
Ameer dan Ummi Nayla segera membawa Meizia ke rumah sakit terdekat, lokasi kecelakaan yang tadi masih cukup ramai sehingga lagi-lagi Ameer harus melewati jalur yang lain.
Hal itu membuat Ameer sangat kesal, apalagi saat melirik sang istri yang kini semakin pucat. "Tadi dia kenapa sih, Ummi?" tanya Ameer cemas.
"Ummi tidak tahu, Meer, dia bilang badannya panas, kepalanya pusing dan perutnya sakit. Ummi bawa ke kamar sambil menunggu Dokter, terus Mei memejamkan mata, Ummi pikir dia mau tidur tapi ternyata pingsan," papar Ummi Nayla panjang lebar.
Ameer melirik ke jalan di seberang, terdengar suara ambulance dan juga sirine polisi. "Sepertinya ini kecelakaan berat, Meer," kata Ummi yang entah kenapa juga cemas memikirkan kecelakaan itu.
"Sepertinya begitu, Ummi," sahut Ameer.
"Hati-hati bawa mobilnya, Nak, pelan-pelan asal sampai dengan selamat."
Ameer hanya mengangguk.
Tak berselang lama, ia sampai di rumah sakit dan Ameer langsung memanggil Dokter juga suster untuk menangani istrinya.
Mereka datang dengan membawa brankar dan meletakkan Meizia di sana. Sambil mendorong brankar itu, Ameer memberi tahu pada Dokter apa yang terjadi dengan Meizia.
"Tolong bantu istri ku, Dok, dia sedang hamil anak kembar. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan mereka," pinta Ameer, suaranya sudah bergetar dan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Baik, Pak, akan kami berikan usaha terbaik kami," tegas Dokter.
Dari arah yang berlawanan, beberapa Dokter dan Suster juga mendorong brankar seseorang dan mereka terlihat sangat tergesa-gesa, cemas dan panik. Semua itu terlihat jelas di wajah mereka.
"Ruang operasinya harus siap sekarang juga, pasien mengalami luka berat dan kehilangan banyak darah."
"Segera periksa golongan darah pasien dan siapkan beberapa kantong darah!"
__ADS_1
Ameer yang mendengar perintah Dokter juga ikut merasa cemas, hingga saat mereka berpapasan ....
"Hana?"
Ameer menggumam tak percaya, begitu juga dengan Ummi Nayla.
Para Dokter dan Suster itu membawa Hana yang bermandikan darah, membuat Ameer hanya bisa menganga lebar bahkan menahan napas.
"Tidak mungkin!" gumam Ummi Nayla.
Ameer melihat Meizia dan Hana bergantian, kini rasa cemas nya bertambah berkali-kali lipat. Bahkan, Ameer sampai berkeringat dingin dan lutut nya bergetar. Apa yang terjadi?
Istri dan adik sepupunya sama-sama masuk rumah sakit.
"Kamu jaga Meizia, Ameer. Ummi harus mencari tahu apakah itu Hana atau bukan!" seru Ummi Nayla yang tanpa sadar kini menitikkan air matanya.
Sementara Ameer hanya bisa mengangguk pasrah, ia tak bisa berpikir jernih lagi. Otaknya blank. Hingga suara Dokter menyadarkannya. "Tolong tunggu di luar, Pak!"
Para Dokter dan Suster membawa Meizia masuk ke ruang pemeriksaan.
Sementara Hana dan para Dokter juga Suster kini menghilang di lorong rumah sakit. Mereka membawanya ke ruang operasi.
"Dokter!" teriak Ummi Nayla sebelum Dokter masuk ke ruang operasi.
Ummi Nayla segera berlari dan melihat pasien yang mereka bawa, seketika air matanya mengalir deras. Itu memang Hana, keponakan yang sudah ia anggap anak kandungnya sendiri.
"A-apa yang terjadi?" tanya Ummi Nayla dengan suara yang tercekat, ia merasa tak percaya melihat keadaan Hana dalam kondisi mengerikan seperti ini.
__ADS_1
"Ibu mengenal pasien?" tanya Dokter.
"Dia keponakan ku," jawab Ummi Nayla.
"Kalau begitu panggil seluruh keluarganya, mungkin pasien akan membutuhkan donor darah dari mereka."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Dokter langsung membawa Hana ke ruang operasi karena mereka tidak boleh terlambat menyelamatkan pasien.
Sementara Ummi Nayla kini seperti orang linglung, tangannya gemetar saat mencari contact keluarga Hana. Karena terlalu cemas membuat dia sampai bingung harus menghubungi siapa lebih dulu.
Hingga Ummi Nayla memutuskan untuk menghubungi ibunya Hana, tetapi ponselnya tidak aktif. Ia pun menghubungi Abi Thohir dan tiba-tiba dering ponselnya terdengar tak jauh dari sana.
Bersamaan dengan itu, Abi Thohir dan Riana juga Ilyas datang berlari menghampiri Ummi Nayla.
"Ka-kalian di sini?" tanya Ummi Nayla.
"Bagaimana keadaan Hana, Tante?" tanya Riana sembari menyeka air matanya, wanita itu terlihat habis menangis. Bahkan, Abi Thohir dan Ilyas juga terlihat habis menangis.
"Tante tidak tahu, Nak," jawab Ummi Nayla. "Di mana ibu kalian? Ponsel nya tidak aktif."
Tangis Riana kembali pecah mendengar pertanyaan itu, membuat Ummi Nayla bingung. "Riana, ada apa, Nak?" tanya Ummi Nayla sembari memeluk Riana.
Tak ada yang menjawab, bahkan Abi Thohir kini terduduk lemas, ia menunduk dan air mata kembali jatuh membasahi pipi nya. Ilyas merangkul ayah mertuanya, mengusap punggung nya yang bergetar dengan lembut.
"Ilyas?" panggil Ummi Nayla.
"Mereka kecelakaan bersama, Tante," lirih Ilyas. "Ummi ... ummi tidak bisa diselamatkan."
__ADS_1