MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
76. Sepenggal Cinta


__ADS_3

Kamar pengantin yang disiapkan buat Johan dan Susi juga sangat sederhana walaupun Johan sudah memberikan sejumlah uang kepada kedua orang tua Susi tetapi mereka tidak menggunakan semuanya.


Duduk sekian jam dalam keadaan hamil membuat Susi merasa sangat lelah. Ia langsung berbaring di tempat tidur setelah mengganti pakaian pengantin yang membuatnya sesak dan susah bernafas dengan pakain longgar.


"Jangan tidur dulu, Sayang! Ayah dan ibu sedang menunggu kita di ruang makan," kata Johan.


"Saya sangat lelah, Mas duluan, aja," kata Susi sambil menutup matanya.


"Nggak boleh begitu dong, Sayang, entar bayi kita nangis loh karena lapar," bujuk Johan lagi.


Meskipun malas bangun tetapi mendengar bujukan Johan akhirnya ia bangkit juga lalu berjalan menuju ke ruang makan di mana orang tuanya sudah menunggu mereka.


Melihat putrinya yang tampak pucat dengan perut yang sudah mulai membuncit maka tahulah pak Zeno bahwa anaknya sudah hamil. "Pantas selama ini, istriku sangat gelisah, rupanya anak gadisnya sedang dalam masalah," gumamnya dalam hati.


"Ayo makan yang banyak, Nak! Cucuku butuh nutrisi yang baik," kata pak Zeno dengan santai membuat ibu Hera dan Susi saling berpandangan dengan wajah panik.


"Ayo, Johan, silahkan!" ajak pak Zeno lagi dengan sikap yang bersahabat.


Wajah ibu Hera dan Susi berangsur-angsur seperti semula melihat keadaan yang baik-baik saja. Keduanya pun mengambil makanan lalu makan bersama.


"Ayo, tambah lagi, Nak!" kata pak Zeno dengan penuh perhatian melihat Susi yang sudah berhenti makan.


"Terima kasih, Ayah, udah kenyang nih!" sahut Susi.

__ADS_1


"Sebentar kalau lapar lagi, datang aja dan jangan malu-malu, anggaplah rumah ini adalah rumahmu," gurau pak Zeno sambil terkekeh.


"Ihh, Ayah, ada-ada aja," kata Susi.


Mereka tertawa. Ada rasa bahagia yang tampak dari kebersamaan mereka. Pak Zeno sepertinya tidak sabar lagi untuk menimang cucu sehingga ia sangat bahagia ketika mengetahui bahwa anaknya sedang hamil. Ia bahkan menasihati anak mantunya agar menjaga Susi sebaik mungkin supaya bisa melewati masa hamilnya dengan baik dan selamat hingga melahirkan nantinya.


Eric dan Susi masuk ke kamar untuk beristirahat setelah beberapa saat menemani orang tuanya untuk bercengkrama.


"Istiahatlah, Tuan Putri!" kata Eric kepada Susi karena melihat matanya sudah berat.


Ada hasrat yang menggebu dalam hati ingin mencumbui wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya tapi ia berusaha menekan rasa itu, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan.


Johan mendekati istrinya dan membelai rambutnya dengan lembut. Susi menikmati belaian itu dan tidak lama kemudian suara dengkurnya terdengar membuat Johan tersenyum.


Pikirannya jauh menerawang mengingat perjalanan hidupnya yang sangat jauh dari kesempurnaan. Rasa bersalah kepada Susi dan juga kepada Eric selalu menghantuinya.


Ditatapnya wajah istrinya yang masih tidur nyenyak. Ada rasa iba melihat wajah yang begitu sabar. Air mata Johan menetes mengingat selama beberapa pekan ini Susi masih memaksakan diri bekerja di rumah makan milik pak Hendrik walaupun dalam keadaan hamil.


Baginya, Eric dan Anna adalah sosok manusia yang berhati malaikat, menolong orang lain dengan tulus dan tidak pernah menyimpan rasa dendam terhadap orang yang pernah menyakitinya.


"Terima kasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik. Berikanlah selalu kesehatan dan buatlah hidup mereka berkelimpahan!" Johan memanjatkan doa dalam hati.


Beberapa saat kemudian ia pun tertidur dengan pulas. Saking pulasnya terdengar suara dengkuran yang keras hingga membangunkan Susi.

__ADS_1


Ia mengerjapkan mata dan melihat Johan tertidur pulas di sampingnya. Laki-laki yang sangat dicintainya dulu sebelum berubah menjadi laki-laki liar dan cemburuan. Namun seiring berjalannya waktu cinta itu pun mulai terkikis oleh rasa benci tapi di relung hati yang dalam masih ada sepengal cinta yang tersisa.


Ditatapnya wajah itu lekat-lekat dan di pipinya masih ada bekas air mata. "Kenapa di menangis?" Susi bertanya dalam hati.


Cukup lama ia memandangi wajah suaminya hingga laki-laki itu menggeliat. Susi cepat-cepat menoleh ke arah lain karena tidak mau ketahuan bahwa ia sedang memandanginya.


"Ehh, udah dari tadi kamu bangunnya?"


"Baru aja, kok,"


Johan mendekat dan meraba-raba perut istrinya lalu menciuminya dengan mesra.


"Kamu baik-baik di dalam sana, yah, jangan bikin Mama sakit!" bisik Johan.


Susi diam walau dalam hati ia tersenyum mendengar bisikan Johan.


"Apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Johan dengan menengadah karena ia masih dalam posisi berbaring sedangkan Susi duduk di tepi tempat tidur.


Susi diam dengan tatapan lurus ke depan. Ia bingung mau memberi jawab atas pertanyaan Johan.


Melihat Susi hanya diam saja, Johan meraih jemarinya lalu meremas dengan pelan.


"Nggak usah dijawab, Sayang, kalau pada akhirnya akan membebani pikiranmu dan saya akan sabar untuk membuktikan bahwa saya benar-benar mencintaimu lebih dari yang kamu harapkan!" tutur Johan dengan serius.

__ADS_1


Susi kembali meneteskan air mata. Hatinya terlalu sakit jika mengingat bahwa pria yang sudah menjadi suaminya saat ini pernah berbagi cinta dengan perempuan lain.


__ADS_2