MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
60. Hanya Bisa Menangis


__ADS_3

Susi heran dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Belakangan ini ia merasa sangat lemas dan bawaannya jadi malas. Biasanya saat bangun pagi ia akan membersihkan rumah mulai dari ruangan hingga menyapu dedaunan yang berserakan di halaman rumah yang lumayan luas tapi sudah satu minggu ini ia sangat malas untuk bangun pagi.


Ia mulai khawatir dengan dirinya setelah membuka google sehubungan dengan perubahan yang dialaminya. "Apa jangan-jangan...," Ia baru ingat kalau sudah hampir dua bulan terakhir ini belum kedatangan tamu rutin.


Inilah yang ingin disampaikan kemarin kepada Eric tapi belum sempat diungkapkan tiba-tiba ponsel yang duhubungi mati.


Susi juga segan dan takut untuk menyampaikan kepada orang tuanya dengan beberapa pertimbangan bahwa hal ini pasti saja akan menimbulkan pertanyaan.


"Hooeekkk, hoeeek, hooeekk!!!"


Susi berlari ke kamar mandi karena ia ingin muntah setelah mencium bau bawang yang sedang digoreng oleh ibunya di dapur.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu Hera khawatir mendengar anaknya muntah-muntah di kamar mandi.


"Nggak apa-apa kok, Bu, mungkin masuk angin saja," sahut Susi yang keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat.


Ibu Hera memapah Susi ke tempat duduk. Setelah merasa agak baikan ia mulai menyendok nasi goreng yang dihidangkan oleh ibunya tapi baru saja dua suap, kembali ia merasa mual. Tergesa ia masuk ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perut.


Ibu Hera jadi penasaran melihat anaknya. Ia kembali membuntuti ke kamar mandi sambil membawa segelas air putih hangat.

__ADS_1


"Ayo diminum, setelah itu kamu istirahat dulu di kamar, nanti kita ke pergi ke puskesmas untuk periksa!"


Wajah Susi semakin pucat mendengar ucapan ibunya yang berniat untuk memeriksakan dirinya ke puskesmas. Ia pun mengangguk dengan lesu lalu berjalan dengan pelan menuju ke kamarnya. Apa yang harus kulakukan jika dugaanku ternyata benar? Beranikah diriku untuk berterus terang kepada kedua orang tuaku? Haruskah saya meminta tanggung jawab kepada Johan? Sanggupkah saya hidup bersamanya dengan sikapnya yang cemburuan?


Susi meneteskan air mata karena pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


Ibunya datang mengetuk pintu kamar dan sekalian mengajaknya untuk segera ke puskesmas mumpung masih terbuka.


Awalnya Susi menolak tapi ibunya terus memaksa sehingga dengan berat hati ia mulai mengganti pakaiannya lalu berangkat ke puskesmas yang letaknya tidak jauh dari rumah dan bisa dijangkau dengan jalan kaki.


"Selamat Bu, anak ibu hamil dan umur kandungannya sudah memasuki bulan yang kedua!" kata seorang bidan yang baru saja selesai memeriksa keadaan Susi.


"Oh, iya, terima kasih Ibu bidan atas informasinya!" sahut ibu Hera dengan senyum yang dipaksakan.


Sementara itu wajah Susi bertambah pucat karena takut diomeli oleh ibunya.


"Sama-sama, Bu, tolong dijaga kandungannya yah, istirahat yang cukup dan tidak boleh angkat-angkat beban yang berat karena bisa mengganggu pertumbuhan bayi yang ada dalam kandungannya!" kata ibu bidan memberikan nasihat.


"Sekali lagi terima kasih, kami pamit dulu!" kata ibu Hera dengan cepat. Ia sudah tidak sabar ingin memaki-maki anaknya karena merasa sudah dan akan dipermalukan.

__ADS_1


Punya anak perempuan yang hamil duluan sebelum menikah adalah hal yang sangat ditakutkan oleh para orang tua pada umumnya.


"Hati-hati di jalan!" ucap bidan itu dengan ramah.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, ibu Hera melangkah cepat dengan menahan emosi bahkan Susi tidak bisa menyamai langkahnya sehingga tertinggal di belakang. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dan tak lupa ia berdoa kepada Tuhan agar diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang akan diterima dari orang tuanya.


Susi sadar bahwa apa yang terjadi ini adalah sebuah kesalahan fatal dan mencoreng nama baik keluarga.


"Cepat katakan, siapa yang telah menghamilimu!" bentak ibunya ketika Susi melangkahkan kaki ke dalam rumah. Ibunya bertolak pinggang dengan wajah memerah seakan hendak menelannya bulat-bulat.


"Maafkan saya, Bu!" kata Susi sambil menangis dan berlutut di depan ibunya.


"Maaf, katamu, jadi ini yang kau lakukan di sana? katanya pergi kerja tapi pulang dengan perut yang sudah berisi," seru ibu Hera dengan nada suara yang meninggi.


Susi hanya bisa menangis mendengar ucapan ibunya yang pedas dan ia juga tidak dapat mengelak karena kenyataannya memang seperti itu.


"Panggil laki-laki yang telah meninggalkan benih di rahimmu itu dan ingat, jika dalam waktu tiga hari ia tidak datang melamarmu maka kamu harus pergi dari rumah ini karena kami sebagai orang tuamu tidak mau menanggung malu jika warga di sini sampai tahu tentang hal ini!" ucap ibu Hera lagi dengan tegas.


Ia berlalu meninggalkan Susi yang masih menangis dengan menghentakkan kaki dan masuk ke kamar lalu membanting pintu dengan kasar. Di kamar, ibu Hera menangis sejadi-jadinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anaknya nanti jika ayahnya sudah pulang dari luar kota.

__ADS_1


__ADS_2