mana?" tanya Elma karena heran melihat penampilan sang suami yang sepertinya hendak bepergian.
"NggK ke mana-mana," sahut pak Hendrik dengan santai.
"Tapi kok, rapi benar?" ucap istrinya dengan segudang pertanyaan di kepalanya.
"Memangnya nggak boleh rapi-rapi kalau di rumah?"
"Bukan begitu maksudnya tapi saya heran saja karena Ayah tidak biasanya serapi ini jika di rumah aja,"
Pak Hendrik berjalan menuju ke teras dan meninggalkan istrinya yang masih bingung. Ia duduk-duduk santai sambil membayangkan bagaimana Dewi kala itu menggoda dirinya. Ia berharap nenti malam hal serupa akan terulang kembali.
Menjelang malam Eric tiba di rumah orang tuanya untuk memenuhi undangan makan malam dari ibunya karena kebetulan tidak ada apa-apa di rumah. Kedatangannya membuat ibunya senang.
Eric tampak kurang bersemangat karena selalu kepikiran dengan istrinya yang mungkin saat ini masih dalam perjalanan karena jaraknya memang jauh namun kedua orang tuanya sama sekali tidak peduli dengan keadaan Anna. Menanyakan kabarnya saja tidak pernah. Hal ini membuat Eric berkecil hati dan rasanya ingin langsung balik ke rumah.
Sementara itu bu Elma menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada Dewi dan tak lupa juga minta untuk dibelikan gorengan di pinggir jalan sebelum ke rumah.
__ADS_1