
"Dia datang terlambat dari waktu yang seharusnya," ujar Riana sembari melirik arloji nya yang melingkar di pergelangan tangan nya.
Mereka semua berkumpul di ruang VIP restoran untuk menyambut Syafiq, bahkan Riana juga sudah menyiapkan hidangan terbaik di restoran itu untuk sang calon adik ipar.
"Mungkin dia tidak akan datang," celetuk Hana sembari memainkan jari jemari nya.
"Tidak, dia akan datang," bantah Ilyas.
"Kamu sudah tanya dia ada di mana, Mas?" tanya Riana pada suami nya itu.
"Sudah, dia terjebak macet kata nya." Ilyas menjawab sembari menujukan pesan Syafiq pada istri dan adik ipar nya itu.
"Oh ya, bagaimana dengan Meizia, Han? Apa dia tidak di izinkan pergi oleh Ameer?" tanya Riana. "Seharusnya mereka juga sudah sampai sekarang." Lanjut nya, mereka sudah ada di restauran hampir setengah jam dan tak ada yang datang.
Hana pun segera mengirim pesan pada sahabat nya itu, dan selang beberapa detik Meizia sudah membalas nya.
"Kata nya sebentar lagi sampai, Mbak," jawab Hana.
Tak lama kemudian Ameer dan Meizia datang, tanpa basa-basi Meizia langsung duduk di sisi Hana dan bertanya, "Di mana pangeran mu, Han?"
Hana berdecak kesal mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabat nya itu, sementara Meizia justru tampak menikmati kekesalan Hana.
"Pangeran nya terjebak macet, Zia," kekeh Riana.
"Apaan sih, Mbak." Hana menggerutu sembari mengaduk-aduk minuman di depan nya.
"Aku pikir sudah terlambat datang ke sini karena tadi aku masih mencari jagung bakar," tukas Ameer.
"Siang-siang begini cari jagung bakar?" tanya Riana heran.
"Ibu hamil tuh," kekeh Ameer sembari menunjuk Meizia dengan dagu nya. Yang di tunjuk hanya cengengesan, membuat Ameer hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Aku ke toliet sebentar, ya," seru Hana sembari beranjak dari kursi nya.
"Jangan lama-lama, Dek," pinta Riana yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Hana.
"Jika kita bertemu ramai-ramai begini, apa kata sang mempelai nanti?" tanya Meizia penasaran.
"Aku juga memikirkan hal yang sama," ujar Riana. Semoga saja syafiq tidak masalah dengan hal ini."
Tak berselang lama, salah seorang karyawan Riana datang dan memberi tahu bahwa tamu yang di tunggu sudah datang.
__ADS_1
"Biar aku yang bawa dia ke sini," kata Ilyas.
"Terima kasih, Mas," ucap Riana yang hanya di tanggapi senyum manis oleh sang suami.
"Kenapa jadi aku yang gugup memikirkan seperti apa wajah nya," celetuk Meizia tiba-tiba yang langsung membuat Ameer memelotot pada nya.
"Suami ini di depan mu lho, Sayang," desis Ameer tajam.
"Lalu?" tanya Meizia dengan polos nya.
"Dia cemburu," jawab Riana yang seketika membuat Meizia terkikik, sementara Ameer membuang napas kasar.
"Tidak usah cemberut, kamu adalah pria tertampan di dunia ini untuk ku," seru Meizi sembari mengedipkan sebelah mata nya.
"Assalamu'alaikum!"
Semua orang menoleh saat mendengar asal suara bass itu.
"Waalaikum salam," jawab Ameer, Riana dan Meizia secara bersamaan.
Riana sedikit terpukau melihat calon adik ipar nya, tampan, tinggi dan memiliki senyum yang sangat manis.
Sementara itu, pria yang bernama lengkap Syafiq Ahmad itu justru menatap Meizia, mengira wanita itu lah calon pengantin nya.
"Assalamu'alaikum," sapa Syafiq secara khusus pada Meizia yang membuat Meizia merasa bingung, begitu juga dengan Ameer dan Riana. Apalagi mereka dapat melihat dengan jelas sejak tadi Syafiq terus menatap Meizia.
"Salam kenal, Hana.""
"Aku bukan Hana," jawab Meizia dengan cepat yang membuat Syafiq terkejut.
Meizia langsung berpindah posisi ke sisi Ameer, dan Ameer pun langsung merangkul istri nya itu dengan posesif.
"Dia istri ku," seru Ameer.
Syafiq terbelalak, ia hanya bisa mematung saat menyadari diri nya telah terpesona pada orang yang salah.
"Syafiq, dia ini Ameer, sepupu Hana." Ilyas memperkenalkan Ameer pada calon saudara ipar nya itu, dan Ameer pun langsung mengulurkan tangan nya pada Syafiq.
"Senang mengenal mu, Syafiq," ucap Ameer.
Syafiq berusaha tersenyum, berusaha mengontrol perasaan nya yang tiba-tiba tak karuan.
__ADS_1
"Dan ini istri ku, nama nya Meizia."
"Senang mengenal kalian semua," ujar Syafiq yang melempar senyum kaku.
Riana mempersilakan Syafiq duduk di kursi nya sembari berkata, "Hana sedang ke rest room."
"Oh, okay," sahut Syafiq lirih.
Meizia merasa sedikit tidak nyaman atas apa yang baru saja terjadi, ia melirik Ameer dengan nanar dan perasaan nya sedikit tenang saat Ameer melempar senyum lembut. Bahkan, Ameer menggenggam tangan Meizia seolah memberi tahu bahwa tak kan ada masalah.
Meizia membelas genggaman tangan sang suami dengan lebih erat
Tak berselang lama, Hana datang dan wanita itu terlihat terkejut melihat ada pria asing bersama Riana dan yang lain nya.
Hana tahu pria itu pasti lah Syafiq, dan entah kenapa hal ini justru membuat Hana seolah ragu untuk menemui mereka. Ia merasa gugup dan cemas.
Hingga tiba-tiba Riana menatap nya dan memberi isyarat agar Hana segera menghampiri mereka.
Dengan langkah gontai, Hana pun menghampiri mereka dan ia melempar senyum tipis di balik cadar nya.
"Dia adik ku, Shafiq. Hana." Riana memperkenalkan Hana pada calon suami nya itu.
Syafiq menatap Hana sekilas, dan seketika ia tertawa kecil, membuat Hana merasa bingung.
"Kenapa tertawa?" tanya Hana.
"Kau dan dia seperti saudara kembar," jawab Syafiq sembari menatap Meizia dan Hana secara bergantian.
"Kami sahabat," ujar Hana sembari duduk di sisi Meizia.
"Oh, pantas," gumam Syafiq. Pria itu menatap ke sekeliling nya, padahal ia di beri tahu untuk menghabiskan sedikit waktu bersama Hana agar kedua nya saling mengenal, seharus nya Riana saja sudah cukup untuk menemani mereka.
Tapi entah kenapa di sana seolah seluruh keluarga besar Hana menemani wanita itu. "Pertemuan untuk melakukan taaruf itu sebenarnya hanya cukup di temani satu atau dua orang dari keluarga kita, Hana, tapi sepupu dan sahabat mu juga ada di sini rupa nya," kekeh Syafiq.
"Aku ingin mereka juga mengenal mu," jawab Hana dengan tenang. "Jika menurut mereka kamu adalah pria yang baik, maka mungkin itu jauh lebih baik untuk meyakinkan aku."
Syafiq menaikkan ujung alis nya mendengar pernyataan Hana, yang menurut nya cukup pintar untuk berdalih.
"Aku akan menyiapkan makanan," ucap Riana sembari beranjak dari tempat duduk nya. "Silakan kalian mengobrol."
"Terima kasih, kakak ipar," sahut Syafiq dengan tenang nya, dan kini Hana yang menaikkan ujung alis nya.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana menurut mu tentang perjodohan ini, Hana?" tanya Syafiq.
"Aku tidak tahu, aku hanya ikut saja apa kata abi." Hana menjawab dengan jujur