
Johan heran melihat istrinya yang menurutnya cepat sekali pulang dari yang ia perkirakan. Biasanya kalau perempuan pergi bersama temannya untuk berbelanja itu terkadang lupa waktu tapi belum juga sore, Susi sudah tiba di rumah.
Karena penasaran ia meninggalkan pekerjaannya sejenak dan pergi menemui istrinya.
"Cepat bangat pulangnya, ada apa yah?"
"Iya Mas, tadi ada pelanggan yang menelepon, katanya mau datang ke sini jadi saya cepat pulang, lumayan loh kalau ada lagi pemasukan,"
"Kirain ada masalah, yah udah, Mas balik kerja dulu!"
Susi tersenyum senang. Ia merasa hidupnya sangat berarti karena Johan begitu perhatian kepadanya.
Setelah suaminya pergi, Susi membawa Kenzo ke kamar karena ia sudah tidur dalam gendongannya. Mungkin ia lelah setelah setengah hari menghabiskan waktu bermain bersama Krisna.
"Selamat siang!" suara seseorang terdengar dari luar. Susi melangkah dengan pelan meninggalkan kamar dan keluar untuk menemui orang tersebut.
"Selamat siang!" balasnya dengan ramah.
"Ka... kamu... Susi 'kan?"
"Dewi?"
Dewi tertunduk dengan perasaan yang berkecamuk.
"Maaf, mungkin aku balik saja ya!"
"Memangnya ada apa?"
"Aku ini kotor dan tidak mungkin kamu mau menyentuhku, aku tahu, aku telah sangat berdosa kepadamu, maafkan aku!"
"Masa lalu biarlah berlalu, ayo masuk!"
Dewi masih berdiri kaku di tempatnya sehingga Susi menghampiri lalu mengajaknya masuk. Dewi mengikuti langkah Susi namun hatinya deg-degan, ia khawatir bahwa Susi bisa saja ingin balas demdam kepadanya. Keringat pun mulai mengucur di tubuhnya.
__ADS_1
"Kak Dewi tadi yang meneleponku dan mau smoothing rambut?" tanya Susi dengan ramah.
Dewi menganggukkan kepala tapi ia belum berani menatap wajah susi.
"Santai aja, Kak!" ujar Susi lagi karena melihat wajah Dewi berkeringat padahal berada dalam ruangan yang ber-AC.
Dewi menarik nafas dengan berat. Hatinya sudah agak tenang karena sikap Susi yang ramah namun dalam lubuk hatinya ia bergumam, sekalipun jika Susi punya niat untuk balas dendam dan akan menyakiti dirinya maka ia pun sudah pasrah.
Ia lalu duduk di kursi empuk yang sudah disiapkan lalu Susi segera mengerjakan rambutnya sesuai dengan permintaan nya.
"Sekarang Kak Dewi tinggal di mana?" tanya Susi pura-pura tidak tahu.
Dewi menyebutkan alamat rumah tempat usahanya dan tanpa diminta ia mulai menceritakan usaha yang sedang ditekuni saat ini.
"Aku minta maaf sekali lagi atas perbuatanku di masa lalu. SekarangTuhan sudah membuatku sadar setelah cobaan-cobaan berat datang silih berganti dalam kehidupanku. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada orang-orang yang pernah menjadi korbanku!" tutur Dewi dengan serius setelah rambutnya selesai dismoothing.
"Baiklah, semoga Kakak akan selalu sehat dan kuat menjalani kehidupan selanjutnya!" ujar Susi.
"Amin, sekali lagi terima kasih, saya pamit dulu!" ucap Dewi setelah memberikan uang pembayarannya kepada Susi.
"Eh, eh... maaf!"
"Kamu? Mau apa datang ke sini? Mau merayuku lagi?"
Dewi menatap Johan dengan mata berkaca-kaca.
"Tolong maafkan aku agar hidupku bisa tenang!"
Dewi berlutut di lantai sambil momohon-mohon agar Johan mau memaafkan dirinya.
"Mas, tidak ada salahnya kita memberi maaf kepada Kak Dewi, dia itu sudah bertobat dan mau berubah. Dengan berbuat seperti itu maka yakinlah pintu rezeki akan terbuka lebar dalam kehidupan kita," tutur Susi dengan lembut membuat emosi Johan secara perlahan mulai surut.
"Ayo, bangun! Saya sudah memaafkan kamu tapi ingat, jangan jadi pelakor lagi!" kata Johan.
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih!" ucap Dewi lalu bangkit. Ia menyeka air matanya yang sudah meleleh di pipi. Rasa haru dan bahagia membuat hatinya tenang.
Ia pun berlalu. Beban hidupnya terasa berkurang setelah kata maafnya diterima oleh orang-orang yang pernah ia sakiti.
"Kok, pelakor itu bisa ada di sini?" tanya Johan setelah Dewi pergi.
"Namanya Dewi, Mas, bukan pelakor, dia hanya pelanggan seperti orang lain pada umumnya. Tadi ia sangat gugup dan panik setelah bertemu dengan saya bahkan ia sempat membatalkan untuk nyalon tapi saya ngomong baik-baik sehingga ia pun masuk. Saya sampai bosan mendengar perkataan maaf yang berulang-ulang keluar dari mulutnya. Sebenarnya kemarin itu saya bersama Anna belanja di tokonya tapi dia tidak mengenali kami karena kami sengaja mengenakan masker dan kaca mata tapi tadi saya berpura-pura seolah barusan bertemu," tutur Susi panjang lebar.
"Dia punya toko? Mungkin kalian salah deh, bisa jadi dia hanya bekerja sebagai karyawan di toko tersebut," ujar Johan ketus karena kurang percaya.
"Iya, toko itu adalah miliknya dan Anna tahu informasi tersebut dari pihak rumah sakit jiwa tempat Dewi dirawat dulu," Susi menjelaskan dengan serius.
"Yah, udah, buat apa juga membahas tentang dia. Toh, bukan urusan kita," ucap Johan dengan nada kurang senang.
Bayangan masa lalu yang hampir saja memisahkan dirinya dengan Susi membuat hatinya panas saat melihat perempuan itu. Mengingatnya saja ia enggan apalagi bertemu langsung. Eh, tiba-tiba saja perempuan itu berada di rumahnya. Mana ia bisa terima.
Suara Kenzo yang berseru memanggil nama ibunya menghentikan percakapan mereka. Susi bergegas ke kamar untuk menemui anaknya sedangkan Johan kembali ke tempat kerja. Ia lupa apa tujuan utamanya datang ke rumah untuk mengambil catatan yang diberikan oleh Eric kemarin. Kertas itu berisi ukuran meja pesanan dari sekolah yang baru dibuka di kota tersebut.
"Mana catatannya?" tanya Pak Jasmin.
"Waduhhh!" Johan menepuk jidatnya.
Ia pun memutar haluan membuat pak Jasmin tertawa.
Susi juga menertawakan dia ketika tahu mengapa ia kembali lagi ke rumah.
"Makanya Mas, jangan selalu marah-marah dan menyimpan rasa dendam," ujar Susi meledek suaminya.
"Iya, iya, harusnya kamu juga bersyukur kalau Mas benci sama si pelakor, itu tandanya cinta Mas hanya buat sang istri," kata Johan tak mau kalah.
"Terima kasih atas cintanya, Mas!" ucap Susi sambil tersenyum.
Johan mencubit pipi anaknya dengan gemas kemudian tangannya berpindah ke pipi istrinya membuat Susi tertawa dengan tingkah lucu suaminya itu.
__ADS_1
"Ayah ke sebelah dulu yah, Nak!"
"Dadada....,"