MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
80. Rindu Rumah


__ADS_3

Waktu Anna tersita di rumah untuk menjaga si kecil dan hal ini kadang membuat Eric selalu gelisah jika bepergian karena ingatannya selalu di rumah. Seperti yang terjadi hari ini, ia datang ke toko mebel untuk memantau para karyawan dan setelah melihat bahwa semuanya berjalan dengan baik, ia segera pulang ke rumah.


"Selamat siang, Sayang!"


Anna yang sementara berceloteh dengan anaknya, kaget mendengar dan melihat suaminya yang cepat sekali pulang.


"Selamat siang, kenapa cepat pulang, Mas?"


"Biasa... lagi rindu rumah,"


Anna tersipu mendengar ucapan suaminya. Ia ingat, semalam Eric tidur dengan gelisah karena menginginkan sesuatu tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Krisna, putra mereka hampir tidak pernah tidur karena demam.


Eric menghampiri anaknya lalu menimang-nimang sambil bersenandung dan tak lama kemudian Krisna tertidur. Ia membawanya ke kamar dan perlahan membaringkan di tempat tidur.


Setelah itu ia menemui Anna yang sedang duduk di ruang tengah. Wajahnya tampak sedikit pucat karena kurang tidur namun ia tetap menampakkan semangat di depan suaminya.


"Kamu lelah, Sayang?"


"Nggak, kok, Mas,"


Eric memijit bahu istrinya dengan lembut membuat Anna senang karena badannya memang terasa pegal. Dari pagi ia sudah disibukkan dengan pekerjaan di dapur, memasak, menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian dan belum juga beres semuanya, si kecil sudah merengek pula minta untuk digendong.


"Enak sekali, Mas," ucap Anna sambil memenjamkan matanya menikmati pijatan jemari suaminya.


"Kamu pasti capek 'kan? Makanya Mas selalu tawarkan untuk cari seorang pembantu," ujar Eric sambil terus memijit bahu istrinya hingga ke bagian belakang.


"Saya nggak capek, kok, cuman sedikit lelah aja," kata Anna.


"Hey, Sayang, capek dan lelah itu sama aja," Eric sampai terkekeh mendengar ucapan Anna.

__ADS_1


"Oh, iya, ya," Anna ikut tertawa.


"Nanti Mas akan minta tolong sama ibu untuk mencari asisten rumah tangga yang bisa diandalkan!"


"Terserah Mas aja, Deh," sahut Anna.


Menurut Anna, perkataan Eric itu ada benarnya untuk mencari seorang asisten rumah tangga supaya ia sendiri bisa fokus mengurus anak dan suaminya. Ia tahu, kadang Eric sangat menginginkan perhatian dan belaian darinya tapi sejak punya anak kecil, hal itu sangat jarang ia lakukan.


Seperti saat ini, Eric cepat pulang karena menginginkan sesuatu tetapi rupanya harus tertunda lagi karena Anna sudah terlelap setelah mendapatkan pijatan yang membuatnya mengantuk.


Eric membiarkan istrinya tertidur di kursi dalam posisi setengah duduk.


Ia berdiri dan keluar untuk menghubungi ibunya dan membahas tentang asisten rumah tangga. Ibu Elma berjanji untuk secepatnya mengurus perihal tersebut karena ia memang punya kenalan yang bisa dihubungi.


Hampir satu jam Anna tertidur di kursi dan ia terbangun karena mendengar anaknya menangis.


"Maaf Mas, saya ketiduran!" kata Anna. Ia merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok, Sayang," ujar Eric sambil tersenyum.


Tangis Krisna langsung reda setelah berada dalam dekapan ibunya. Anna memberikan ASI kepad anaknya dan beberapa saat kemudian Krisna kembali terlelap.


Anna menidurkan anaknya lalu mengajak suaminya untuk makan siang dan ketika mereka sedang makan, Felyn muncul di pintu dan memperlihatkan hasil karyanya berupa gambar pohon yang rindang dan mendapat nilai A dari gurunya.


Eric dan Anna langsung memberikan pujian membuat Felyn senang. Ia berjalan dengan riang menuju ke kamarnya untuk mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumah lalu bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan.


***


Susi masih penasaran dengan perempuan yang pernah dilihatnya usai berbelanja di toko sehingga ketika mobil yang membawa mereka sudah dekat ke toko di mana ia pernah bertemu dengan perempuan yang dimaksudkan, ia pun mulai mencari akal.

__ADS_1


Tadi pagi Erik sekeluarga pergi ke toko mebel. Eric sengaja mengajak istri dan anaknya agar tidak bosan di rumah terus dan pulang setelah sore hari.


Susi dan anaknya nebeng di mobil mereka saat pulang karena ia ingin menikmati makanan di rumah makan milik pak Hendrik sekalian mau bersilahturahmi dengan para karyawan di sana.


Johan juga mau ikut tapi belakangan karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.


"Tolong kita berhenti dulu di depan toko yang ada di sana!" pinta Susi.


"Mau beli apa?" tanya Anna.


"Biasa... mau beli tentengan buat teman-teman, maaf ya, kalau merepotkan!"


"Nggak, kok, Sus,"


Eric membelok mobilnya ke halaman toko itu. Kebetulan parkirnnya luas dan ada dua mobil yang baru saja meninggalkan tempat tersebut sehingga lebih memudahkan bagi Eric untuk memarkir mobilnya.


Susi segara turun dan ia sangat terkejut karena perempuan yang dilihatnya tempo hari, datang menghampiri sambil menadahkan kedua tangan.


Eric dan Anna memperhatikan mereka lewat jendela mobil. Keduanya tidak ikut turun dari mobil karena menjaga Hanzo dan Krisna.


"Mas, sepertinya perempuan itu gila, yah?" kata Anna.


Perempuan tersebut sedang menghadang jalan yang akan dilalui oleh Susi hingga keduanya seperti sedang bermain petak umpet.


"Iya, ya, perempuan itu mirip sekali dengan...," Eric tidak melanjutkan ucapanya karena Hanzo menangis ingin ikut dengan ibunya.


"Mirip siapa, Mas!" tanya Anna penaran.


Eric tidak mendengar lagi pertanyaan dari istrinya karena suara tangis Hanzo semakin keras. Akhirnya mereka semua turun dari mobil.

__ADS_1


__ADS_2