Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Promo


__ADS_3

Bonchap nya cuma bisa kasih satu, hehe. Semoga dapat mewakili kehidupan bahagia Hana, Ameer dan si kembar, ya.


Btw, yang mau baca cerita bergenre islami SkySal lagi, kalian bisa mampir di ***.


Judul : Habib Untuk Yang Tercinta


Sinopsis


Habiburrahman Ubaidillah telah menjatuhkan hatinya pada seorang wanita muslimah cantik yang bernama Maura Khairunnisa, bahkan Habib sudah berjanji pada ayah Maura ia akan menikahi Maura. Akan tetapi sang Ibu justru menjodohkan Habib dengan sepupunya yang bernama Zara Zivanka.


Demi kebahagiaan sang Ibu, Habib rela mengingkari janjinya pada Maura dan ia pun menikahi Zara.


Habib berusaha melupakan Maura dan belajar mencintai Zara. Namun, baru saja ia membuka hati untuk Zara, Maura datang menagih janjinya. Apalagi Ayah Maura dalam keadaan sekarat dan ia ingin melihat putrinya menikah.


Dilema, di satu sisi Habib sudah mulai mencintai Zara tetapi di sisi lain ia harus menepati janjinya pada Maura.


Apakah yang harus Habib lakukan selanjutnya?


Bagaimana nasib pernikahan Zara dan Habib setelah Zara mengetahui sang suami ternyata pernah punya kekasih?


Bahkan, kekasih itu kini datang menagih janji.


Bab 1 - Keputusan Yang Besar


"*Maafkan aku, Maura, aku sungguh tidak bisa menolak keinginan mama."


Wanita yang dipanggil Maura itu hanya bisa menggigit bibirnya dengan kuat, kedua matanya sudah terasa panas dan berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, perih, dan sakit.


Bagaimana tidak?

__ADS_1


Pria yang selama ini mengaku mencintainya, bahkan sudah berjanji akan menikahinya kini datang membawa kabar bahwa ia akan menikahi wanita lain, wanita pilihan sang Ibu.


"Aku sungguh minta maaf, kamu berhak marah dan membenciku." Pria itu tertunduk dalam, ia menahan malu dan rasa bersalah karena telah mengingkari janji yang sudah ia ucapkan. Ia telah mengkhianati cinta tulus wanita sebaik Maura.


"Setidaknya beri tahu mama-mu bahwa kamu mencintai wanita lain, Habib, apakah kamu juga tidak mampu melakukan itu?" Maura bertanya dengan suara yang tercekat di tenggorokannya.


Sementara Habib hanya bisa terdiam, tak sanggup memberi tahu Maura bahwa keputusan besar telah dibuat dalam hidup Habib oleh sang Ibu. Meskipun bisa, tetapi Habib tak ingin menolak keputusan itu apalagi ibunya mengatakan ini adalah impiannya sejak dulu.


"Jadi kamu tidak bisa melakukan hal sekecil itu?" Suara Maura terdengar lirih, air matanya tak lagi bisa ia bendung.


"Aku tidak mampu menolak apa yang menjadi impian mama, Maura," jawab Habib. "Mama bilang menikahkan aku dengan Zara adalah keinginannya sejak dulu."


Air mata Maura semakin mengaliri deras mendengar satu nama wanita yang keluar dari mulut Habib, wanita yang berhasil mengalahkan Maura untuk merebut posisi sebagai pendamping pria itu. Maura kalah telak, cintanya tak dapat mempertahankan posisinya karena Habib selalu mengutamakan apa yang diinginkan sang Ibu.


"Lalu bagaimana dengan janjimu pada ayah, Habib?" Suara Maura bergetar, air mata semakin deras membasahi pipinya dan kini tubuhnya terasa panas dingin.


"Aku ... aku akan memberi tahu beliau bahwa aku gagal menepati janjiku," lirih Habib. "Aku akan bersimpuh di kakinya dan meminta maaf."


"Apa kamu tidak bisa memperjuangkan cinta kita sekali saja?" Maura memohon, berharap masih ada kesempatan untuk menyelamatkan cinta mereka.


Habib menggeleng, membuat Maura langsung melempar senyum kecut, ia menatap Habib dengan tajam.


"Kalau begitu ...." Maura menyeka air mata di pipinya, ia beranjak dari kursi kemudian berkata, "Semoga kamu bahagia bersamanya, Habib, dan tidak perlu menemuiku atau ayahku lagi!"


Setelah mengucapkan kalimat itu dengan tegas dan penuh penekanan, Maura langsung pergi, meninggalkan Habib yang kini juga berlinang air mata.


Pria itu tak mampu lagi menahan rasa sesak di dadanya karena harus berpisah dari wanita yang selama ini ia cintai.


Maura Khairunnisa, juniornya saat di kampus dulu. Maura merupakan seorang wanita idaman setiap pria, termasuk Habib. Wanita itu cantik, baik hati dan tentu seorang muslimah yang baik.

__ADS_1


Dulu, Habib hanya mengagumi Maura. Tetapi dua tahun yang lalu mereka kembali bertemu dan terlibat dalam sebuah kegiatan amal, pertemuan demi pertemuan menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya.


Habib menemui Ayah Maura dan mengutarakan perasaannya, tentu saja Maura dan sang Ayah sangat senang. Apalagi ketika Habib berjanji akan menikahi Maura.


Semuanya terasa sangat indah, manis, dan hidup kedua insan itu penuh warna.


Namun, semua keindahan itu musnah ketika tiba-tiba sang Ibu memberi tahu Habib bahwa ia akan dijodohkan dengan Zara Zivanka. Gadis berusia 21 tahun yang merupakan adik sepupu Habib.


"Ya Allah, salahkah yang aku lakukan?" Habib tak dapat menahan rasa sakit di dadanya. "Aku mencintai Maura, tapi aku tidak mungkin menentang apa yang mama mau. Aku tidak ingin membuat mama kecewa."


Habiburrahman Ubaidillah, pria itu dibesarkan oleh ibunya -Nasha Laura, dengan penuh kasih sayang cinta dan ketulusan yang luar biasa. Habib tak memiliki seorang Ayah, maut memisahkan mereka bahkan sebelum mereka bertemu. Dan sampai detik ini, Sang Ibu tak pernah memberikan sosok Ayah baru dalam hidup Habib karena dia begitu mencintai mendiang suaminya.


Sebuah kisah cinta sejati yang begitu menyentuh hati, membuat Habib ingin dan dicintai dan mencintai pasangannya seperti kedua orang tuanya.


Bibir Habib bergetar, air mata terus mengalir deras tanpa henti.


Habib sangat mencintai Ibunya lebih dari apapun, selama ini ia tidak pernah mengatakan tidak pada apapun yang sang Ibu inginkan.


Habib masih menangis sesenggukan di kursinya, begitu juga Maura yang kini ada di dalam taksi. Wanita itu tak bisa berhenti menangis, isak tangis yang coba ia tahan juga tak bisa, membuat sang sopir merasa kasihan dan sesekali melirik Maura dari spion.


"Sakit sekali, ya Allah." batin Maura sembari menekan dadanya yang terasa begitu sesak, bahkan membuat ia kesulitan bernapas.


Berputar kembali dalam benak Maura kenangan bersama Habib, cinta pertamanya, imam impian yang selalu ia minta dalam sujudnya tanpa henti.


"Menangis lah yang keras, Mbak!" seru sopir itu dengan lembut. "Meskipun itu tidak dapat menyelesaikan masalah yang Mbak alami, tetapi dengan menangis lepas terkadang sesak di hati bisa sedikit berkurang."


Mendengar nasihat dari sopir itu membuat Maura melepaskan tangisnya, Maura membiarkan air matanya basah hingga membasahi kerudungnya.


Kini, kedua insan yang terikat hatinya karena cinta harus mematahkan ikatan itu. Namun, bisakah mereka mematahkan rasa cinta itu*?

__ADS_1



__ADS_2