Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 49 - Roda Kehidupan


__ADS_3

"Kalian tidak mau merencanakan resepsi?" tanya Ummi Nayla pada Meizia.


Saat ini kedua wanita itu menghabiskan waktu bersama di rumah sembari membuat cemilan, sementara Ameer pergi bekerja dan Abi Zaid ikut ayah nya ke luar kota untuk menghadiri pernikahan putri teman Abi Zaid.


"Ummi tidak pernah mendengar kalian membicarakan resepsi," tambah Ummi Nayla.


"Kami memang belum terpikirkan ke sana, Ummi," jawab Meizia.


"Kenapa belum, Mei? Memang nya kalian tidak ingin memiliki moment yang indah dalam hidup kalian? Pernikahan itu cuma sekali seumur hidup lho, Sayang, masa tidak mau di rayakan?" tanya Ummi Nayla.


Meizia menatap wajah ibu mertua nya yang selalu tampak anggun itu, sambil tersenyum ia bertanya, "Ummi ingin Ameer mengadakan resepsi, ya?"


"Jujur saja, Ummi memang ingin sekali pernikahan Ameer menjadi kenangan yang indah untuk kami." Ummi Nayla menjawab dengan jujur, membuat Meizia langsung mengulum senyum.


"Kalau begitu kami akan segera merencanakan resepsi pernikahan," tukas Meizia. Seketika mata ibu mertua nya itu berbinar terang dan bibir nya tersenyum lebar.


"Ummi tunggu kabar baik nya, Sayang," ucap Ummi Nayla dengan penuh semangat. "Apalagi pernikahan kalian sudah lebih dari satu bulan, orang-orang juga bertanya kapan akan di adakan resepsi. Mereka tidak sabar ingin melihat Ameer di pelaminan."


"Inysaallah nanti aku akan bicara sama Ameer, Ummi, aku yakin dia pasti mau. Hanya saja akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk," pungkas Meizia panjang lebar.


"Oh ya, Mei, besok siang Ummi mau belanja untuk sumbangan ke panti asuhan, kamu mau ikut? Hana juga mau ikut kata nya."


"Iya, Ummi." Tanpa berpikir panjang Meizia menjawab dengan semangat.


Selain berhasil mendekatkan diri dengan ibu mertuanya, Meizia juga sangat berhasil mendekatkan diri dengan Hana.


Meskipun Meizia sudah berhenti bekerja, tetapi kedua wanita itu masih sering bertemu di tempat kajian kemudian menghabiskan waktu bersama untuk sekedar saling berbagi cerita.


🦋


Saat Ameer pulang dari kantor, Meizia langsung mengungkapan keinginan Ummi Nayla yang ingin mereka mengadakan resepsi.


"Aku rasa kita bisa membuat pesta sederhana," kata Meizia sembari memasukan baju kotor sang suami ke keranjang baju kotor. "Ummi menginginkan nya, Ameer, apalagi kamu adalah satu-satunya putra Ummi."


"Baiklah, nanti kita bicarakan ini dengan Abi dan Ummi," sahut Ameer dengan tenang. "Sekarang aku mau mandi dulu."


Meizia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Setelah Ameer mandi, ia mendekati Meizia yang saat ini duduk di dekat jendela sembari membaca buku. "Serius banget, Sayang, baca buku apa?" tanya Ameer sembari memberikan kecupan hangat di pelipis sang istri.


"Baca buku yang di kasih Hana, kisah seorang wanita yang menjadi kekasih Allah," jawab Meizia panjang lebar.


Ameer mengintip sampul buku yang di pegang Meizia. "Oh, kisah Rabiah adawiyah."


"He'em." Meizia hanya menggumam. "Oh ya, besok Ummi mengajak aku berbelanja, kata nya mau kasih sumbangan ke panti asuhan. Apa aku boleh ikut?"


Ameer terkekeh, istri nya ini sangat patuh dalam segala hal. Hanya sekali Ameer meminta izin pada nya jika ingin keluar rumah, bahkan meskipun itu bersama kedua orang tua nya. Dan Meizia selalu menerapkan hal itu.


"Tidak boleh," kata Ameer yang seketika membuat Meizia cemberut.


"Kenapa? Ini tidak keluar kota," protes Meizia kesal. "Ada Hana juga, boleh, ya?" pinta Meizia memelas.


"Aku lihat sekarang kamu lebih sering menghabiskan waktu bersama Ummi dan Hana, besok sabtu, aku tidak bekerja jadi waktu nya kita menikmati kebersamaan."


Meizia menaikan sebelah alis nya mendengar apa yang Ameer katakan, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.


Selama beberapa hari terakhir Meizia memang sering ikut ibu mertua nya ke berbagai acara, sedangkan Ameer selalu sibuk bekerja.


"Terima kasih, Sayang," kata Ameer yang langsung kembali memberikan ciuman untuk sang suami.


"Kembali kasih, Sayang," balas Meizia. "


......🦋......


Keesokan hari nya, Meizia memberi tahu Ummi Nayla bahwa ia tak bisa ikut.


"Kenapa?" tanya Ummi Nayla padahal ia sudah siap pergi.


"Ameer melarang ku pergi, Ummi," jawab Meizia sambil meringis. "Hari ini dia tidak bekerja, jadi kata nya ingin menghabiskan waktu bersama ku. Dia juga bilang akhir-akhir ini aku terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Ummi dan Hana, Ameer seperti merasa tidak di berikan jatah waktu," papar Meizia dengan jujur. "Jadi aku tidak tega jika tidak menemani dia hari ini."


Seketika Ummi Nayla tertawa, semakin hari ia semakin melihat kepolosan Meizia. Padahal, dulu ia sempat berpikir Meizia pasti lah tahu cara memainkan suatu peran, mengingat ia bukan wanita biasa.


Namun, satu bulan lebih tinggal di bawah atap yang sama dengan menantu nya itu membuat Ummi Nayla sadar sebenarnya wanita itu masih memiliki pemikiran dan jiwa yang polos.


Selain irit bicara, Meizia juga hanya berbicara apa ada nya.

__ADS_1


Ummi Nayla juga sadar, apapun yang ia dan Ameer ajarkan pada Meizia akan di terapkan oleh wanita itu tanpa harus di beri tahu kembali.


"Ya sudah, kalau begitu selamat menikmati waktu bersama," tukas Ummi Nayla. "Jangan lupa bicarakan soal resepsi, ya."


"Sudah kemarin sore," jawab Meizia.


"Terus? Ameer bilang apa?"


"Kata nya mau di bicarakan lagi sama Ummi dan Abi."


"Kalau begitu nanti malam kita bicara."


Tak berselang lama, Hana datang dan langsung masuk begitu saja ke dalam rumah.


"Apa semua nya sudah siap pergi?" tanya Hana yang sudah sangat bersemangat.


"Kita hanya akan pergi berdua, Han," ujar Ummi Nayla. "Ada suami yang sedang menagih jatah waktu sama istri nya." Ia melanjutkan sembari melirik Meizia.


"Kenapa tidak sekalian ajak Ameer pergi?" saran Hana.


"Aku tidak bisa." Ketiga wanita itu menoleh saat mendengar suara Ameer yang baru menuruni tangga. "Kalian pergi saja, aku sedang ingin menghabiskan waktu bersama istri ku."


"Seperti pengantin baru saja," cibir Hana.


"Kami akan selalu menjadi seperti pengantin baru," kata Ameer sembari tertawa kecil. "Semoga kalian bersenang-senang." Ia merangkul Meizia, seolah menjelaskan bahwa Meizia takkan ikut.


Ummi Nayla dan Hana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Ameer, mereka pun segera pergi karena hari sudah semakin siang.


"Meizia banyak berubah sekarang ya, Tante," ujar Hana yang kini masuk ke mobil Ummi Nayla.


"Masih sama, Han, masih irit bicara, tapi sekalinya bicara bisa panjang seperti tadi," kekeh ummi Nayla.


"Mungkin karena sejak kecil dia hidup dalam tekanan, jadi terbiasa tidak banyak bicara."


"Hem, Alhamdulillah sekarang Allah mengganti masa kecil nya yang menyedihkan dengan masa dewasa yang indah."


"Itu lah roda kehidupan, Tante, gelap itu tidak abadi, begitu juga dengan terang."

__ADS_1


__ADS_2