
Ameer membawa Meizia ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja barang-barang yang di butuhkan oleh istri nya itu. Mereka tampak senang saat menhabiskan waktu bersama, Meizia juga lebih sering tersenyum dan tertawa. Tatapan mata wanita itu juga selalu berbinar, berbeda dengan dulu, yang tertutup, sayu, seperti menyimpan sebuah misteri.
"Aku rasa ini semua sudah cukup," kata Meizia karena ia memang sudah membeli banyak baju, sepatu dan barang-barang yang lainnya.
"Baiklah, kita bayar dulu setelah itu kita pergi makan siang," kata Ameer.
"Iya," jawab Meizia singkat yang langsung membuat Ameer memicingkan mata nya. "Kenapa?" tanya Meizia.
"Aku sudah mengajarkan cara menjawab yang benar saat suami mu bertanya, Meizia," tukas Ameer.
"Opss." Meizia langsung cengengesan. "Iya, Sayang," ucap nya malu-malu.
"Itu lebih terdengar di telinga," pungkas Ameer kemudian ia membawa Meizia ke kasir.
"Tolong di bungkus semua nya ya, Mbak," pinta Meizia sembari meletakkan barang-barang nya itu ke meja kasir. Saat itu lah pandangan kasir tersebut tertuju pada pergelangan tangan Meizia, bahkan tatapan kasir itu langsung tampak berbeda dan Meizia menyadari hal itu.
Kasir itu memberi tahu total belanjaan Meizia dan masih terus melirik pergelangannya, membuat Meizia merasa tak nyaman. "Aku akan menunggu di luar," kata Meizia pada Ameer.
"Tapi_" Belum sempat Ameer selesai berbicara, Meizia langsung bergegas pergi begitu saja.
"Mau pakai cash atau debit, Mas?" tanya kasir itu pada Ameer.
__ADS_1
"Debit." Ameer menjawab singkat.
"Oh ya, tangan istri nya kenapa, Mas? Kok bisa sampai kanan kiri terluka?" tanya kasir itu yang membuat Ameer langsung tampak kesal, dan sekarang ia mengerti kenapa Meizia keluar meninggalkan nya.
"Lain kali, tanyakan saja apakah customer ingin barang yang lain atau tidak, Mbak," kata Ameer. "Itu jauh lebih baik dari pertanyaan yang tadi." Lanjutnya yang seketika membuat kasir itu tertunduk.
Ameer segera menghampiri Meizia yang saat ini hanya berdiri sembari memainkan ujung jilbab yang ia pakai, wajah istri nya itu tampak murung yang membuat Ameer merasa kasihan.
"Hey!" Ameer mengejutkan nya, ia langsung merangkul Meizia hingga wanita itu tersentak.
"Kamu membuat ku terkejut," protes Meizia sembari mengelus dada nya yang berdebar.
"Maaf, Sayang, soalnya kamu melamun," kata Ameer sembari merangkul Meizia dan membawa nya masuk ke dalam mobil.
"Mau ke mana?" tanya Meizia yang sudah duduk manis di mobil.
"Mau beli sesuatu."
Meizia hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut.
Tak berselang lama setelah Ameer pergi, pria itu sudah kembali tetapi tidak membawa barang. "Katanya mau membeli sesuatu, beli apa?" tanya Meizia.
__ADS_1
"Nanti aku tunjukkan di rumah," jawab Ameer. "Sekarang kita pergi makan, ya. Aku sudah lapar."
Meizia hanya mengangguk pelan, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ameer. "Iya, Sayang," jawab Meizia dengan cepat sambil cengengesan yang membuat Ameer terkekeh.
Kini Ameer dan Meizia sudah sampai di restaurant yang tak jauh dari sana, Ameer memesan makanan yang cukup banyak untuk istri nya itu.
"Aku rasa ini terlalu banyak, Ameer," kata Meizia.
"Tidak apa-apa, kita akan membawa nya pulang jika tidak habis," tukas Ameer. "Aku hanya tidak suka melihat tubuh kurus kamu ini, seperti orang kekurangan gizi." Lanjutnya yang membuat Meizia tertawa.
"Makan, Sayang, kamu harus sehat supaya nanti kalau hamil anak kita juga sehat."
"Hem," sahut Meizia dengan wajah merona.
Saat Meizia sedang asyik menikmati menu makan siang nya, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri Meizia dan menyapa nya.
"Halo, Mei?"
Meizia tersentak saat mengingat siapa pria itu. "Aku pikir kamu juga masuk penjara bersama ibumu," tukas pria itu.
Meizia tampak takut, ia langsung menatap suami nya dengan sendu. Ameer yang menyadari hal itu langsung menggengam tangan Meizia.
__ADS_1
"Kau mengganggu kami, Pak, bisa tolong tinggalkan kami?" pinta Ameer dengan sopan.
"Oh, bisa," jawab pria itu. "Tapi jika kalian sudah selesai, tolong hubungi aku, Meizia, seperti nya aku membutuhkan kamu malam ini."