Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 72 - Yang Dipersiapkan


__ADS_3

"Ini sangat bagus," puji Meizia yang melihat gaun pengantin Hana yang juga dibuat oleh Alena. "Syafiq tidak akan berkedip saat melihat mu dalam gaun pengantin ini, Han." Meizia berkata dengan semangat, seolah ia juga orang yang paling bahagia dengan pernikahan Hana.


Saat ini keduanya berada di butik Alena, tentu saja ditemani oleh Riana dan seperti biasa Meizia takkan ketinggalan aktifitas sang sahabat.


"Menurut mu begitu?" tanya Hana sambil mengulum senyum malu-malu di balik cadarnya.


"Tentu saja, dia akan berpikir kau bidadari yang turun dari Surga," seru Meizia.


"Aku hanya berharap Hana tidak jerawatan saat hari pernikahan nanti," sambung Riana. "Karena akhir-akhir ini dia sering sekali makan cokelat."


"Itu karena aku gugup dan jujur saja aku sedikit cemas." Hana segera membela diri. Akhri-akhir ini ia memang sering memikirkan pernikahan nya yang semakin hari semakin dekat, dan ia mencoba mengkonsumsi cokelat yang memang biasanya dapat memperbaiki mood-nya.


"Apa kau ingin mencoba gaunnya, Hana?" tanya Alena.


"Sudah seharusnya," jawab Riana sambil tertawa. "Kami datang ke sini untuk memastikan gaunnya sudah sempurna."


"Benar," sambung Meizia. "Aku tidak sabar ingin melihat kecantikan sahabatku ini."


"Baiklah, aku akan mencobanya," kata Hana.


Mereka pun membantu Hana mencoba gaun pengantinnya, dan mereka merasa semua sudah sempurna. Tak ada yang kurang dan tak perlu di tambahkan apapun.


Sementara di sisi lain, Syafiq sedang bersama Ameer sedang makan siang bersama sembari membicarakan sekolah islami yang dibangun Ameer. Syafiq memberikan beberapa masukan yang sangat baik untuk kurikulum pelajaran sekolah ke depannya, saran Syafiq diterima dengan sangat baik oleh Ameer.

__ADS_1


"Andai kau bisa tinggal di sini lebih lama, keberadaan mu seperti berkah untuk semua orang," kata Ameer.


"Sayangnya aku harus pergi jauh setelah ini," kekeh Syafiq. "Tapi tidak usah khawatir, aku dan Hana pasti akan pulang karena dia pasti merindukan keluarganya, juga Meizia."


Mendengar nama istrinya yang di sebut Ameer langsung menaikkan ujung alisnya. "Hana selalu membicarakan Meizia," kata Syafiq kemudian. "Dia selalu bilang pasti akan merindukan nya jika nanti mereka berpisah, aku sangat kagum dengan persahabatan mereka."


Ameer mengulum senyum mendengar pujian Syafiq, tak hanya satu dua orang yang mengatakan sangat kagum dengan hubungan Hana dan Meizia. Tetapi ada banyak orang yang mengatakannya.


"Mereka memang sangat dekat," kata Ameer. Ia sendiri tak pernah menyangka Meizia dan Hana akan sedekat ini, apalagi mengingat Hana adalah mantan calon istri yang disiapkan oleh orang tuanya.


Setelah makan siang, Ameer pergi ke butik untuk menjemput sang istri. Sementara Syafiq pulang ke rumah nya sendiri karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Sesampainya di butik, Ameer langsung disambut hangat oleh sang istri yang bahkan langsung menggandeng lengannya dengan manja.


"Kita pulang?" tanya Ameer. "Atau kalian belum selesai?"


"Apa gaun pengantin nya bagus?" tanya Ameer.


"Sangat bagus," jawab Meizia dengan semangat yang membuat Hana langsung tertawa kecil.


"Meizia begitu semangat seolah dia yang akan menikah," kekeh Riana.


"Aku hanya ikut bahagia dan untuk sahabat ku," ucap Meizia. "Baiklah, ayo kita pulang, Sayang."

__ADS_1


Ameer hanya mengangguk sambil tersenyum, ia membawa Meizia ke mobilnya sementara Hana memakai mobil sendiri bersama sang Kakak.


"Kau terlihat sangat bahagia, Sayang," kata Ameer.


"Aku tidak sabar menunggu hari pernikahan Hana," kata Meizia kemudian ia mengusap perut buncitnya. "Aku juga tak sabar menunggu kelahiran mereka, sekarang hidup ku di penuhi warna sangat cerah dalam penantian ini."


"Aku pun sama," kata Ameer sembari mengusap kepala Meizia.


"Ameer, berhenti sebentar!" seru Meizia saat mereka melintasi toko peralatan bayi. "Bisa kita membeli sesuatu di sana?" tanya Meizia penuh harap.


"Boleh, Sayang," kata Ameer apalagi mereka memang belum membeli apapun untuk bayi mereka.


Ameer berhenti tepat di depan toko itu, keduanya pun masuk ke dalam toko dan seketika mata Meizia berbinar saat melihat perlengkapan bayi.


Meizia langsung memilih beberapa lembar baju yang sangat lucu-lucu, ia menunjukan nya pada Ameer dengan semangat.


"Apa ini bagus, Sayang?" tanya Meizia.


"Bagus, aku suka warna birunya yang cerah." Ameer memberikan pendapatnya yang membuat Meizia semakin senang.


"Kalau sepatu ini bagaimana?" Meizia menunjukan sepasang sepatu mungil yang berwarna merah muda.


"Bagus, cocok untuk anak kita kalau perempuan."

__ADS_1


Meizia tertawa kecil mendengar komentar Ameer yang sejak tadi tak pernah menolaknya. "Baiklah, untuk saat ini aku ingin membeli ini saja dulu, nanti kita belanja lagi. Sekarang aku ingin pulang dan aku ingin makan."


Ameer tergelak mendengar pernyataan sang istri. "Baiklah, Sayang, terserah kau saja."


__ADS_2