
Anna berdiri di depan kamar mandi dengan perasaan khawatir mendengar suara Susi yang muntah-muntah tapi pintunya terkunci.
"Apakah kamu baik-baik saja, Sus?" seru Anna dengan panik.
Seruan Anna tidak kedengaran bagi Susi karena suara air dari kran yang sengaja dibuka secara pul untuk mengimbangi suaranya saat berkuat karena rasa mual.
"Susi! Susi! Apakah kamu mendengar suaraku?" seru Anna lagi sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Susi keluar dengan wajah yang pucat pasi.
"Apakah kamu baik-baik, aja?" tanya Anna sambil memegangi lengan Susi dan menuntuntunnya ke tempat duduk.
"Iya, saya baik-baik aja," sahutnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Apa gara-gara pisang goreng itu yang membuatmu muntah-muntah?" tanya Anna lagi karena penasaran. Ia berpikir bahwa pisang yang dimakan oleh Susi tadi beracun tapi kenapa dirinya yang ikut juga menikmati pisang tersebut saat ini dalam keadaan baik-baik saja.
Anna masuk ke kamar untuk mengambil minyak angin lalu memberikan minyak angin tersebut kepada Susi untuk dioleskan pada perutnya.
"Istirahatlah dulu di kamar, mungkin kamu masuk angin setelah menempuh perjalanan yang jauh!"
Susi mengangguk. Pelan-pelan ia berdiri dan masuk ke kamar yang sudah disiapkan oleh tuan rumah untuknya. Anna menyelimutinya dengan selimut bulu yang tipis.
"Istirahatlah, saya tinggal sebentar ke dapur dan kalau ada apa-apa, panggil saja!"
Susi mengangguk lalu memenjamkan matanya. Ia merasa lemas setelah berkuat untuk memuntahkan isi perutnya dan saat ini kepalanya juga mulai lagi nyut-nyut. Ia tampak gelisah namun tidak kuat lagi untuk bangun karena tenaganya sudah habis terkuras.
Satu jam kemudian Anna datang membawa makanan yang telah diolahnya, namun baru saja ia meletakkan makanan tersebut, Susi merasa mual lagi.
"Maaf, saya tidak tahan dengan bau bawang!" ucap Susi sambil memencet hidungnya.
"Oh, yah, maaf, saya tidak tahu kalau kamu tidak suka dengan bawang!" sahut Anna dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, maaf sudah merepotkan! Sebenarnya saya... saya... lagi...," Susi tidak melanjutkan ucapannya karena air matanya sudah membanjiri pipinya.
"Ada apa Susi? Cerita dong kalau kamu ada masalah!" ujar Anna yang semakin penasaran.
"Saya hamil,"
"Hamil?"
Susi mengangguk.
"Kenapa harus bersedih kalau hamil? Justru kamu harusnya senang karena tidak lama lagi akan punya anak,"
"Tapi saya belum menikah,"
"Astaga! Yang benar?"
Anna sangat kaget mendengar pengakuan Susi karena sangkahnya sahabatnya itu sudah menikah, maklum mereka sudah lama putus kontak sehingga wajar saja jika Anna berpikiran demikian.
"Johan, tapi yang jadi masalah karena saat ini kami bukan lagi pasangan kekasih. Dia sudah banyak berubah dan sering menyakitiku sehingga waktu itu saya memilih pergi dari kehidupannya. Sekarang saya bingung, apa yang harus kulakukan?" tutur Susi. Ia menangis tersedu-tersedu membuat Anna ikut sedih.
"Tenanglah, nanti kita cari solusi yang baik!" kata Anna sambil mengelus-elus pundak sahabatnya dengan lembut.
"Saya tidak yakin bahwa Johan mau bertanggung jawab," ucap Susi tanpa semangat.
"Namanya juga usaha, kita nggak boleh menyerah duluan, yang terpenting sekarang ini kita cari dulu Johan dan menyuruhnya untuk segera menemui kedua orang tuamu!" ujar Anna dengan bijak.
Anna mengambil kembali makanan yang dibawanya tadi lalu menuju ke dapur karena melihat Susi menutup hidung padahal ia sudah menyiapkan dengan sepenuh hati.
"Selamat siang istriku yang cantik!" sapa Eric.
Anna yang sedang merapikan perbotan dapur menyambut sang suami yang baru pulang dengan senyum termanisnya.
__ADS_1
"Tumben Mas cepat pulang,"
"Iya, nih, lagi rindu sama kamu, Sayang,"
Anna kembali tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia mengajaknya ke teras samping rumah dan menceritakan pergumulan hidup yang sedang dialami oleh Susi.
"Dia sudah datang?"
"Iya Mas, sekarang ada di kamar dan sedang istirahat soalnya tadi ia selalu muntah-muntah,"
Eric dan Anna sengaja berdiskusi di teras samping rumah agar tidak memgganggu Susi yang sedang istirahat.
Keduanya membuat rencana untuk menemui Johan nanti sore dan berharap yang beesangkutan ada di rumahnya.
Setelah itu, Anna menyiapakan makan siang dan Eric pergi menjemput anaknya ke sekolah.
Setelah masakannya siap dan Eric bersama Felyn juga sudah pulang, Anna menemui Susi di kamar untuk mengajaknya makan bersama tapi ia tidak tega membangunkan sahabatnya itu karena tidurnya sangat pulas.
Akhirnya mereka makan bertiga saja dan seperti biasa Eric akan memuji masakan istrinya yang selalu memanjakan lidah. Anna tersipu malu mendengar pujian dari suaminya.
Felyn sangat senang melihat kebahagiaan yang dialami oleh kedua orang tuanya. Walaupun ia masih kecil tapi ia sudah bisa merasakan, terlihat dari wajahnya yang berbinar dan penuh semangat. Tidak seperti dulu lagi ketika orang tuanya masih terpisah, ia selalu murung dan tak punya gairah hidup.
"Ayo, makan sayur juga Nak, biar otaknya cerdas!" kata Anna karena melihat piring yang ada di depan anaknya hanya berisi nasi dan tahu sambal.
Felyn menyendok sayur ke piringnya. Sebenarnya ia tidak suka makan sayur tapi ibunya selalu mengingatkan akhirnya ia memaksakan diri walau hanya sedikit saja, yang penting sudah ada. Ia juga tidak suka makan ikan dan lebih cenderung makan tahu atau tempe jika tidak ada daging.
"Nah, begitu dong, anak Mama yang pintar," Anna memberikan pujian kepada anaknya.
"Siapa dulu dong Papanya!" sambung Eric.
Mereka pun tertawa lepas lalu melanjutkan kegiatan makannnya.
__ADS_1