MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
18. Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Eric bersiul saat keluar dari kamar mandi. Rupanya ia sangat senang karena hari ini akan terima gaji dan rencananya akan langsung berangkat ke kota B sebentar sore.


Ia sudah siap dengan risiko apa pun. Ia masih ingat ucapan ibunya tempo hari yang mengatakan bahwa kedua orang tua Anna akan mengadakan perhitungan dengan dirinya jika masih berani datang menemui Anna dan Felyn.


Tiba di kantor ia disambut oleh Susi dengan senyum manis.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Susi dengan rama.


"Selamat pagi juga!" balas Eric sambil tersenyum pula.


Hati Susi berbunga-bunga melihat senyum Eric yang tidak seperti biasanya. Kadang wajahnya hanya datar tanpa senyum.


"Kita makan siang di luar nanti, yuk!" ajak Susi.


Tak ada jawaban. Susi menoleh, ternyata Eric sudah berlalu ke ruang kerjanya. "Nanti sajalah setelah jam istirahat, saya akan mengajaknya," gumannya dalam hati.


Hari itu Susi merasakan jarum jam sangat lambat berputar. Ia tampak gelisah dan kurang fokus pada laptop yang menyala di depannya.


"ting, ting, ting!" suaara bel tanda istirahat telah tiba.


Hati Susi seketika melonjak kegirangan. Ia bergeggas menemui Eric di ruangannya.


Tiba di sana, Eric sudah besiap untuk pulang. Ia sudah minta izin kepada pimpinan untuk tidak masuk kerja nanti pada jam kedua dengan alasan ada urusan keluarga yang sangat mendesak.


"Kok tampak buru-buru, Pak?"


"Iya Sus, saya mau jenguk istri dan anakku ke kota B!"


Mendengar ucapan Eric, Susi jadi resah. Rencananya untuk mendekati laki-laki tampan itu kembali surut. Sangkahnya Eric belum punya istri, ternyata dugaannya salah bahkan pria yang dianggapnya masih jomblo itu malah sudah punya anak pula.


Susi adalah karyawan baru di kantor tersebut dan baru dua minggu ini masuk kerja, jadi wajar bila ia belum terlalu kenal dengan karyawan yang lain, termasuk Eric.


Ia memandangi punggung Eric hingga menghilang di balik pintu lalu kembali ke ruangannya karena sebetulnya ia punya bekal di tas dan tak perlu lagi mencari makanan di luar.


Keinginannya untuk makan di luar hanyalah sebuah cara untuk bisa lebih dekat dengan Eric tapi rencana tersebut sudah batal.

__ADS_1


***


Pukul delapan malam, Eric tiba di kota B. Ia bingung karena rumah mertuanya digembok. Ia duduk di luar dan berharap penghuni rumah akan segera pulang.


Sudah sekitar satu jam ia menunggu dan hembusan angin mulai membuat tubuhnya kedinginan. Ia pun berdiri dan memberanikan diri untuk menghampiri tetangga terdekat.


"Selamat malam, Pak!" sapa Eric dengan sopan.


Seorang laki-laki yang sedang menjaga kios menoleh ke arah sumber suara.


"Mau beli apa?" orang itu balik bertanya.


"Maaf sebelumnya Pak, kalau boleh tahu, yang punya rumah di sebelah lagi ke mana yah?"


"Ohh, pak Nico maksudnya, mereka sudah pindah beberapa hari yang lalu,"


"Pindah ke mana, Pak?"


"Kurang tahu juga karena mereka nggak pernah ngomong,"


Eric bergegas ke tetangga sebelahnya lagi namun di sana pun ia mendapatkan jawaban yang sama.


Eric kembali lagi ke depan rumah mertuanya dan tiba-tiba ingat sama kakak iparnya. Ia pun mencari namanya di ponsel.


Tampak wajah Eric mulai berbinar karena nomor yang dituju sedang aktif.


"Ayo angkat Kak Andi... angkat!" katanya dalam hati.


Ia melakukan panggilan berkali-kali tapi tetap tidak ada yang angkat membuat Eric putus asa. Matanya melirik dos yang dibawanya tadi yang berisi mainan buat anaknya. Tak terasa air matanya mengalir karena sangat merindukan istri dan anaknya.


Malam semakin larut, ia pun memutuskan untuk mencari penginapan karena ingin beristirahat dan perutnya juga sudah keroncongan.


Dos yang berisi mainan untuk anaknya dan juga ada ole-ole buat istrinya ia gantung di depan pintu rumah tersebut lalu pergi dengan perasaan sedih.


Selama dua hari ia berada di kota B dan sudah dua kali ia datang untuk mengecek rumah mertuanya dengan harapan mereka akan pulang tapi suasana rumah tersebut tetap sunyi dan sepi.

__ADS_1


Hari ini ia akan kembali ke kota A karena besok sudah harus masuk kerja lagi. Ia pulang dengan hati yang hampa. Istri dan anak yang sangat dirindukan entah di mana keberadaannya. "Semoga mereka baik-baik saja!" doanya dalam hati.


Menjelang sore ia sudah tiba di rumahnya. Dewi yang melihat kedatangannya datang menghampiri dan tanpa diajak ia ikut masuk ke dalam rumah mengikuti Eric.


Dewi tahu bahwa dirinya akan dicuekin tapi ia tak pernah putus asa. Dengan percaya diri ia langsung kedapur dan memanaskan air lalu menyeduh kopi. Ia menengok ke sana ke mari dan setelah merasa aman, perlahan ia merogoh saku roknya dan mengambil obat perangsang lalu memasukkan ke dalam gelas yang berisi minuman kopi itu.


Eric merasa sangat capek karena baru saja menempuh perjalanan yang jauh. Ia berbaring di sofa sambil meluruskan kakinya.


"Kakak pasti capek, nih minum kopi dulu!" kata Dewi.


Dewi dapat informasi dari pak Alan, tetangga mereka bahwa Eric berangkat ke kota B dua hari yang lalu.


"Hemmm," Eric hanya berdehem. Ia sangat kesal melihat Dewi yang lancang di rumahnya.


"Sini saya pijitin!" ucap Dewi menawarkan diri bahkan tangannya sudah menyentuh punggung Eric.


"Tolong yah, kalau tidak ada urusannya di sini, silahkan pulang! Apakah kamu belum puas juga melihat rumah tanggaku yang sudah hancur begini?"


"Jangan gitu dong Kak, aku nggak pernah punya niat untuk menghancurkan rumah tanggamu, yang ada, aku siap jadi istri kedua buat kamu. Ibumu yang selalu bikin masalah, soalnya hubungan aku sama Anna baik-baik aja kok," kata Dewi.


"Sudahlah Dewi, saya tidak bisa lakukan itu!"


"Tapi aku cinta mati sama kamu, Sayang!"


"Sebelum kamu datang, kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja, jadi kalau kamu memang mencintaiku, tolong jauhi saya dan biarkan saya hidup bahagia!"


Dewi tertunduk dengan air mata berlinang tapi tidak membuat Eric terpengaruh sedikit pun.


Eric malah bangkit dan masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam. Ia mandi karena tubuhnya bau keringat. Setelah itu ia baring-baring sambil membuka foto-foto kenangan bersama istri dan anaknya hingga tertidur pulas.


Sementara itu Dewi yang berada di ruang tamu merasa sangat kecewa dengan sikap Eric. Tanpa sadar ia meminum hingga tak tersisa kopi yang tadinya dibuat untuk Eric tapi tidak diminum. Setelah itu ia balik ke rumahnya.


Sambil berbaring di kamar tidurnya ia merasa tubuhnya aneh. Semakin lama rasa itu semakin menyiksanya. Ia pun mulai mencoba beberapa cara untuk memuaskan dirinya namun tidak mempan dan rasanya mau gila. Ia baru sadar kalau kopi buat Eric-lah yang menyebabkan dirinya seperti ini. Senjata makan tuan.


Buru-buru ia menghubungi Johan tapi nomor yang dituju sedang berada diluar jangkuan. Dengan kesal ia membanting ponselnya di atas kasur. Untung tidak dibanting ke lantai atau dinding.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, ia meraih lagi ponselnya dan menghubungi pak Hendrik. Senyum mengembang di bibirnya karena panggilannya terhubung.


__ADS_2