MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
9. Rencana Baru


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Anna menjadi pendiam sejak dibentak oleh Eric di depan ibu mertuanya. Eric sangat merasakan perubahan sikap istrinya walaupun tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri tapi semuanya terasa berbeda.


Tak ada lagi canda-tawa ketika berada di dapur, di ruang keluarga, ataupun di kamar. Anna hanya bicara dengan singkat ketika ditanya dan ia tidak pernah lagi mengomentari sesuatu kecuali dengan anaknya.


Malam ini Eric sudah tidak tahan dengan suasana yang beku.


"Sebelumnya saya minta maaf jika kata-kataku tempo hari menyakiti hatimu!" ucapnya ketika ia sudah berbaring di tempat tidur setelah berhubungan badan dengan istrinya.


"Saya hanya tidak setuju jika kamu tidak mau mempertemukan ibuku dengan cucunya. Saya ngerti bahwa kamu dan ibu nggak cocok tapi tolong jangan bawa-bawa Felyn karena anak itu belum tahu apa-apa!" sambungnya lagi karena Anna diam saja.


Mendengar ucapan Eric, hati Anna semakin terluka.


"Jadi Mas percaya dengan perkataan ibu? Terus terang saya sangat kecewa kepadamu Mas karena tidak menelusuri dan mencari tahu kebenaran sesuatu lalu langsung mengambil kesimpulan. Saya tidak memasak waktu itu dan menyuruh Mas untuk makan di luar saja karena saya benar-benar shok setelah mendengar omongan ibu dan Dewi di pasar. Mereka tidak tahu bahwa saya melihat dan mendengar apa yang dibahas. Dewi ingin kembali kepadamu dan ibu mendukungnya," ujar Anna dengan linangan air mata.


"Saya tahu Mas tidak akan percaya dan mengira bahwa cerita ini hanya kubuat-buat. Kemudian ibu mengatakan bahwa ia ke sini untuk menengok cucunya, itu bohong! Saya tidak pernah mendengar seseorang memanggil-manggil di luar, jadi sekarang saya sudah lega karena apa yang mengganjal di hati ini sudah keluar. Terserah mau percaya atau tidak!" sambung Anna lagi dengan luapan emosi.


Eric bungkam mendengar penjelasan dari istrinya. Ia baru menyadari bahwa waktu itu ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada istrinya untuk memberi penjelasan dan Eric tahu Anna pasti tidak berbohong karena selama mengenal perempuan ini hingga menikahinya ia belum pernah menemukan kebohongan dalam dirinya.


"Selama ini saya sabar dengan perlakuan ibu yang tidak pernah menganggapku. Mungkin karena aku berasal dari keluarga miskin dan wajahku tak secantik dengan wajah mantan kekasihmu tapi dulu saya juga tidak pernah memaksamu untuk menikahiku," tutur Anna lagi setelah tangisnya redah.


Eric masih tetap bungkam hingga terdengar helaan nafasnya yang berat.


Malam semakin larut di kesunyian yang mencekam. Deru kendaraan di jalan raya pun sudah tak terdengar lagi. Anna sulit memenjamkan mata sedangkan suaminya sudah mendengkur.


***


Pak Hendrik heran melihat istrinya yang akhir-akhir ini sering pulang telat dari sekolah.


"Ibu belum pulang?" tanya Erika kepada ayahnya yang sedang duduk santai nonton TV.


"Belum, Nak, akhir-akhir ini ibumu sering lambat pulang," sahut pak Hendrik.


"Iya, saya biasa lihat Kak Dewi, mantan pacar kak Eric datang ke sekolah jemput ibu dan dia juga sering main ke sini saat Ayah sedang tidak berada di rumah.

__ADS_1


"Apa maksudnya ke sini? Toh, dia bukan siapa-siapanya kita dan lagian kakakmu juga sudah punya istri!" ucap pak Hendrik.


"Entahlah," ujar Erika lalu melangkah ke dapur untuk mencari makanan.


Beberapa saat kemudian terdengar deru mobil di luar. Pak Hendrik beranjak dari tempat duduknya dan mengintip siapa gerangan yang datang mengendarai mobil Avanza.


Tampak ibu Elma turun dari mobil sambil menenteng sebuah kantongan kemudian disusul oleh Dewi. Pak Hendrik tidak berkedip melihat mantan kekasih anaknya itu yang berpenampilan sangat menakjubkan. Ia tampak semakin cantik dibalut dengan pakaian yang ketat sehingga membentuk lekuk-lekuk tubuhnya nan indah.


Pak Hendrik segara membuka pintu dan istrinya kaget karena tidak biasanya sang suami sudah berada di rumah siang-siang begini, bisanya ia pulang sore hari atau bahkan malam hari.


"Tumben, Bapak cepat pulang?" tanya ibu Elma dengan dahi berkerut.


"Iya, soalnya tahu bahwa hari ini ada tamu istimewa yang mau datang ke rumah," sahut pak Hendrik sambil melirik wajah Dewi yang cantik.


"Ihhh, Om... apa kabar?" ucap Dewi dengan suara yang dibuat-buat terdengar manja.


"Kabar baik, mari masuk!" ajak pak Hendrik dengan ramah.


Dewi melangkah dengan gemulai lalu duduk di sofa berhadapan dengan pak Hendrik yang terus memandanginya penuh kekaguman.


"Apa kamu sudah punya suami?"


"Belum Om,"


"Sayang sekali Eric sudah menikah. Seandainya belum, Om akan menjodohkan kamu dengannya, lagian kalian pernah menjadi pasangan kekasih,"


"Iya Om, aku nggak keberatan kok, jika jadi istri kedua buat Eric,"


"Yang benar? Pasti Eric akan senang jika dengar hal ini, lagian istri pertamanya itu nggak secantik dan seseksi kamu loh!"


Setelah ibu Elma mengganti seragamnya ia datang menghampiri mereka di ruangan tamu dan mengajaknya untuk makan bersama.


Tiba di ruang makan, ibu Elma mengambil kantongan yang dibawanya tadi.

__ADS_1


"Nih, makanan enak yang dibeli Dewi!" ucap ibu Elma sambil menyodorkan satu bungkus sate ayam kepada Erika yang sudah duluan makan. Wajahnya yang cemberut karena tidak berselerah dengan lauk sisa sarapan tadi pagi seketika berubah. Sate ayam adalah makanan favoritnya. Dengan sigap ia meraih dari tangan ibunya lalu melahapnya dengan nikmat.


Dewi senyum-senyum melihat tingkah Erika.


"Kamu suka, Dek? Besok-besok Kakak ajak kamu makan di luar!" kata Dewi membuat Erika senang.


"Yang benar, Kak?" tanya Erika dengan wajah berbinar.


Pak Hendrik dan ibu Elma saling berpandangan lalu tersenyum.


Mereka lalu menikmati makanan tersebut dengan lahap sambil bersenda-gurau. Tatapan mata pak Hendrik tak lepas dari gerak-gerik Dewi yang sesekali mengerdipkan sebelah matanya membuat jantung pak Hendrik berdebar-debar.


Pak Hendrik duduk pas berhadapan dengan Dewi sedangkan ibu Elma duduk di samping suaminya dan berhadapan denga Erika.


Perlahan Dewi menggerakkan kakinya dan menyentuh kaki pak Hendrik dengan lembut di bawa kolong meja sambil mulutnya mengunya makanan. Awalnya pak Hendrik kaget dan menarik kakinya namun karena penasaran ia mengembalikan kakinya ke tempat semula dan kembali ia merasakan gesekan halus yang menggairahkan. Dengan sadar ia pun membalas gesekan kaki tersebut lalu keduanya saling tatap sambil tersenyum penuh arti.


Dalam hati Dewi berpikir, jika anaknya sulit kumiliki maka ayahnya pun tak masalah. Penampilan pak Hendrik juga belum tua-tua amat. Di usianya yang sudah setengah abad ini ia masih tampak energik dan penampilannya tidak jauh beda dengan penampilan anaknya.


"Oh yah, kalau boleh tau, Nak Dewi tinggal di mana?" tanya pak Hendrik setelah meneguk segelas air putih.


"Tante udah liat rumahku Om karena pernah singgah di sana," sahut Dewi dengan senyum tak lepas dari bibirnya yang merah.


"Iya Pa, Dewi ini orangnya baik loh, sangat disayangkan karena Eric malah menikahi perempuan lain. Coba kalau dulu ia tidak terburu-buru untuk nikah, sekarang ia bisa melamar Dewi karena kuliahnya baru aja selesai. Lihatlah walaupun ia sudah bergelar S2 tapi tetap mengunjungi kita yang bukanlah siapa-siapanya, beda sekali dengan anak mantu kita, mana ada mau ke sini!" ucap ibu Elma membuat Dewi semakin melebarkan senyumnya.


Pak Hendrik mengajak mereka untuk melanjutkan bincang-bincang di ruang tamu. Dewi segera beranjak mengikuti pak Hendrik menuju ruang tamu sedangkan ibu Elma masih membenahi dan merapikan meja makan.


"Aduh, mataku!" seru Dewi sambil meringis ketika sudah dudu di sofa.


"Kenapa dengan matamu?" tanya pak Hendrik panik.


"Coba periksa dulu Om!" rayu Dewi dengan manjanya.


Pak Hendrik mendekat dan memegangi kepala Dewi untuk memeriksa matanya. Dewi tertawa dalam hati karena itu hanya akal-akalannya saja untuk mengerjai pak Hendrik. Kini Dewi punya rencana baru untuk menggaet ayah mantan kekasihnya ini karena kelihatannya ia punya banyak modal. Wajah keduanya begitu dekat sehingga Dewi merasakan desah nafas yang hangat dan tanpa malu-malu ia menengadah ke wajah pak Hendrik lalu memberikan kecupan mesra tepat di bibir.

__ADS_1


Pak Hendrik yang masih gugup melepaskan pegangannya lalu buru-buru kembali ke tempat duduknya karena mendengar suara dan derap langkah istrinya yang semakin mendekat.


__ADS_2