
Meizia membuka mata secara perlahan dan senyum tipis tersungging di bibirnya saat melihat sang suami. "Ameer?" panggil Meizia dengan suara lemah.
Ameer yang mendengar suara sang istri tampak terkejut sekaligus senang. "Ya Allah, akhirnya kamu membuka mata, Zia," kata Ameer yang langsung membuat Meizia tersenyum lebih lebar.
"Tadi aku pusing," rengek Meizia. "Badanku panas, perutku sakit, jadi aku tidur," tambahnya yang membuat Ameer hanya bisa mengulum senyum.
Jelas-jelas dirinya pingsan, tapi Meizia justru merasa ia hanya tertidur.
"Jadi kamu tidur?" Ameer membelai pipi sang istri yang pucat.
"Iya, aku merasa lemas, seperti tidak punya tenaga," jawab Meizia dengan polosnya. Ia pun menatap ke sekeliling kamar dan menyadari itu bukan kamarnya. "Ameer, ini—"
"Kamu pingsan, Sayang," tukas Ameer yang membuat Meizia terbelalak.
"Pi-pingsan?" tanyanya terbata-bata.
Ameer hanya mengangguk pelan.
"Anak-anak kita?" Meizia langsung tampak sangat cemas, ia memegang perutnya dan seketika ia bernapas lega masih merasakan adanya kehidupan di sana.
"Dokter bilang semuanya baik-baik saja, tapi kamu kurang minum air putih, itu lah yang membuat kamu merasa pusing dan lemas." Ameer memberi tahu dengan pelan dan hati-hati, berharap istrinya tak cemas.
"Ya Allah, jadi ini salah ku," gumam Meizia sembari mengusap perut buncitnya. "Maafin Ummi, Sayang, Mama janji setelah ini akan minum lebih banyak dan memastikan kita akan kita baik-baik saja."
"Abi juga minta maaf," sambung Ameer yang juga mengusap perut sang istri. "Abi terlalu sibuk bekerja sampai lupa mengurus kalian."
"Bukan salah mu," kata Meizia sembari menggengam tangan Ameer. "Karena aku sudah bangun, ayo kita pulang," ajak Meizia kemudian.
"Sayang, Dokter bilang kamu boleh pulang besok pagi, setelah Dokter memastikan kamu dan anak-anak kita baik-baik saja."
"Oh ya? Apa kita akan menginap di rumah sakit malam ini?"
__ADS_1
Ameer hanya mengangguk.
"Baiklah, asal kamu jangan pergi," pinta Meizia sambil tersenyum.
"Tidak akan, aku akan tetap di si—"
Ucapan Ameer terhenti saat tiba-tiba pintu terbuka, Ameer dan Meizia langsung menatap ke arah pintu dan keduanya terkejut melihat Ummi Nayla yang datang dengan wajah sembab, terlihat cemas dan sedih.
"Ada apa, Ummi?" tanya Ameer.
Ummi Nayla sudah membuka mulut hendak menjawab, tetapi kemudian ia melihat Meizia yang menatapnya dengan bingung.
"Mei, akhirnya kamu sadar juga, Sayang," ujar Ummi Nayla sembari melangkah lebar mendekati menantunya itu.
"Ummi kenapa? Apa mencemaskan aku yang pingsan kata Ameer?" tanya Meizia. "Aku baik-baik saja, Ummi, aku hanya sedikit pusing dan aku tertidur," celotehnya yang membuat Ummi Nayla justru kembali ingin menangis.
Ia ingin memberi tahu Ameer apa yang terjadi, tapi ia juga tak mungkin memberi tahu Meizia. Ummi Nayla takut nanti Meizia terkejut dan sedih, di mana itu bisa berakibat buruk untuk kandungannya.
"Iya, Sayang, Ummi cemas sekali," kata Ummi Nayla sembari mengusap kepala Meizia. "Tapi sekarang Ummi sudah lega melihat kamu sadar dan baik-baik saja."
Ameer langsung berdiri dan mengangguk. "Sayang, tunggu sebentar, ya?" pintanya dengan lembut.
"Iya," jawab Meizia tanpa curiga.
Ummi Nayla pun membawa Ameer ke luar dan Ameer langsung bertanya, "Apa wanita itu memang Hana?" tanya Ameer.
Ummi Nayla hanya mengangguk sembari menyeka air mata yang lagi-lagi tumpah.
"Astagfirullah, bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" pekik Ameer.
"Bukan hanya Hana, Ameer, tapi ibunya dan juga Syafiq, mereka bertiga mengalami kecelakaan."
__ADS_1
Ameer terbelalak, ia merasa tak percaya dengan kabar itu. Namun, ketika ia melihat mata sang Ibu, Ameer tahu itu memang terjadi.
Ummi Nayla pun membawa Ameer menemui keluarga Hana juga keluarga Syafiq yang kini sedang menunggu operasi anak-anak mereka. Ia juga menceritakan pada Ameer bagaimana kecelakaan itu terjadi menurut polisi yang menangani kasus kecelakaan ini.
Seketika Ameer teringat dengan kecelakaan di jalan menuju ke rumahnya, kecelakaan yang membuat ia harus terlambat sampai di rumah. Ameer tak pernah menyangka, ternyata justru keluarganya yang mengalami tragedi itu.
Saat Ummi Nayla juga memberi tahu bahwa ibunya Hana tak bisa diselamatkan, seketika Ameer tak mampu lagi melangkah, bahkan untuk bernapas terasa sulit.
"Ini sangat berat, Nak," lirih Ummi Nayla. "Tapi kita harus kuat, Riana dan Hana membutuhkan kita."
Ameer tak merespon, Tante-nya itu sudah ia anggap Ibu sendiri. Bahkan, mereka juga sangat dekat. Seperti Ameer dan Ummi Nayla. Lalu bagaimana sekarang Ameer bisa kuat menerima fakta bahwa ia harus kehilangan wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri?
"Ameer?" Ummi Nayla menyentuh lengan Ameer dan seketika air mata putranya itu tumpah.
Ummi Nayla langsung memeluk Ameer, menenangkannya. "Bagaimana bisa ini terjad, Ummi? Kenapa begitu tiba-tiba?" lirih Ameer.
"Hana akan menikah, semuanya sudah disiapkan dengan sangat sempurna. Tapi kenapa tragedi ini harus terjadi?"
"Jangan berkata begitu, Nak," pinta Ummi Nayla. "Kita harus percaya bahwa semua ini terjadi karena kehendak-Nya."
Ameer menarik napas, mengatur dadanya yang bergemuruh hebat, ia menyeka air matanya.
"Hana dan yang lainnya masih membutuhkan kita, Ameer, dan tolong jangan beri tahu ini pada Meizia," pinta sang Ibu. "Ummi tidak mau dia shock, itu bisa berbahaya bagi kandungannya."
Ameer hanya mengangguk pasrah, ia melihat Riana yang masih menangis di pelukan Ilyas. Sementara Abi Thohir duduk merenung dengan tatapan kosong. Di sana juga ada kedua orang tua Syafiq yang berada dalam keadaan yang sama, mereka terlihat hancur.
Ameer berharap semua ini hanya mimpi buruk, yang akan hilang saat ia terjaga. Pernikahan Hana dan Syafiq tinggal menghitung hari, semua persiapan sudah sempurna dan sebelumnya semua orang begitu bahagia. Namun, kenapa sekarang semuanya berbeda?
Sementara di sisi lain, Meizia melihat ponsel Ameer yang tertinggal. Ia pun mengambil ponsel suaminya itu, mencari kontak Hana dan mengirimkan pesan pada sahabat yang sudah ia anggap kakak sendiri.
"Aku tadi pusing dan tertidur, tapi pas bangun aku ada di rumah sakit. Eh, ternyata aku pingsan. Tapi aku tidak sakit, Han, jadi jangan khawatir. Oh ya, besok pagi kalau kamu mau menjengukku, tolong bawakan selusin apel dan anggur, ya."
__ADS_1
Meizia tersenyum saat menulis pesan manjanya itu, ia pun mengirimkan pesan tersebut tanpa ragu. Namun, setelah beberapa menit menunggu, pesan itu masuk centang satu.
"Tumben," pikir Meizia.