Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 6 - Fakta Tentangnya


__ADS_3

"Assalamualaikum?" seru Ameer saat ia masuk ke dalam rumah.


"Waalaikum salam," sahut sang Ibu yang langsung menghampiri Ameer. "Mana?" Ibunda tercinta Ameer itu langsung menadahkan tangannya pada Ameer sementara Ameer hanya meringis, ia tahu ibunya meminta hadiah pashmina itu.


"Aku pinjamkan ke teman, Ummi," kata Ameer yang seketika membuat Ibunya terlihat bingung.


"Sejak kapan Rizal pakai pashmina?" tanya Ummi Nayla karena yang ia tahu teman Ameer adalah Rizal.


"Bukan Rizal, Ummi," bantah Ameer sambil tertawa. "Tapi em ... Meizia," cicitnya.


Jelas sang Ibu semakin terlihat bingung mendengar jawaban putranya itu. "Meizia wanita yang kamu sukai itu?" tanyanya.


Ameer mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Kenapa bisa kamu pinjamkan sama dia?"


"Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan dia di jalan, Ummi," jawab Ameer sambil merangkul sang Ibu dan membawanya masuk. "Dia pakai baju pendek sedangkan cuaca sangat dingin, jadi aku pinjamkan takutnya dia masuk angin," pungkasnya.


"Takut dia masuk angin atau takut tatapanmu ternoda?"


"Ya begitulah."


Ummi Nayla hanya bisa menghela napas panjang mendengar penjelasan Ameer.


"Aku pergi ke kamar dulu, Ummi, selamat malam."


Ameer mengecup pipi Sang Ibu sebelum pergi ke kamarnya, begitu juga dengan Ummi Nayla yang langsung pergi ke kamar, menemui sang suami.


"Abi, kita harus menemui orang tuanya Meizia," seru Ummi Nayla tanpa basa-basi yang membuat Abi Zaid tercengang.


"Maksudnya?" tanya Abi Zaid.


"Tadi Ameer bertemu dengan wanita itu, aku takut hubungan mereka semakin jauh tanpa ikatan yang jelas. Ini berbahaya, Abi," tukas Ummi Nayla penuh penekanan. "Mereka berdua sama-sama dewasa, bisa timbul fitnah ."


"Besok pagi kita bicarakan ini dengan Ameer, Ummi," ujar Abi Zaid kemudian.


"Malam ini saja, jadi besok pagi kita bisa langsung menemui Meizia dengan orang tuanya."


...🦋...


Meizia meringis saat menatap pantulan dirinya di cermin sambil memegang pipinya yang sudah memar karena pukulan sang Ibu. Rambutnya yang tadi tertata rapi kini sudah acak-acakan karena ditarik dan dijambak oleh ibunya.


Air mata terus mengalir deras meskipun ia sudah menyekanya berkali-kali.


Ini bukan kali pertama Meizia mendapatkan tamparan ataupun pukulan dari ibu kandungnya sendiri, bakan Meizia juga pernah dicambuk hingga pingsan hanya karena ia mencoba melarikan diri.


"Ya Tuhan, kenapa tidak Engkau ambil saja nyawaku dari pada Engkau terus menyiksaku lahir batin seperti ini," gumam Meizia dengan pilu.


"Kejam sekali takdir yang Kau tuliskan untukku."

__ADS_1


Meizia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan sehingga sekarang ia hanya bisa menyalahkan takdir.


Masih dengan pakaian yang tadi, bahkan masih memakai jaket Ameer, Meizia naik ke atas ranjang. Ia meringkuk, menangis meratapi nasibnya yang sungguh tragis.


Kata-kata sang ibu pun terus terngiang-ngiang dalam benaknya.


"Kamu itu lahir dari dosa, Meizia! Membawa dosa dan akan selalu hidup dengan dosa, itu takdirmu jadi terima saja!"


Kata-kata yang seperti cambukan itu terus diingatkan oleh Mami Lala setiap kali Meizia mencoba melawan takdirnya sebagai seorang wanita malam. Apalagi Meizia lahir dari seorang pelacur sekaligus mucikari, tanpa diketahui siapa ayahnya.


"Biarkan aku mati, Tuhan!" gumam Meizia sebelum ia menjemput alam mimpi.


...🦋...


Keesokan harinya ....


Meizia bangun saat hari sudah siang bahkan matahari sudah sangat tinggi.


Ia yang merasa lapar langsung keluar dari kamarnya tetapi Meizia dikejutkan dengan suara dessahan dari kamar sang Ibu yang tepat berada di kamarnya.


seketika Meizia tampak sangat kesal, ia langsung menggedor kamar Ibunya itu sambil berteriak, "Jangan di sini, Ma! Aku mohon!"


"Jangan ganggu Meizia! Atau kamu mau menggantikan Mama?" teriak sang Ibu dari dalam kamar.


Meizia hanya mengerang kesal kemudian ia kembali mengunci diri di kamarnya. Meizia menutup telinganya dengan earphone dan ia menyetel musik dengan volume tinggi agar tak mendengar suara menjijikan itu.


"Padahal dia sudah janji rumah ini akan menjadi tempat bersih kita, tapi kenapa dia melakukan itu di sini. Aku benci sama Mama!"


...🦋...


Sementara di sisi lain, Ameer dan kedua orang tuanya kini sudah memasuki perumahan tempat tinggal Meizia.


Saat Abi Zaid mengajak Ameer menemui orang tua Meizia, pria itu dengan semangat menyetujuinya. Berharap dengan cara itu Meizia akan memberinya satu kesempatan untuk mendekat.


"Kamu yakin rumahnya di sini, Meer?" tanya Abi Zaid.


"Iya, Bi, tadi malam aku mengantar Meizia sampai depan gang di sana," jawab Ameer. "Tapi masalahnya aku tidak tahu rumah dia yang mana."


"Coba tanya sama orang, Nak," saran Bu Nayla.


Ameer pun menghentikan mobilnya tepat di sisi orang-orang yang sedang mengerumuni tukang sayur.


Ameer turun sendiri dan menghampiri ibu-ibu kompleks itu.


"Maaf, Bu, saya mau numpang tanya," kata Ameer. "Rumah Meizia di mana, ya?" tanyanya yang seketika membuat raut wajah para ibu-ibu itu berubah.


"Meizia anaknya Mami Lala?" tanya mereka dengan nada sinis.


"Saya tidak tahu siapa nama ibunya," kekeh Ameer mencoba ramah.

__ADS_1


"Di kompleks sini yang namanya Meizia yang cuma anaknya Mami Lala," sahut ibu yang lain.


"Kalau begitu ya Meizia yang itu," ujar Ameer.


Bukannya menjawab, para ibu-ibu itu justru memperhatikan penampilan Ameer dari atas sampai bawah, membuat Ameer merasa tidak nyaman.


"Di rumah cat biru, no 21," ujar salah satu dari mereka kemudian.


"Terima kasih," ucap Ameer kemudian.


"Astagfirullah, padahal wajahnya terlihat seperti pria baik-baik. Tapi masih jajan dengan pelacur, benar-benar sesat," bisik salah satu dari mereka.


"Tapi ini kali pertama ada yang mencari Meizia ke sini, biasanya orang tuh mencari Mami Lala," bisik yang lain.


"Mungkin Meizia akan mewarisi bisnis pelacuran Ibunya, jadi dia mulai dikenal."


Sementara itu, Ameer kini sudah sampai di rumah Meizia.


Ameer mengetuk pintu dan tak berselang lama, Mami Lala yang hanya memakai kimono tipis membuka pintu yang membuat Ameer dan sang Ayah langsung memalingkan wajahnya. Ummi Nayla pun hanya bisa tercengang melihat penampilan wanita di depannya ini.


"Cari siapa?" tanya Mami sambil mengikat rambutnya yang berantakan.


"Meizia, saya mencari Meizia," jawab Ameer dengan tegas dan masih memalingkan wajahnya.


Bersamaan dengan itu, seorang pria keluar dari kamar Mami Lala.


"Aku pergi dulu, Mami, terima kasih untuk sarapannya," ujar lelaki itu sambil menepuk bokong Mami Lala. "Aku sudah meninggalkan cek di ranjang."


"Terima kasih kembali, Honey," ujar Mami Lala yang membuat Ameer dan kedua orang tuanya meringis dan tentu mereka bingung melihat interaksi kedua insan di depannya ini.


"Ah ya, kalian mencari Mei?" tanya Mami Lala kemudian setelah kliennya itu pergi.


"Iya," jawab Ameer.


Mami Lala memperhatikan tiga tamu tak diundang di depannya ini dengan kening berkerut.


"Siapa yang membutuhkan Mei? Kamu atau kamu?" Ia menunjuk Ameer dan Abi Zaid secara bergantian.


"Apa maksudnya?" tanya Ummi Nayla.


"Maksudku, siapa yang butuh pelayanan Mei?"


Pertanyaan ambigu itu membuat Ameer dan kedua orang tuanya semakin bingung, dan kini pikiran mereka pun berkecamuk dan mulai mencurigai sesuatu apalagi setelah mereka bertemu pria yang tadi.


"Tidak ada," jawab Ameer. "Aku datang untuk bertemu orang tua Meizia, kami ingin berbicara hal yang penting."


Mami Lala menatap Ameer lekat-lekat dan ia teringat dengan keluhan kliennya tadi malam tentang Meizia yang pergi dengan seorang pria.


"Apa kau pacar Mei?" tanya Mami Lala yang kini memasang wajah dinginnya. Ameer sudah membuka mulut untuk menjawab tetapi apa yang dikatakan oleh Mami selanjutnya membuat Ameer tercengang. "Mei tidak bisa punya pacar, hidupnya milik pria yang berani membayarnya dengan mahal."

__ADS_1


__ADS_2