Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 100 - Bonchap


__ADS_3

Assalamualaikum, ayah dari anak-anak yang sangat aku sayangi sebagai anak-anakku sendiri.


Entah dari mana aku mendapatkan keberanian  untuk menulis surat ini padamu. Mungkin, keberanian dari si kembar, terutama Syauqi yang pernah mengutarakan keinginannya untuk menjadikanku ibunya.


Saat itu, aku sudah menolak dengan isyarat. Dengan mengatakan bahwa aku tidak akan sempurna menjadi seorang ibu, tapi dia menjawab semua alasanku dengan begitu sempurna hingga aku kehilangan kata-kata.


Dan dari dia lah aku sadar, bahwa aku memang tidak sempurna tapi aku memiliki apa yang mereka butuhkan.


Salahkah jika wanita yang punya sejuta kekurangan ini melamarmu?


Apakah aku terlalu berani?


Aku ingin menjadi Ibu untuk anak-anakmu, aku ingin menjadi ibu yang menemani mereka tidur, bermain, mengerjakan tugas dan mengantar mereka ke sekolah. Aku ingin menjadi ibu yang menegur mereka saat salah, dan mendukung mereka saat benar.


Aku ingin menjadi Ibu menghapus air mata mereka saat menangis, dan selalu mengucapkan syukur saat mereka tersenyum dan berbahagia.


Aku tidak akan meminta posisi sebagai kekasih hatimu, apalagi menggantikan tahta sahabatku dalam kisah cintamu sebagai ratu di hatimu.


Aku hanya ingin memiliki posisi sebagai Ibu di dunia ini, dan di rumahmu untuk Syauqi dan Asywaq.


Saat itu Syauqi menunjukkan sebuah gambar, di mana dia mengatakan aku adalah ibu di rumah, dan Meizia adalah Ibu di surga.


Bisakah kau mewujudkan itu menjadi kenyataan?


Aku yakin, Meizia akan merestuiku. Karena aku sering sekali bermimpi bersamanya, bahkan saat aku bangun dari koma 7 tahun yang lalu. Itu karena aku bermimpi bersama Meizia. 


Saat aku jatuh dan terpuruk, saat aku merasa hidupku sudah selesai, aku merasa Meizia memberiku semangat dengan buku yang dia tinggalkan.


Dan sekarang, untuk membalas kebaikan itu, aku ingin merawat si kembar sebaik yang aku bisa. Aku akan mencintai dan menjaga mereka hingga maut mengambil nyawaku.


Aku akan berusaha tidak menjadi bebanmu meski aku punya keterbatasan yang besar.


Bisa kah kau mewujudkan keinginanku?


...🦋...


Apa yang seseorang cari dan perjuangkan dalam kehidupan?


Akhir yang indah, hanya itu.


Itu lah yang Hana, Ameer dan Meizia perjuangkan selama ini. Dan mereka mendapatkannya. Meski akhir kisahnya tak sama, tapi semua benar dan tepat pada porsinya.


"Adek masih bertanya-tanya kenapa Ummi meninggal dan itu bisa menjadi sebuah kebaikan?"


Si kecil Syauqi menggumam sembari memainkan kakinya yang berendam di dalam air sungai. "Kemudian Adek tahu jawabannya."


"Apa?" tanya Asywaq yang sejak tadi juga melakukan hal yang sama,

__ADS_1


Saat ini mereka sedang camping, menikmati waktu bersama orang-orang tercinta mereka. Di tempat yang sejuk, tenang dan indah.


Syauqi menoleh dan seketika senyum lebar tercetak di bibir bocah itu saat melihat Hana dan Ameer yang sedang mengobrol sambil tertawa di bawah pohon.


"Beberapa hari yang lalu Adek 'kan ikut Abi mengisi kajian, terus Abi menerangkan apa itu mati syahid dan siapa saja orang yang mati syahid. Salah satunya orang yang melahirkan."


"Ahem, lalu?" tanya Asywaq.


"Lalu sekarang Adek mengerti, mungkin Ummi meninggal karena Allah maunya Ummi masuk surga kali, ya, Kak. Terus surga itu katanya sangat indah, dan tempat bagi orang yang Allah cintai."


Asywaq mengulum senyum dan mengangguk pelan. Selama ini ia memang tidak banyak bicara seperti sang Adik, tapi tentu saja ia juga punya berbagai pertanyaan kenapa Ibunya meninggal saat melahirkan mereka?


"Kata Abi, apapun yang terjadi, itu semua karena Allah sayang sama kita. Udah, itu saja," kata Asywaq.


Yeah. Jawaban itu lah yang membuat ia menahan diri untuk bertanya ini dan itu. putri Ameer dan Meizia itu memilih jalan pasrah dan percaya pada ketentuan Tuhan.


"Tapi sekarang kita sudah punya dua Ibu, Adek senang sekali!" seru Syauqi girang, pancaran kebahagiaan itu terlihat jelas di matanya.


"Kakak juga senang," sahut Asywaq yang melihat kedua orang tuanya juga tampak sangat bahagia. "Sekarang semuanya baik-baik saja. Kita punya Ibu yang akan mengurus kita."


"Asyik!" seru Syauqi. "Kalau begitu nanti biar Ummi yang mengerjakan PR Adek, ya."


"Eh, tidak boleh begitu!" tegur Asywaq.


"Kan Ibu ada untuk mengurus kita, termasuk PR, kan?"


Selama ini, Syauqi sudah sangat manja pada sang Ayah, dan ketika mereka telah memiliki Hana sebagai Ibu. Syauqi justru bersikap semakin manja, seolah ia ingin membayar masa-masa saat ia tak bisa bermanja ria pada seorang Ibu.


"Mau makan, Sayang?" tanya Hana.


"Tidak," jawab Syauqi sembari bersender pada Hana. "Mau susu," rengek nya,


Hana pun mengambil botol yang memang selalu terisi susu untuk si bungsu. "Asywaq mau juga?" tanya Hana.


"Tidak, Ummi," jawab Asywaq. "Kakak mau kue saja."


Hana memberikan apa yang putrinya itu mau, setelah itu mereka sama-sama pergi ke pinggir sungai.


Ameer membantu Hana agar bisa duduk di bebatuan dan merendam kakinya dengan air sungai yang sejuk itu. Namun, sayangnya Hana tak dapat merasakan rasa sejuk itu. Mengingatkan Hana pada mimpinya dulu.


"Terima kasih," ucap Hana.


"Sama-sama, Sayang," balas Ameer sambil tersenyum, membuat Hana ikut tersenyum.


Mereka menikah, lebih tepatnya sebulan yang lalu. Dan sampai detik ini, Hana masih merasa canggung karena pria yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri itu kini telah menjadi suaminya.


Bahkan, terkadang ia masih terkejut saat bangun di kamar yang bukan kamarnya.

__ADS_1


Selama sebulan ini, Ameer memperlakukannya dengan sangat baik. Memberikan hak penuh atas dirinya dan juga si kembar. Hana pun menjalankan tugasnya dengan baik, sebagai istri dan seorang Ibu meski ia punya keterbatasan.


"Saat aku koma ...." Hana bersuara sembari menatap pantulan dirinya sendiri di dalam air sungai yang jernih. "Aku bermimpi aku melakukan ini dengan Meizia, kemudian aku memberi tahu padanya bahwa aku tidak bisa merasakan air yang sejuk di kaki ku. Dan kamu tahu apa yang Meizia katakan?"


Hana menatap Ameer yang juga menatap pantulan wajah Hana dari air. "Apa?" tanya Ameer sembari tetap mantap wajah istrinya itu di dalam air.


"Meizia bilang, tapi selama ini kamu sudah merasakannya."


Ameer mengernyitkan dahinya, ia mengangkat wajah dan menatap Hana secara langsung.


"Apa yang Meizia katakan seolah memintaku tidak mengeluh jika aku tidak bisa menggunakan kakiku, sebelumnya aku sudah bisa menggunakan kakiku dengan sangat baik."


Ameer mengulum senyum mendengar pernyataan sang istri. "Kita bertiga seperti ada dalam lingkaran yang tidak ada ujungnya," kekeh Ameer.


"Hem, dan lingkaran itu semakin kuat dengan adanya mereka." Hana menatap si kembar yang kini asyik bermain air sambil tertawa ria. "Mereka sangat bahagia, membuatku juga selalu merasa bahagia."


Ameer merangkul Hana dengan lembut dan berkata, "Bukan kah seorang Ibu memang selalu begitu? Kebahagiaan anak-anaknya adalaha kebahagiaan terbesar bagi dirinya."


Hana mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia mencoba menggerakkan kakinya yang ada di dalam air dan sekilas ia melihat seperti ada bayangan Meizia di dalam air yang sangat jernih itu.


Hana hanya bisa tersenyum, dan berharap kebahagiaan yang lebih besar akan menanti di sana.


Dia juga tidak akan pernah melupakan wanita yang pernah Ameer bawa di malam itu, saat hujan turun dengan sangat deras. Saat keluarga Hana dan keluarga Ameer berkumpul menunggu kedatangan Ameer.


Ameer justru datang bersama seorang wanita, dan itu adalah Meizia. Sahabat terkasih Hana dan cinta sejati Ameer.


...🦋...


Assalamualaikum, saudariku.


Aku menulis surat ini untuk mengutarakan apa yang menjadi keinginanku dan juga keinginan anak-anakku. Meski aku sungguh tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengutarakan keinginanku, apalagi mengingat dulu aku pernah melukai hatimu.


Namun, beberapa hari yang lalu tanpa sengaja aku mendengar percakapanmu dengan putraku. Dia ingin kamu menjadi ibunya. Aku pun kembali menanyakan hal itu pada Syauqi juga pada Asywaq, mereka begitu antusias dan mengatakan mau saat aku bertanya apakah mereka mau jika Tante Hana menjadi ibu mereka.


Selama ini, aku juga sering memimpikan istriku dan juga dirimu. Dalam mimpi itu istriku selalu mengatakan "Ada Hana di luar rumah, tidak kah kamu ingin membuka pintu? Dia butuh tempat berteduh, dan anak-anak akan senang dengan keberadaannya."


Awalnya, aku mengabaikan hal itu hingga aku menyadari mungkin itu restu darinya.


Tapi, aku juga tidak bisa berbohong padamu, Hana. Meizia masih sangat aku cintai, masih selalu aku rindukan dan namanya masih terukir dengan sempurna di hatiku.


Jika kau menerima keinginanku dan keinginan anak-anakku untuk menjadikanmu sebagai ibu rumah tangga di rumah kami, maka aku akan memberikan tempat khusus untukmu di hatiku. Aku juga akan mengukir namamu di hatiku, dan menjadikanmu ratu di sisa hidupku.


Aku ingin meminangmu, Hana. Menjadikanmu ibu dari anak-anakku.


Aku ingin menjadikanmu pendamping hidupku, aku ingin menggengam tanganmu dalam mengejar butiran tasbih cinta-Nya. Hingga maut yang memisahkan.


Bersedia kah kamu, saudariku? Menerima kami bertiga yang ingin menjadikanmu ratu kami?

__ADS_1


...🦋...


__ADS_2