Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 15 - Mau Pergi Atau Tinggal?


__ADS_3

"Ayo kita temui ibunya dan kita minta Meizia secara baik-baik."


Ameer yang mendengar saran sang Kakek langsung melotot tak percaya.


"Sungguh? Kakek mau menemui ibunya Meizia?" tanya Ameer memastikan.


"Tentu saja," sang Kakek sambil tersenyum lembut.


"Tapi bagaimana kalau abi dan Ummi tidak setuju? Mereka sudah menolak Meizia bahkan sebelum aku melamarnya," pungkas Ameer yang tampak sedih.


"Jika kamu yakin Meizia sebenarnya bisa berubah, bisa bertarubat dan menjadi wanita yang baik. Kakek yakin orang tua mu akan memberikan kesempatan," tukas Kakek meyakinkan. "Tapi sebelum itu kamu harus meyakinkan diri kamu, bahwa kamu siap dengan semua masalah yang mungkin ada di kemudian hari nanti. Kamu juga harus memastikan apakah Meizia memang mau diperjuangkan atau tidak, oleh sebab itu ayo kita bicara sekali lagi dengan mereka."


Ameer berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk.


"Baik, kapan kita bisa menemuinya?"


...🦋...


Di sisi lain, Meizia kembali dicari oleh seorang pria bahkan pria kaya raya itu siap membayar ratusan juta hanya untuk satu malam. Tentu saja Mami Lala tampak senang dengan tawaran itu.


"Nanti malam ya, Pak, saya akan memberikan Mei khusus untuk Bapak," kata Mami Lala pada kliennya yang berada di seberang telfon.


"Katanya terakhir kali dia melayani klien dengan buruk, dia justru kabur bersama pacarnya."

__ADS_1


Senyum Mami Lala hilang saat mendengar ucapan pria itu. "Saya pastikan malam ini Mei akan melayani mu dengan baik, Pak." Mami Lala berbicara tegas dan meyakinkan.


"Itu bagus, katakan padanya aku menjemput dia jam 8."


" Baik, Pak, jangan khawatir."


Setelah berbicara dengan klien barunya itu, Mami Lala menggeram kesal. Padahal selama ini dia selalu mewanti-wanti agar semua wanita yang bekerja dengannya melakukan pekerjaan mereka dengan baik, tak terkecuali Meizia.


Mami Lala segera meninggalkan rumah bordil menuju rumahnya sendiri, dia harus menyiapkan putrinya itu sebaik mungkin.


Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak sabar untuk menceramahi sekaligus memarahi Meizia agar menjadi anak yang penurut.


Sementara itu, Meizia yang saat ini masih di rumahnya dikejutkan dengan kedatangan Ameer dan seorang pria lansia.


"Seharusnya kamu menyambut tamu dengan ramah, Nak," kata Kakek.


"Aku tidak ingin kedatangan tamu, jadi sebaiknya kalian pergi!" tegas Meizia.


"Kami datang untuk berbicara dengan ibumu, Zia," kata Ameer kemudian yang membuat Meizia sempat tercengang.


"Apalagi maumu?" tanya Meizia berusaha tenang.


"Jika ibumu ada di dalam, pertemukan kami. Dan jika dia ada di luar, tolong panggil dia." Kakek menyela, membuat Meizia semakin bingung.

__ADS_1


"Zia, aku mohon!" Ameer berkata lirih. "Berikan satu kesempatan padaku untuk meyakinkan kamu dan ibu kamu kalau kalian bisa hidup lebih baik dari ini," ujar Ameer yang justru membuat Meizia tersenyum kecut.


"Kamu tidak akan mengerti, Ameer. Hidup lebih baik dalam kamus hidup kami itu tidak ada," kata Meizia tetapi Ameer segera menyangkalnya.


"Tidak, itu ada. Aku mohon percayalah!"


"Ameer mencintai mu dengan tulus, Meizia!" seru Kakek yang membuat Meizia terhenyak. "Sudah dua kali dia datang pada Kakek untuk mencurahkan isi hatinya sekaligus meminta saran, dan Kakek rasa cinta yang Ameer miliki tidak salah."


"Tentu tidak tapi sayangnya itu tertuju pada orang yang salah," sanggah Meizia. "Apa kau tahu betapa ... kotornya aku?" Tiba-tiba suara Meizia tercekat bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Zia, yang menentukan apakah seseorang suci atau kotor hanyalah Tuhan, Nak," pungkas Kakek. "Jika kau mau, kamu membersihkan dirimu dengan taubatan nasuha. Allah itu maha pengampun, percayalah."


Meizia menitikkan air matanya, hal itu juga yang sering ia dengar di kajian Ameer tapi sayang menurut Meizia semua itu hanya sekedar kata-kata untuk mempermanis hidup.


"Ameer, cari saja wanita lain," kata Meizia kemudian ia hendak menutup pintu tetapi Ameer langsung menahannya.


"Aku sudah mencobanya tetapi aku tidak bisa," ujar Ameer. "Aku datang ke sini untuk memintamu baik-baik pada ibumu, Zia," ujarnya. "Sekaligus untuk tahu, apakah kamu ingin keluar dari dunia kelam ini atau tidak? Jika tidak, maka aku akan mundur. Tapi jika iya, aku siap menghadapi apapun untuk membawamu keluar."


Hati Meizia terenyuh mendengar kata-kata Ameer, apalagi ia dapat melihat keseriusan pria itu di matanya. Membuat Meizia kembali menumpahkan air mata.


"Tapi aku takut," lirih Meizia tertunduk.


"Aku akan menjagamu, kamu tidak perlu takut apapun," seru Ameer meyakinkan. "Sekarang jawab pertanyaanku, kamu mau pergi bersamaku atau tetap tinggal?"

__ADS_1


__ADS_2