
Kamu selalu bertanya-tanya kenapa aku membuat hidup mu begitu tersiksa, dan aku selalu mengatakan karena itu memang takdir mu. Harus kah aku mengatakan nya bahwa bukan hanya kamu yang marah atas keadaan hidup kita? Aku juga marah, aku juga tersiksa sampai aku tidak tahu harus melakukan apa selain melampiaskan nya padamu, Meizia!
Sama seperti kamu, aku juga di paksa tenggelam dalam dunia hitam itu. Aku ingin berhenti dan pergi, tapi tidak pernah bisa. Sampai akhir nya aku menemukan kamu di dalam rahim ku, hidup ku semakin hancur. Dan aku tidak tahu benih siapa yang menghasilkan kamu.
Air mata Meizia menetes hingga membasahi kertas yang ia pegang, dada nya kembali sesak membaca pesan sang ibu.
*Awal nya aku ingin membunuh mu, aku yakin kau hanya akan menjadi beban dalam hidup ku. Akan tetapi, aku tidak tega dan takut sehingga aku memutuskan membiarkan kamu tetap hidup. Saat kau mulai tumbuh, aku merasa bahagia, senyum dan tawa mu seolah membuat aku bisa melupakan kesedihan yang selalu aku sembunyikan di balik kemarahan, dan aku ingin menyelamatkan mu dari dunia kelam ini. Namun, saat mengantarkan mu ke sekolah, atau belanja, atau bahkan hanya saat sekedar keluar rumah, orang-orang melemparkan tatapan jijik nya pada kita. Bahkan pada mu yang masih suci, membuat ku kembali sedih dan marah hingga akhir nya aku memaksa mu masuk ke dunia ku. Aku berpikir, tak ada tempat untuk kita di luar sana. Jadi untuk apa kita keluar dunia kita?
Namun, sekarang aku sadar, di luar sana ternyata masih ada tempat untuk orang-orang seperti kita. Kamu telah membuktikan itu benar, kamu telah menemukan tempat yang luar biasa, di sisi suami mu.
Meizia, kamu memang terlahir dari dosa Mama, bahkan kehadiran kamu selalu mengingatkan Mama bahwa selama ini Mama telah hidup dalam dosa. Walaupun begitu, sebenarnya Mama sangat sayang pada mu. Hanya saja rasa sayang itu kalah dengan kemarahan dan kebencian akan keadaan hidup Mama.
__ADS_1
Jadi sekarang Mama akan pergi, jauh dari kamu. Dan jangan pernah mencari Mama, jangan mengingat Mama. Karena Mama tahu, setiap kali kamu melihat Mama kamu akan teringat dengan masa kelam yang Mama berikan dalam hidup kamu.
Maaf, Mama minta maaf atas segala nya. Semoga kamu bahagia di jalan yang kamu tempuh sekarang*.
Isak tangis Meizia tak bisa di bendung membaca surat dari Mami Lala, kata sayang dan maaf yang tak pernah ia dengar selama 22 tahun dalam hidup nya, kini sang Ibu menuliskan dua kata itu dalam sepucuk surat.
Meizia bahagia karena ibunya telah mengaku sayang pada dirinya, tetapi ijuga sedih karena kini sang ibu telah pergi.
"Ssshhtt, jangan menangis!" Ameer menyeka air mata Meizia sebelum akhir nya menarik sang istri ke dalam dekapan nya. Tangis Meizia pecah, kemarahan dan kekecewaan nya pada sang Ibu memang besar, tapi tak kalah besar dari cinta nya.
"Kamu berhasil," bantah Ameer dengan cepat. "Dengan Mama kamu masuk penjara, kamu telah mengeluarkan dia dari dunia kelam itu, kamu berhasil, Sayang."
__ADS_1
Meizia tak merespon, ia hanya menyembunyikan wajah nya yang basah karena air mata di dada Ameer. Sampai baju suami nya itu basah.
"Sekarang dia sudah memilih jalan nya sendiri, begitu pun kamu." Ameer melanjutkan. "Tidak ada yang perlu di sesali, yang perlu kita lakukan hanya fokus pada masa depan yang lebih baik."
Meizia mengangguk, ia mengangkat wajah nya dan menyeka sisa air mata di pipi nya. "Ayo kita pulang," ajak Meizia. "Tiba-tiba aku lapar dan ingin makan masakan Ummi."
Ameer terkekeh sambil mengangguk.
Ameer melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Meizia yang masih menggengam surat dari Mami Lala. Tatapan istri nya itu masih tampak sedih, itu sangat wajar karena bagaimana pun juga ikatan antara ibu dan anak takan bisa lepaskan. Namun, Ameer senang karena Meizia benar-benar tak ingin mencari ibunya lagi.
Sementara Meizia tahu, apa yang ibu nya katakan benar. Mereka berdua akan saling mengingatkan pada masa yang seharusnya mereka lupakan.
__ADS_1
Meizia merobek surat itu kemudian membuangnya ke luar mobil, membiarkan angin membawa setiap robekan kecil dari kertas itu, pergi entah ke mana. Sama seperti rasa sakit Meizia yang juga telah pergi.
...🦋...