
Usaha Dewi untuk mendekati Eric tak pernah berhasil hingga ia bosan sendiri. Panggilan telepon dan pesan atau chat tidak pernah lagi digubris oleh Eric. Seringkali juga ia ke rumahnya setelah melihat pria itu pulang dari kantor tapi pintu rumahnya langsung ditutup sehingga Dewi merasa bahwa usaha yang dilakukan tak semudah dengan angannya.
Hari ini Dewi tidak masuk kantor karena bukan lagi jadwalnya. Ia pun bersiap-siap hendak menemui pak Hendrik. Semalam ia sudah janjian dengan laki-laki itu untuk bertemu di rumah setelah ibu Elma dan Erika berangkat ke sekolah. Menurut pak Hendrik, setiap hari selasa istrinya akan pulang dari sekolah pada jam dua siang, jadi ada banyak waktu untuk bisa berduaan di rumah.
Kehadiran Dewi membuat pak Hendrik gembira. Ia membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk perempuan muda dan seksi itu yang selalu membuat sesuatu di bawah sana selalu berdiri tegak ketika berada di dekatnya.
"Om sangat rindu," kata pak Hendrik sambil mencium pucuk kepala Dewi.
Sudah dua minggu keduanya tidak pernah ketemu karena setiap kali pak Hendrik menghubungi, Dewi selalu saja punya alasan untuk menolak. Namun kali ini ia sedang terdesak dengan masalah keuangan. Kemarin, yang punya rumah datang menagih uang sewa kontrakan tapi uangnya sudah ludes buat foya-foya sedangkan Johan, kekasihnya juga tidak bisa memberikan bantuan karena baru-baru ini ibunya sakit dan butuh banyak biaya untuk berobat ke rumah sakit.
"Iya Om, aku juga sangat rindu," sahut Dewi dengan suara manjanya sambil menyandarkan kepalanya di dada dan mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah pak Hendrik.
Pria mana yang tidak tergoda dengan perempuan yang sangat cantik dan seksi ini. Pak Hendrik merasa sebagai seorang laki-laki yang sangat beruntung bisa sedekat ini. Ia pun mendaratkan ciuman di bibir merah yang menantang itu dengan penuh gairah.
Dewi memenjamkan mata untuk menikmati ciuman tersebut lalu membalas dengan lebih agresif.
"Apakah Om sudah siapin permintaanku semalam?"
"Sudah Sayang, Om bahkan akan menambahkan lagi jika kamu bisa mamuaskan diriku,"
"Itu sih, soal gampang Om,"
Pak Hendrik tersenyum lebar mendengar jawaban Dewi. Ia meraih tubuh yang sintal itu dan menggendongnya menuju kamar tamu.
***
__ADS_1
Setelah jam pertama selesai mengajar di kelas sepuluh A, ibu Elma merasa kepalanya sangat pusing karena semalan ia kurang tidur karena bermimpi buruk. Di dalam mimpinya ia melihat Eric datang ke rumahnya dan mengamuk tak jelas bahkan ia hendak mencekik lehernya. Saat itu pula ia dibangunkan oleh suaminya. Setelah itu ia tidak bisa lagi memenjamkan matanya karena selalu kepikiran dengan mimpi tersebut.
Ibu Elma minta izin dan pulang ke rumah lebih awal dengan meminta bantuan salah seorang siswa yang punya kendaraan roda dua.
Tiba di depan rumah, ia heran melihat mobil milik Dewi terparkir di halaman padahal mereka tidak pernah janjian sebelumnya.
Ibu Elma memutar gagang pintu dan pintu pun terbuka. Mulutnya sudah bergerak untuk berseru memanggil nama Dewi namun mulutnya kembali tertutup rapat karena mendengar suara aneh dari arah kamar tamu. Sekilas ia tersenyum karena pikirnya mungkin Eric sudah membuka hati buat Dewi dan mereka janjian untuk ketemuan di rumah ini.
Namun suara itu makin lama makin jelas. Ia pun mendekat ke arah kamar dan menempelkan telinganya ke dinding kamar.
"Om sangat hebat, udah tua tapi tendangan masih kuat!" kata Dewi memuji keperkasaan pak Hendrik.
Tubuh ibu Elma bergetar mendengar ucapan Dewi. Nafasnya turun-naik menahan amarah yang menyala-nyala. "Benar-benar biadab!" umpatnya dalam hati.
"Yang benar Sayang... Om juga tidak akan pernah bosan dengan gunung kembarmu ini yang indah dan kenyal, nggak seperti punyanya istriku yang sudah tidak berisi," ucap pak Hendrik sambil terkekeh.
Telinga ibu Elma menjadi semakin panas mendengar percakapan mereka. Kini ibu Elma tahu bahwa ini bukanlah yang pertama kali mereka lakukan tapi sudah kesekian kalinya membuat ia semakin marah dan tak sabar untuk melabraknya.
Suasana hening sejenak. Tak lama kemudian terdengar ******* yang saling bersahutan, makin lama makin cepat.
"Clek!" pintu terbuka dengan kasar membuat kedua insan yang sedang menyatu itu kaget bukan kepalang. Wajah memerah karena gugup dan keringat mulai mengucur. Tak sehelai kain pun yang melekat pada tubuh mereka.
Pak Hendrik segera menarik tubuh dan senjatanya dengan terpaksa dan meraih pakaiannnya yang terhambur di lantai. Dewi pun melakukan hal yang sama. Ia sama sekali tidak menduga bahwa istrinya akan cepat pulang dari sekolah sehingga ia mengabaikan untuk mengunci pintu.
"Nggak usah terburu-buru pasang pakaiannya, biar kamera saya ini bisa berdurasi panjang!" kata ibu Elma dengan muka datar penuh kemarahan.
__ADS_1
Pak Hendrik dan Dewi saling berpandangan dalam kebingungan lalu buru-buru memakai pakaiannya.
"Waoww, kalian hebat, menusuk saya dari belakang!"
"Maaf Bu, saya sudah khilaf!"
"Sudahlah Mas, sudah berkali-kali kalian lakukan dan kamu katakan khilaf. Maaf yah... perkara ini akan saya bawa ke pihak yang berwajib. Bersyukurlah karena saya masih punya sedikit perasaan sehingga tidak mengundang warga untuk mengarak kalian keliling kompleks tanpa busana. Saking asyiknya kalian dengan permainan terlarang ini sehingga tidak menyadari kehadiranku yang sudah hampor satu jam berada di luar kamar ini dan mendengar semua percakapan kalian bahkan ******* yang menjijikkan," seru ibu Elma dengan nafas yang tak beraturan. Kemara ponsel miliknya pun belum ia matikan.
"Maaf Tante, aku berjanji tak akan melakukannya lagi tapi tolong jangan laporkan kami ke polisi!" pinta Dewi dengan suara memelas.
"Puiihh, enak aja, pantas yah Eric nggak tertarik lagi sama kamu, ternyata sifatmu seperti binatang!" ibu Elma menatap sinis kepada Dewi.
Ibu Elma meninggalkan mereka lalu duduk di sofa dan mengirim video tersebut kepada Esty, anak sulung mereka dan juga kepada Eric.
"Bu, tolong videonya dihapus, apa kamu tidak malu kalau ada orang lain yang melihatnya?" ujar pak Hendrik memohon sambil berlutut di hadapan istrinya.
"Malu? Saya tidak akan pernah malu, toh, bukan saya yang berselingkuh dan asal Mas tahu, video ini sudah saya kirim kepada anak-anak kita biar mereka tahu bagaimana kebejatan ayahnya," tutur ibu Elma membuat suaminya shok.
"Dulu kamu datang ke rumah ini dengan tangan kosong jadi kamu juga harus keluar dari sini dengan tangan kosong pula!" sambung ibu Elma lagi.
"Tolong jangan usir saya, kamu 'kan tahu, saya sudah tidak punya siapa-siapa!" pinta pak Hendrik.
"Saya sudah tidak peduli lagi karena yang saya tahu sekarang kamu masih punya wanita ******. Pergilah bersamanya dan jangan pernah kembali lagi lagi ke rumah ini!"
"Dan kau, perempuan murahan, keluar dari rumahku kerena saya tidak mau ada penghianat yang mengotori tempat ini dan jangan lupa bawa selingkuhanmu ini!"
__ADS_1
Ibu Elma beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu dengan keras.