Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 93 - Kehidupan Yang Baru


__ADS_3

Mudah sekali mengatakan hidup itu tidak adil, dan mudah sekali meminta seseorang bersabar atas kehidupan yang dirasa tidak adil.


Yeah, terkadang semua terasa mudah padahal begitu sulit dijalani. Dan terkadang ada yang terasa tak mungkin sanggup dijalani padahal belum dijalani sama sekali. Itu lah manusia dan itu lah takdir mereka.


"Abi?"


"Abi, ayo bangun!"


"Abi ... huaa, nanti adek pipis di sini lho."


Ameer yang saat ini masih terlelap harus terganggu dengan suara cempreng putranya itu, ia menguap sembari mengucek matanya yang terasa begitu berat.


"Apa, Sayang?" tanya Ameer dan dengan perlahan ia membuka mata, seketika senyum lebar mengembang di bibirnya saat melihat wajah cemberut putra kecilnya itu.


"Adek mau pipis, Abi, tapi kaka tidak mau mengantar," rengek si bungsu dan di si tampan Syauqi, atau yang biasa dipanggil Adek sesuai dengan statusnya itu.


"Ih, kan adek sudah besar, masa masih minta diantar," sambung Asywaq, si sulung dan si cantik putrinya itu.


"Baru 7 umurnya, itu belum besar," kata Syauqi merajuk.


"Itu sudah besar!" seru Asywaq.


"Tidak, kan adek itu adek jadi masih kecil."


"Baiklah, baiklah ... adek masih kecil, tidak apa-apa," kata Ameer. Ia pun beranjak dari ranjangnya meskipun ia masih merasa begitu mengantuk, bahkan tubuhnya terasa begitu letih. Karena kelelahan itu lah ia langsung tertidur setelah sholat Isya, dan setelah melirik jam baru ia tahu ini baru jam 9 malam.

__ADS_1


"Ayo, kakak juga gosok gigi setelah itu tidur, sudah jam 9, Sayang."


"Iya, Abi, lima ayat eh jangan, enam iya enam ayat lagi," jawab Asywaq yang membuat Ameer mengulum senyum.


Itu lah alasan putrinya tak mau mengantar Syauqi ke kamar mandi, gadis kecil itu sedang fokus menghafalkan Al-Qur'an karena esok hari ada lomba antar sekolah dasar. Asywaq terpilih untuk mewakili sekolah nya.


Itu adalah pencapaian yang membuat Ameer takkan pernah bisa berhenti bersyukur, sejauh ini ia berhasil menjadi orang tua yang baik untuk si kembar meski ia harus menyandang status orang tua tunggal.


Dan yeah, tak terasa ia telah berjuang selama 7 tahun. Berjuang melupakan rasa sakit karena kehilangan istri yang sangat dicintainya, berjuang menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk si kembar. Namun, tentu ia tak benar-benar sendiri karena ada orang tua dan kedua kakak perempuannya yang selalu setia membantu Ameer.


"Abi," panggil Syauqi dengan lirih saat ayahnya itu mencuci tangan dan kakinya.


"Kenapa, Nak?" tanya Ameer dengan lembut.


Syauqi terdiam, ia tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi masih ragu. Dan Ameer tahu hal itu. "Apa, Sayang? Katakan saja," tegas Ameer. "Ingat 'kan apa yang selalu Abi katakan? Abi adalah sahabat Adek dan Kakak, jadi kalian bebas untuk bercerita apa saja pada Abi."


"Tentu saja, Sayang," jawab Ameer dengan suara sedikit tercekat. Ia pun menggendong anaknya itu dan membawanya ke ranjang. "Tapi kenapa adek bertanya begitu?"


"Karena katanya orang akan mendapatkan yang mereka minta dalam doa, tapi kenapa kami tidak punya Ibu?"


Mata Ameer langsung terasa panas, dadanya langsung berdebar mendengar apa yang dikatakan putranya itu.


Dulu, mereka juga pernah bertanya seperti itu tapi Ameer menjelaskannya sebaik mungkin. Mereka tampaknya mengerti karena setelah itu kedua anaknya tak lagi bertanya, tetapi setelah sekian lama, kini pertanyaan serupa kembali terlontar dari bibir putranya.


Sementara Asywaq yang mendengar pertanyaan adiknya itu langsung mendongak, menatap sang adik dengan tajam seolah menegurnya.

__ADS_1


Si bungsu itu hanya bisa menelan ludahnya dan ia tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. "Aku hanya bertanya apa yang sering teman-teman tanyakan, kenapa kami bisa tidak punya ibu," cicitnya.


"Dek?" tegur Asyawaq.


"Tidak apa-apa, Kak," seru Ameer dengan cepat sambil tersenyum. "Justru Abi senang kalau kalian tidak menyembunyikan apapun."


Ia pun mendekati putrinya itu, hendak menggendongnya dan membawanya ke ranjang tapi putri sulungnya yang merasa dewasa karena berstatus sebagai kakak itu tentu saja langsung menolak.


"Kakak sudah besar, Bi, tidak boleh digendong lagi." Ia berjalan dan merangkak naik ke atas ranjang, Ameer yang melihat hal itu hanya bisa mengulum senyum. Ada rasa bangga karena putrinya mau bersikap dewasa dan bertindak layaknya seorang kakak, tapi ia juga sedih karena dia harus dewasa sebelum waktunya.


"Ibu juga selalu berdoa selama ini, Sayang," kata Ameer kemudian yang juga mengikuti anak-anak nya naik ke ranjang.


"Memangnya ummi berdoa minta apa, Bi?" tanya Syauqi.


"Ummi berdoa meminta Tuhan mencintainya dan menempatkannya di tempat yang terbaik dan suci," jawab Ameer. "Dan dia akan menunggu kita di sana."


"Kenapa kita tidak dibawa saja, Bi? Biar tidak berpisah dan tidak akan ada lagi yang bertanya kenapa kami tidak punya Ibu."


"Adek ih, jangan diingat-ingat lagi kata mereka," tegur si sulung lagi yang membuat Ameer tertawa kecil tetapi sorot matanya tampak sedih.


"Sayang, ada beberapa hal yang tidak bisa manusia putuskan sendiri. Kematian, jodoh dan rezeki. Kita hanya bisa pasrah pada Allah, dan yakin kita akan mendapatkan yang terbaik."


"Apakah kematian Ummi itu yang terbaik untuk kita, Abi? Bukankah kematian itu menyedihkan? Lalu kenapa apakah sesuatu yang menyedihkan bisa dianggap sebagi sesuatu yang terbaik?"


...🦋...

__ADS_1


Silakan jika ada yang mau jawab.😀


__ADS_2