
"Assalamualaikum!"
Syafiq menoleh saat mendengar suara lembut itu, seketika senyum lebar mengembang di bibirnya melihat calon istrinya berdiri di hadapannya.
"Waalaikum salam, Hana," jawab Syafiq. "Kamu dari mana?" tanyanya yang kini memasang wajah serius.
"Mencari keadilan dalam takdir." Jawaban calon istrinya itu membuat Syafiq tercengang. "Haruskah aku bertanya kenapa semua ini terjadi padaku, Syafiq?"
"SYAFIQ?"
"Sayang, Syafiq?"
Ibunya Syafiq terkejut saat tiba-tiba terdengar bunyi beep dari monitor, sementara air mata mengalir dari kedua sudut mata Syafiq.
Wanita paruh baya itu langsung menekan tombol di dekat ranjang untuk memanggil Dokter dan Suster, selang beberapa saat Dokter dan suster pun datang untuk memeriksa keadaan Syafiq. Hal ini sudah terjadi untuk kedua kalinya, membuat ia khawatir tapi juga berharap kali ini Syafiq benar-benar sadar.
Di dalam, perlahan Syafiq membuka matanya. Samar-samar ia melihat Dokter dan Suster yang memeriksanya. Namun, yang ada dalam benaknya saat ini adalah Hana.
Bayangan akan kecelakaan itu kembali berputar dalam benak Syafiq, membuat ia mengerang lirih, merasa sakit di bagian kepalanya. Kecelakaan itu terlalu mengerikan untuk diingatnya.
"Pak, kau bisa mendengarku?" tanya Dokter yang melihat Syafiq sudah membuka mata. Syafiq hanya berkedip pelan. "Syukurlah, kami akan memberi tahu keluarga mu bahwa kau sudah sadar, Pak."
"Ha ... na?" bisik Syafiq sekuat tenaga.
"Tunggu sebentar, kami akan memanggil ibumu." Dokter segera memerintahkan Suster untuk memanggil Ibu Syafiq.
"Ummi?" bisik Syafiq yang bahkan tak dapat mendengar suaranya sendiri. Ia begitu terharu saat melihat sang ibu.
Sementara sang Ibu kini langsung menangis penuh haru, merasa tak percaya bisa melihat putranya kembali membuka mata. Puji syukur terus terucap di bibir maupun hatinya.
"Alhamdulillah, Nak, do'a Ummi akhirnya terkabul." Ia mengusap kepala Syafiq dengan lembut. "Kamu harus kuat ya, Nak, kamu harus sembuh."
Syafiq tak bisa menanggapi ucapan sang ibu, ia hanya bisa menatapnya dengan nanar dan kembali menggumamkan nama Hana.
__ADS_1
"Ha ... na, Ummi."
Sang Ibu terdiam, tak mungkin memberi tahu bahwa Hana masih koma dan ibunya sudah meninggal. Sementara Syafiq tak bisa berhenti memikirkan Hana, merasa ia bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi.
"Dia baik-baik saja," jawab sang Ibu sambil tersenyum. "Meraka baik-baik saja."
Mendengar jawaban ibunya, Syafiq terlihat sedikit lega. Ia juga mengucapkan puji syukur dalam hati.
Kabar Syafiq yang telah bangun dari komanya telah sampai di telinga Ameer dan keluarganya, mereka turut senang dan bersyukur. Begitu juga dengan Riana dan Abi Thohir.
Bahkan, mereka berdua langsung menjenguk Syafiq secara bergantian. Tentu saja mereka disambut hangat oleh calon suami Hana itu, meski mereka tak dapat banyak mengobrol, tetapi mengetahui Syafiq kini baik-baik saja sudah membuat meraka senang.
"Bagaimana dengan Hana?" tanya Syafiq dengan suara yang masih terdengar begitu lemah dan pelan.
"Dia baik-baik saja," jawab Riana sambil tersenyum tipis.
"Aku ingin melihatnya."
"Maafkan aku."
Riana terdiam saat Syafiq membisikan kata maaf itu, ia tahu Syafiq pasti merasa bersalah dan merasa harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Riana juga tahu semua itu bukan salah Syafiq, tapi bisakah dia menyalahkan calon adik iparnya itu untuk melampiaskan rasa sakitnya?
"Aku salah." Syafiq kembali berbisik, membuat Riana tersadar.
"Ini sudah takdirnya," sahut Riana. "Semoga kamu cepat pulih, Syafiq." Syafiq hanya berkedip pelan, sementara Riana kini bergegas keluar dari ruang rawat Syafiq.
"Ri?" panggil Ibunya Syafiq yang melihat Riana menyeka air matanya. "Kalian bicara apa saja?" tanyanya.
"Tidak ada yang serius, Tante," jawab Riana sembari mengulum senyum tipis. "Tapi ... perjodohan mereka dibatalkan."
Kedua orang tua Syafiq terperangah mendengar pernyataan Riana yang sangat di luar dugaan itu. "Kenapa, Ri?" tanya ayahnya Syafiq. "Apa karena Syafiq yang menjadi penyebab kecelakaan itu?"
"Iya," jawab Riana dengan suara tercekat.
__ADS_1
Kedua orang tua Syafiq hanya bisa tercengang mendengar jawaban Riana, mereka tak sanggup berkata-kata. Hanya bisa menatap Riana yang kini berjalan menjauh dari mereka.
"Ini tidak adil, Bi," ucap ibunya Syafiq. "Kita jauh-jauh datang ke sini hanya untuk dibuang karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja?"
"Biar aku bicara dengan ayah Hana," kata Abi Ahmad untuk menenangkan istrinya itu. "Tidak perlu ambil hati apa kata Riana, dia masih terlalu muda dan emosinya masih labil. Dia kehilangan ibunya dan adiknya masih koma, sudah pasti dia akan menyalahkan Syafiq."
Sementara di sisi lain, Abi Thohir menatap putrinya yang masih tertidur bak putri tidur, tak bergerak sedikit pun, pucat dan terlihat begitu lemah. Air mata pria paruh baya itu menetes begitu saja membayangkan kenyataan hidup yang akan dihadapi oleh Hana nanti.
"Dosa besar apa yang telah aku lakukan sampai Engkau menghukum ku seperti ini ya Allah," gumam Abi Thohir sembari menyeka air matanya. "Hukum lah aku atas dosaku, jangan putriku. Aku memohon pada-Mu." Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di lengan Hana yang semakin hari semakin kurus.
"Apa yang harus aku lakukan untuk putriku? Aku telah gagal menjadi ayah yang baik."
Seolah dapat mendengar suara sang Ayah, Hana menitikan air matanya meski ia masih tak sadarkan diri. "Berikan saja kemalangan itu padaku, jangan pada putriku."
Suara Abi Thohir semakin tercekat, bahkan ia merasa kesulitan bernapas setiap detiknya saat menunggu Hana bangun.
Tak berselang lama, Riana datang dan langsung meminta ayahnya itu pulang. "Abi juga butuh istirahat," kata Riana.
Abi Thohir menghela napas berat, ia mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Abi pulang dulu, Sayang, nanti Abi kembali lagi." Ia mengecup kening Hana cukup lama.
"Abi akan menyuruh Ilyas datang dan menemani mu," kata Abi Thohir pada Riana.
Riana hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Setelah itu, Abi Thohir bergegas untuk pulang. Namun, langkahnya terhenti saat dihadang oleh calon besannya.
"Aku ingin berbicara hal penting," ujar Abi Ahmad. Abi Thohir mengangguk, ia pun mengajak temannya itu ke duduk di kursi yang tak jauh dari sana.
"Tentang apa?" tanya Abi Thohir.
"Riana mengatakan perjodohan Hana dan Syafiq dibatalkan karena Syafiq adalah penyebab kecelakaan itu, apa itu benar?"
Abi Thohir tak langsung menjawab, ia menarik napas panjang kemudian menatap temannya itu. "Jika Hana hanya bisa duduk di atas kursi roda dan tidak dapat memberikanmu cucu, apa kau akan menerimanya sebagai menantu?"
__ADS_1