
Apa yang dikatakan oleh Mami Lala seperti sebuah trauma yang kembali menghantui Meizia. Seperti garam yang ditabur di atas lukanya yang terbuka. Rasa jijik, marah, sedih dan takut semuanya bercampur menjadi satu. Semalaman Meizia kembali menangis mengingat karena terus mengingat kata-kata sang ibu.
Bahkan, hal itu menggoyahkan tekad Meizia dalam keinginan hijrahnya. Namun, Meizia teringat dengan apa yang Ameer katakan. Hidup itu pilihan, dan semua manusia di atas bumi adalah sama.
Meizia kembali membulatkan tekad untuk tetap melangkah, apalagi kini ia punya masa depan bersama pria yang sangat baik.
Tak butuh waktu lama, persiapan pernikahan Meizia dan Ameer sudah selesai apalagi ini hanya akad. Ameer memang tidak ingin menunda niat baiknya itu walaupun sebentar saja, apalagi melihat Meizia hidup sebatang kara.
Kabar pernikahan Ameer sudah tersebar di lingkungannya, mengejutkan semua orang apalagi mempelai wanitanya adalah orang asing dan tak ada yang tahu asal usulnya.
Walaupun begitu, mereka tetap ikut bahagia atas pernikahan Ameer.
Malam ini, adalah hari yang ditunggu oleh Ameer dan Meizia. Pernikahan yang akan dilaksanakan di rumah Ameer.
"Aku tidak menyangka kamu benar-benar akan menikahinya," kata Rizal yang menemani Ameer bersiap untuk melaksanakan akad nikahnya.
"Aku yakin dia cinta sejatiku," kata Ameer penuh keyakinan.
"Aku juga merasa begitu," sahut Rizal yang terlihat ikut bahagia atas pernikahan temannya itu.
Sementara di sisi lain, Meizia ada di kamar tamu. Ia sedang di dandani oleh Shafa juga Marwa, di sana juga ada Hana menemaninya. Sebenarnya, keberadaan wanita itu membuat Meizia sangat tidak nyaman. Ia merasa malu, minder dan merasa bersalah. Tetapi Hana justru bersikap sangat baik dan terus tersenyum seolah ia juga sangat bahagia dengan pernikahan ini.
"Lipstiknya merah atau pink?" tanya Marwa.
__ADS_1
"Pink natural saja, lebih cantik," saran Hana.
"Okay," jawab Marwa kemudian ia mengambil lipstik berwarna pink natural dan memoleskannya di permukaan bibir Meizia.
Kedua mata Meizia sudah berkaca-kaca, ia menahan tangis sejak tadi. "Tahan ya, Zia, jangan menangis dulu," goda Shafa yang menambah polesan bedak di pipi wanita itu. "Nanti make up nya hancur."
"Aku terlalu bahagia sampai rasanya ingin menangis," kata Meizia sembari berkedip untuk menahan air matanya agar tak tumpah.
"Yeah, semua pengantin wanita akan menangis di hari pernikahannya," celetuk Marwa. "Dulu aku juga menangis, bukan karena bahagia tapi karena takut."
"Takut kenapa?" tanya Meizia penasaran.
"Takut akan seperti apa hidupku setelah menikah nanti, apalagi aku mengenal mas Faruq itu cuma sebulan sebelum pernikahan."
"Tapi sekarang Mbak Shafa mencintai mas Ilham, kan?" goda Marwa.
"Dia belahan jiwaku," jawab Shafa dengan wajah yang merona.
Meizia dan Hana hanya bisa tersenyum melihat obrolan dua bersuara ini, katanya mereka selisih dua tahun tapi mereka seperti saudara kembar.
Bersamaan dengan itu, Ummi Nayla datang untuk memberi tahu bahwa akad segera dilaksanakan. Wali hakim yang akan menjadi wali nikah Meizia juga sudah datang.
"Kalian bisa tinggalkan kami sebentar?" tanya Ummi Nayla. "Biar Ummi yang bawa Meizia nanti keluar," ujarnya.
__ADS_1
Shafa, Marwa dan Hana hanya bisa mengangguk patuh. Mereka pergi meninggalkan Meizia dan calon ibu mertuanya di kamar itu.
"Kamu gugup?" tanya Ummi Nayla sembari menyentuh tangan Meizia yang terasa dingin.
"Sedikit," jawab Meizia sambil tersenyum tipis.
"Apa Ibu kamu tahu kamu akan menikah?"
Meizia hanya menggeleng karena ia memang tidak memberi tahu Mami Lala bahwa ia akan menikah. "Kenapa?" tanya Ummi Nayla.
"Aku ingin memberi tahunya, Tante, aku sudah datang ke penjara. Tapi Mama tidak menyambutku dengan baik," kata Meizia sembari menunduk dalam. Rasa sakit itu kembali menyentil hatinya saat mengingat kata-kata Mami Lala.
"Kenapa? Apa dia marah karena kamu membuat dia di penjara dan menghentikan semua bisnis kotornya?"
"Dia bilang aku akan tetap sama, apapun yang aku pakai untuk menutupi tubuhku tidak akan menghapus fakta masa lalu." Suara Meizia terdengar rendah, sebenarnya sakit menceritakan ini kembali tetapi ia merasa harus jujur pada calon Ibu mertuanya.
"Lalu apa yang kamu katakan?" tanya Ummi Nayla yang langsung membuat Meizia menatap wanita paruh baya itu dengan nanar.
"Tante, aku sedang berusaha mati-matian melupakan masa laluku. Tapi kenapa semua orang masih mempertanyakannya?" Meizia menyindir dengan halus. "Aku hanya ingin memperbaiki diri dan Ameer bersedia mendampingiku dalam hal itu. Jika Tante merasa_"
"Tidak, Meizia," sanggah Ummi Nayla. "Maaf jika Tante membuka lukamu kembali, hanya saja Tante masih takut menghadapi masa depan putra Tante."
"Kalau begitu Tante masih bisa memutuskan," kata Meizia. "Tante berhak menyingkirkan wanita pendosa ini dari putra Tante yang alim, wanita di hadapan Tante ini tidak akan keberatan."
__ADS_1