
Eric menghubungi ibunya dan menyampaikan tentang musibah yang sedang dialami oleh ayahnya namun ibunya tidak mau datang ke rumah sakit membuat Eric jadi pusing.
Ia masuk ke kamar tempat ayahnya dirawat. Tadi suster telah memindahkan ayahnya ke kamar tersebut setelah siuman.
"Maafkan Ayah, Nak!" ucap pak Hendrik dengan linangan air mata ketika melihat anaknya masuk le kamar.
Eric termangu mendengar ucapan ayahnya. Ia mendekat dan memperhatikan wajah ayahnya dan tidak menemukan hal-hal aneh seperti yang dikatakan warga tadi bahwa korban kecelakaan ini orangnya tidak waras.
"Ayah sudah siuman?" tanya Eric yang masih kebingungan.
"Iya Nak, Ayah tahu dan sadar, mungkin semua ini terjadi karena kesalahan dan dosa-dosaku terhadap ibu kalian." sahut pak Hendrik dengan air mata yang sudah menetes.
"Sudahlah, yang penting sekarang Ayah sudah lebih baik, sudah siuman. Nah, sekarang Ayah istirahat dulu supaya lekas pulih dan kita segera pulang ke rumah!"
Tampak wajah pak Hendrik sedih dan terharu. Ia tak menyangkah bahwa anaknya masih mau peduli kepadanya setelah tahu perbuatannya yang sudah mempermalukan keluarga.
Ia pun memenjamkan mata meski hatinya sedang gelisah. Melihat ayahnya yang sudah tertidur, Eric keluar untuk menemui dokter lalu menceritakan tentang bagaimana perjalanan hidup ayahnya hingga mengalami kecelakaan.
"Kemungkinan besar ingatan ayahmu kembali setelah mengalami benturan keras di kepalanya," kata dokter yang menangani.
"Apakah hal itu memang biasa terjadi, Dok?" tanya Eric dengan serius.
"Iya dan kami sudah beberapa kali menangani kasus yang sama, tapi kita masih akan menunggu dua tiga hari dulu untuk melihat perkembangan ayahmu,"
"Terima kasih, Dok!"
"Sama-sama,"
Eric meninggalkan ruangan dokter dengan perasaan lega. Dalam hati ia berharap semoga perkataan dokter itu benar dan ayahnya akan segera sembuh dan hidup secara normal kembali.
Sebelum kembali ke kamar ia terlebih dahulu membeli makanan dan keperluan lainnya karena diperkirakan mereka akan menginap di rumah sakit selama tiga hari setelah melihat kondisi ayahya yang sudah berangsur-angsur membaik.
__ADS_1
Eric juga sudah menghubungi pihak kantor di mana ia bekerja untuk memohon izin selama beberapa hari karena tidak ada yang menggantikan dirinya untuk menjaga ayahnya di rumah sakit. Sudah beberapa kali ia menghubungi ibunya tapi dengan tegas pula ibunya menolak untuk datang bahkan Erika pun tak ia izinkan walaupun punya keinginan datang ke rumah sakut hanya untuk membesuk ayahnya.
Keesokan harinya dokter sudah memperbolehkan pak Hendik keluar dari rumah sakit dan berobat jalan namun masih disarankan untuk tetap melakukan pemeriksaan ulang sekali dalam seminggu.
Eric membonceng ayahnya untuk pulang ke rumah yang jaraknya dari rumah sakit tersebut masih cukup jauh. Kira-kira butuh waktu dua jam lebih untuk sampai di tujuan, apalagi Eric menyetir dengan santai mengingat ayahnya yang belum terlalu pulih.
Menjelang magrib, keduanya sudah tiba di rumah. Eric menunjukkan kamar kepada ayahnya untuk dihuni.
"Terima kasih Nak, sudah mau menampung Ayah di sini!"
"Sama-sama Ayah, istirahatlah dulu!"
Ada rasa iba melihat wajah ayahnya yang penuh penyesalan namun ia buru-buru ke dapur untuk memasak bubur karena tidak mau menampakkan wajah sedihnya di hadapan sang ayah.
Walaupun tubuh terasa lelah tapi Eric tetap melakukan pekerjaan di dapur. Ia sudah terbiasa melakukan semua itu semenjak istrinya pergi.
Setelah semuanya sudah beres, ia mengantar makanan tersebut ke kamar di mana ayahnya sedang istirahat.
"Nggak apa-apa Ayah," ucap Eric sambil meletakkan piring yang berisi bubur dan telur caplok itu di meja.
Ayahnya meraih piring tersebut lalu berjalan dengan pelan-pelan menuju ruang makan. Eric mengikuti dari belakang lalu keduanya makan dengan lahap.
***
Sudah tiga hari Susi gelisah karena Eric tidak masuk kerja. Ia pernah menghubungi ponselnya tapi waktu itu Eric mengabaikan karena sedang sibuk mengurus ayahnya di rumah sakit dan setelah Susi mendapat informasi dari temannya bahwa Eric izin tidak masuk kantor berhubung ayahnya kecelakaan dan ia harus menjaganya di rumah sakit ia tidak pernah lagi mengirim pesan dan menelpon.
Pagi ini Susi sangat senang ketika Eric muncul ke kantor. Ia sudah tidak sabar ingin menyampaikan momen pertemuannya dengan Anna kepada pria yang sempat menarik perhatiannya itu.
"Selamat pagi, Pak! Bagaimana kabar ayahmu?"
"Selamat pagi juga! Ayahku sudah baikan dan kemarin sudah keluar dari rumah sakit."
__ADS_1
"Syukurlah,"
Susi melirik ke arah jam yang tergantung di dinding dan ternyata masih ada waktu dua puluh menit untuk bersantai. Ia menceritakan semua kepada Eric tentang pertemuannya dengan Anna yang tidak pernah diduga sebelumnya.
"Jadi pria ini adalah calon suamimu?" tanya Eric sambil menunjuk foto Johan di layar ponselnya.
"Iya Pak, kebetulan Johan bersahabat dengan kakaknya Anna sejak dari kecil dan ia mengundang kami untuk menghadiri pernikahannya." sahut Susi.
Susi kaget mendengar pengakuan Eric bahwa sebenarnya ia juga berada di kota B waktu itu tapi sangkahnya Anna-lah yang sedang menikah sehingga tidak berani masuk untuk menemuinya.
"Saya mohon kepadamu agar menceritakan kepada Anna hal yang sebenarnya tentang saya!" pinta Eric penuh harap.
"Siap Pak, saya yakin suatu saat Bapak bisa bersatu kembali dengan keluarga," ujar Susi meyakinkan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, keduanya menyudahi percakapan dan Susi pun kembali ke ruangannya untuk mengerjakan tugasnya.
Eric pun melakukan hal yang sama. Hari ini ia begitu semangat malakukan pekerjaannya sambil membayangkan istri dan anaknya. Dalam hati ia berharap Susi bisa meyakinkan Anna bahwa dugaannya selama ini tidak benar.
Ketika jam istirahat telah tiba, Eric meraih ponselnya dan menghubungi ayahnya yang sedang sendirian di rumah. Kemarin ia membeli sebuah ponsel buat ayahnya agar bisa dihubungi setiap saat.
"Halo, Ayah sudah makan?"
"Nggak usah khawatir Nak, Ayah sudah bisa urus diri sendiri,"
Setelah Eric berangkat ke kantor tadi pagi, pak Hendrik mengisi waktu dengan menyibukkan diri untuk membersihkan hingga menjelang siang hari ia menuju ke bagian dapur dan membuka kulkas lalu mengeluarkan bahan-bahan mentah untuk diolah. Kemarin Eric memesan bahan-bahan tersebut di langganannya.
Dulu, pak Hendrik suka memasak di dapur sebelum ia disibukkan dengan urusan bisnisnya dan saat ini ia merasa rindu dengan kebiasaannya itu.
Ia memotong daging ayam menjadi beberapa bagian lalu membuat bumbunya. Setelah itu ia juga memotong-motong sayur. "semoga Eric menyukai masakanku," gumamnya dalam hati.
Tidak butuh waktu yang lama, kini masakannya sudah tersaji di meja makan. Ia pun menghubungi Eric agar pulang dan makan siang di rumah.
__ADS_1