
Matahari telah tinggi, cahayanya menyinari seluruh permukaan bumi. Cahaya yang hangat dan membuat semua orang merasa bersemangat untuk memulai hari.
Namun, tidak untuk Ameer yang merasa dunianya telah hancur dan gelap. Sejak tadi malam, ia hanya duduk merenung di sisi ranjang kedua bayinya yang tertidur pulas. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan tanpa Meizia di sampingnya.
"Apa yang harus kita lakukan tanpa ibu kalian?" lirih Ameer dengan mata yang kembali memerah dan berkaca-kaca. "Aku merasa tidak akan sanggup melanjutkan hidupku tanpanya." Ia menatap kedua bayinya itu dengan nanar. "Apa dosa kita sehingga kita harus kehilangan orang yang paling penting dalam hidup kita?"
Ameer mendongak agar air matanya tak kembali jatuh, ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Sementara kedua orang tua Ameer kini mengurus jenazah Meizia yang akan mereka bawa pulang.
Di sisi lain, Hana yang baru saja diperiksa oleh Dokter kini kembali menanyakan keadaan sang Ibu.
"Sudah siang, tapi kenapa ummi tidak datang menjengukku?" tanya Hana dengan suara yang terdengar begitu lemah.
Riana dan sang Ayah hanya bisa saling pandang, tak tahu harus menjelaskan dari mana pada Hana bahwa Ibu mereka tidak akan pernah bisa menjenguk Hana.
"Meizia juga tidak menjengukku," lirih Hana sedih.
"Mungkin Ameer tidak mengizinkan Meizia keluar, Dek," jawab Riana dengan cepat tanpa tahu apa yang telah terjadi pada istri sepupunya itu.
"Benar, apalagi sekarang sudah mendekati hari kelahiran," sambung sang Ayah dengan semangat, bermaksud mengalihkan perhatian Hana dari topik tentang ibunya.
"Apa?" tanya Hana dengan kening berkerut dalam, ia tampak terkejut mendengar ucapan terakhir sang Ayah. "Apa maksudnya mendekati hari kelahiran, Bi? Kandungan Meizia masih 7 bulan," ucap Hana.
Riana dan Abi Thohir saling pandang, baru menyadari Hana tak tahu sudah berapa lama dirinya koma.
__ADS_1
"Apa kalian menyembunyika sesuatu?" tanya Hana yang kini mulai membaca raut wajah kakak dan ayahnya itu.
"Hari sudah siang, Meizia, Ameer, om, tante, Mbak Shafa dan Mbak Marwa. Tidak ada satu pun yang datang," papar Hana yang semakin merasa bingung.
Ia sangat mengenal semua anggota keluarganya itu dengan baik, tidak mungkin mereka tidak datang jika sudah tahu bahwa Hana sudah sadar.
"Aku mohon jangan menyembunyikan apapun dariku, Bi," pinta Hana memelas.
"Dek ...." Riana menggenggam tangan Hana. "Sudah hampir dua bulan berlalu sejak kecelakaan." Ia memberi tahu dengan hati-hati, tetapi tetap saja Hana tampak begitu shock.
"Be-benarkah?" lirihnya dengan mata yang Kembali berkaca-kaca.
"Lalu di mana ummi? Dia pasti sangat mengkhawatirkan aku?" Gadis itu tak dapat menahan air matanya, membayangkan rasa cemas dan khawatir sang Ibu karena ia tertidur sangat lama.
Abi Thohir langsung memalingkan wajahnya saat mendengar apa yang dikatakan sang putri, ia tak kuasa menahan air matanya. Sementara Riana hanya bisa membisu dengan air yang kini sudah mulai berjatuhan.
Hal itu membuat Hana semakin curiga pada kakak dan ayahnya itu. "Ummi ... di rumah, kan?" cicit Hana. "Dia hanya sedang sibuk, kan? Dia pasti akan menjengukku sambil membawa makanan. Dan pasti dia akan sangat senang karena aku baik-baik saja."
Tiba-tiba Hana merasa pipinya basah, ia pun menyentuhnya dan terkejut karena air mata mengalir begitu saja.
Abi Thohir tidak tahan mendengar ocehan Hana, ia langsung keluar dari ruang rawat itu. Meninggalkan Riana yang kebingungan harus berkata apa.
Di luar, Abi Thohir terduduk lemas. Ia menangis sesenggukan sampai punggungnya bergetar.
"Sesekali bantu aku mengurus anak-anak dong, Bi."
__ADS_1
Abi Thohir tersentak saat mengingat apa yang pernah dikatakan oleh istrinya dulu, saat Hana dan Riana masih anak-anak. Kedua anak itu cukup aktif sampai membuat sang Ibu kewalahan, dan akhirnya meminta sang suami menjaga mereka.
"Sekarang aku yang harus menjaga Hana, kan?" Ia menggumam sembari menyeka air matanya.
Abi Thohir menghela napas panjang kemudian ia kembali masuk.
Riana masih bungkam, membuat Hana semakin takut meski sebenarnya ia mulai mengerti apa yang terjadi. "Katakan saja, Bi, aku ingin mendengarnya."
"Sayang ...." Abi Thohir mengusap kepala Hana. "Ummi ... di tempat yang jauh lebih baik dari dunia ini."
Air mata Hana tumpah semakin deras, dadanya terasa sesak dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
...🦋...
"Kita harus pulang untuk mengurus Meizia, Nak." Ummi Nayla menepuk pundak Ameer yang masih terus menatap kedua anaknya. "Semakin cepat semakin baik."
"Aku ingin membawa kedua anakku pulang," lirih Ameer.
"Dokter bilang dua atau tiga hari lagi, Ameer." Sang Ibu mengingatkan. "Jangan begini, Nak, ingat bagaimana perjuangan Meizia menjaga dan melahirkan mereka. Jangan sia-siakan perjuangan istrimu."
Ameer membuang napas pelan, mencoba menenangkan hatinya yang masih bergemuruh hebat.
"Kita harus segera mengantar Meizia ke tempat peristirahatan terakhirnya, tidak baik jika terus ditunda."
Ameer mengangguk mengerti, ia masih menatap anak-anaknya sembari berjalan keluar. Seolah berat meninggalkan mereka.
__ADS_1