MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
72. Lebih Dari Cukup


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Johan, Eric memberikan pinjaman sebesar dua puluh lima juta. Johan sangat berterima kasih dan berjanji akan tekun bekerja setelah kembali dari kota tempat tinggal kedua orang tua Susi.


Mereka berencana untuk berangkat esok hari dan hari ini keduanya pergi ke pusat kota untuk berbelanja beberapa kebutuhan yang diperlukan pada acara pernikahan nantinya.


"Ayo, Sayang, pilih aja perhiasan lainnya, mana yang kamu suka!" kata Johan usai memilih sepasang cincin belah rotan.


Ada banyak model perhiasan emas yang terpajang dalam etalase namun Susi masih ragu dan belum percaya sepenuhnya dengan sikap Johan yang katanya sudah mau berubah dari sikapnya yang selama ini telah menorehkan luka di hati sehingga ia hanya diam terpaku.


"Sepertinya yang ini cocok buat kamu!" kata Johan lagi sambil menunjukkan satu set perhiasan.


Susi melirik perhiasan yang ditunjuk oleh Johan, modelnya sederhana tapi cantik.


"Tolong ambilkan yang ini, Mbak!" pinta Johan.


Penjaga toko itu mengambil perhiasan yang dimaksud dan menyerahkan kepada Johan.


Dengan hati-hati Johan membuka pengait kalung tersebut dan memasang pada leher Susi dan juga cincin pada jari manisnya.


"Cantik dan serasi dengan warna kulitmu!" ucap Johan dengan senyum mengembang.


Susi hanya tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Johan.


"Berapa harganya ini Mbak?" tanya Johan.

__ADS_1


"Kalau mau dibeli satu set ditambah dengan sepasang cincin tadi maka totalnya Rp 11.500.000," sahut Si penjual setelah menghitung harga perhiasan tersebut menggunakan kalkulator.


"Apa tidak sebaiknya ditunda dulu untuk membeli perhiasan, soalnya masih banyak hal yang membutuhkan biayai sehubungan dengan acara pernikahan kita," kata Susi dengan hati-hati karena takut jangan sampai Johan kecewa.


"Nggak usah khawatir, Sayang, saya ikhlas kok!" ucap Johan.


Susi tidak mau banyak protes lagi meskipun dalam hati ia penasaran, dari mana Johan mendapatkan uang sebanyak itu? Bukankah kemarin ia sempat mengeluh karena tidak punya simpanan sehingga menunda dulu waktu keberangkatannya untuk menemui calon mertuanya?


Setidaknya laki-laki itu sudah ditemukan dan mau bertanggung jawab. Itu saja yang ada dipikirannya saat ini dan menurutnya itu sudah lebih dari cukup.


"Ini barangnya, Bu!" kata penjaga toko sambil menyerahkan satu set perhiasan emas dan juga sepasang cincin belah rotan itu kepada Susi setelah Johan menyerahkan sejumlah uang untuk membayarnya.


Kemudian keduanya masih berkeliling untuk mencari barang yang lain.


"Hay Johan, pucuk di dicinta ulam pun tiba," suara seorang perempuan yang tiba-tiba muncul sontak membuat Johan dan susi berbalik.


"Apa maksud ucapanmu barusan?" tanya Johan dengan kesal karena merasa terusik dengan kehadiran wanita ini.


"Lihatlah hasilnya dari apa yang pernah kita lakukan beberapa waktu yang lalu! Sebenarnya udah lama aku ingin memberitahumu tapi nomor ponselmu nggak bisa dihubungi, aku ke rumahmu tapi selalu kosong," sahut Dewi sambil menunjuk perutnya yang sudah agak besar.


"Kamu jangan asal ngomong, yah! Tolong jangan ngarang cerita!" ucap Johan dengan wajah memerah.


"Aku nggak ngarang, kok, jadi sekarang kamu harus bertanggung jawab!" kata Dewi dengan tegas.

__ADS_1


Perdebatan tidak dapat dibendung di antara mereka dan mengundang perhatian orang-orang yang sedang berbelanja di situ. Mereka sudah jadi tontonan gratis.


Bukannya berhenti berdebat karena sudah dikelilingi oleh banyak tapi suara mereka malah semakin keras untuk mempertahankan pendapatnya.


"Ohhh, jadi karena perempuan ini kamu mau lari dari tanggung jawab? Perempuan yang sering kamu jelek-jelekkan dulu di hadapanku!" seru Dewi dengan tatapan sinis.


"Brugh!"


Susi jatuh pingsan membuat Johan jadi panik. Ia segera mengangkat tubuh kekasihnya itu dan membawa ke tempat yang aman.


"Ingat, urusan kita belum kelar!" kata Dewi sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Telinga Johan masih menangkap perkataan Dewi tapi ia tidak menanggapi lagi karena lebih fokus untuk mengurus calon istrinya.


Dengan bantuan orang-orang yang ada di situ, Susi dapat dibaringkan di salah satu toko milik seorang yang bermurah hati mau memberi tumpangan kepada mereka.


Beberapa saat kemudian Susi mulai menggerakkan tubuhnya setelah diolesi minyak angin namun matanya tetap tertutup karena kepalanya terasa berat.


Pemilik tokoh datang membawa segelas air putih hangat dan memberikan kepada Susi untuk diminum. Johan membantu Susi agar bisa duduk lalu minum.


"Apakah kamu baik-baik, aja? Atau kita ke rumah sakit sekarang!" kata Johan yang masih panik karena Susi belum membuka matanya.


"Tolong antar saya ke rumah, aja!" sahut Susi dengan suara lemah.

__ADS_1


Johan memapah Susi menuju ke parkiran dengan hati-hati setelah mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sudah membantunya.


Tak lupa juga ia menjelaskan tentang perempuan tadi, yakni Dewi yang telah membuat keonaran. Johan mengatakan bahwa Dewi itu adalah pelakor tingkat tinggi yang sangat pintar merayu dan mengarang cerita dan termasuk dirinya sudah sempat masuk ke dalam perangkapnya.


__ADS_2