Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 97 - Sang Malaikat Tak Bersayap


__ADS_3

"Yang ini bagaimana?"


Riana memperlihatkan sebuah gamis berwarna merah muda pada Hana, tetapi adiknya itu menggeleng sambil meringis apalagi melihat baju itu penuh bunga-bunga, bagi Hana itu seperti baju anak-anak.


"Ini cocok lho, Dek," seru Riana.


"Tapi itu terlihat seperti anak-anak, Mbak," rengek Hana. "Aku mau baju yang sederhana saja, yang tidak terlalu mencolok."


Saat ini kedua bersaudara itu sedang berbelanja di mall, sekaligus menghibur diri mereka setelah sibuk dengan berbagai urusan baik pekerjaan mau pun yang lain.


"Ya sudah, yang ini bagaimana?" Kini Riana menunujukan gamis putih polos dan Hana langsung mengangkat dua jempolnya sambil tersenyum lebar.


Tak berselang lama, Ilyas dan putra mereka yang berusia enam tahun datang menemui mereka.


"Kenapa Tante tidak mengajakku tadi?" tanya bocah bernama Hafiz itu. Alih-alih bergelanyut manja pada sang Ibu, Hafiz justru langsung bergelanyut manja pada Tante-nya.


Selama ini Hana memang sering menghabiskan waktu dengan Hafiz, bahkan tak jarang keponakannya itu tidur di kamar Hana karena Hana sering membacakan cerita untuknya.


"Kan tadi Hafiz masih sekolah, Sayang," jawab Hana sambil tersenyum.


"Benar," jawab sang keponakan sambil cengengesan.


"Bagaimana? Apa Hafiz suka sekolahnya?" tanya Hana lagi.


"Suka, tapi Hafiz tidak suka karena tidak satu kelas sama Kakak," rengek Hafiz yang membuat Hana dan Riana terkekeh. Sejak awal, Hafiz memang mengatakan ingin satu sekolah dengan si kembar, begitu juga si kembar.


"Mereka kan kelas dua, Hafiz baru kelas satu. Yang penting kan satu sekolah," tukas Riana.


"Benar," sahut Hafiz lagi yang seketika membuat mereka hanya bisa terkekeh.


Setelah membayar belanjaannya, mereka hendak langsung pulang dan berencana makan siang di rumah.


Tetapi saat hendak keluar, tiba-tiba buku Hana yang sejak tadi ia simpan di pangkuannya terjatuh.


Saat Riana hendak mengambilnya, ada orang lain yang sudah mengambil lebih dulu. Wanita itu menyerahkan bukunya pada Hana dan Hana melihat pergelangang tangan wanita itu memakai henna yang sangat cantik, mengingatkannya pada Meizia.


Sepanjang waktu Ameer selalu melukis bunga dengan henna di kedua pergelangang tangan Meizia guna menutupi bekas sayatannya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Hana saat menerima buku itu.


"Mbak Hana Karimah, bukan?" pekik wanita itu tiba-tiba yang langsung tersenyum melihat Hana.


"Iya," jawab Hana sambil tersenyum lembut.


"Ya ampun, aku tidak menyangka bisa bertemu langsung denganmu, Mbak!" seru wanita itu dengan mata yang langsung berkaca-kaca. "Aku ... aku benar-benar tersentuh dengan motivasi yang selalu Mbak Hana katakan. Dan asal Mbak tahu, motivasi dari Mbak Hana menyelamatkan hidupku."


Wanita di depannya menangis, tetapi ia segera menyeka air matanya. Dan itu membuat Hana tersentuh. "Mau berbicara sebentar?" tawar Hana meski ia tak mengenal gadis di depannya itu.


"Kita bisa bicara sambil makan sekalian," saran Ilyas.


"Aku senang," sahut wanita itu girang, seolah ia telah bertemu dengan seseorang yang menjadi idolanya.


Mereka pun mampir ke restoran yang ada di mall itu, dan gadis tersebut mulai bercerita awal mula mengetahui tentang Hana.


"Saat itu aku merasa hidupku sudah selesai, Mbak, bahkan aku sudah mencoba mengakhirinya." Wanita itu menunjukkan pergelangan tangannya.


"Itu ide yang bagus," ujar Hana saat menyadari rupanya henna itu untuk menutupi bekas sayatannya.


"Aku mendapatkan ide ini setelah mendengar cerita tentang temanmu, Mbak." Wanita itu berkata sembari mengucek matanya yang sudah berembun itu.


"Saat itu aku merasa dunia sedang berbuat keji padaku. Satu minggu sebelum pernikahanku, seseorang melecehkanku. Calon suamiku dan seluruh keluarganya enggan menerimaku, menganggap aku tidak pantas untuk mereka. Ayahku shock dan terkena serangan jantung. Dia dirawat secara intensif mungkin sekitar satu bulanan, aku sudah putus asa dan sudah mencoba bunuh diri, tetapi ibuku menyelamatkanku. Dan saat di rumah sakit, tanpa sengaja aku menemukan video motivasi dari Mbak."


Meski tampak sedih, tetapi wanita itu tersenyum di akhir kalimat, seolah ia sangat bersyukur dan senang dengan video motivasi Hana itu.


"Semua ada hikmahnya, semua berhubungan dan pada akhirnya semua akan membawa kebaikan. Aku suka kata-kata Mbak yang itu."


"Itu kata-kata sahabatku, kata-kata itu juga yang membuat aku membuka mata dengan baik untuk memandang hidup ini dari sudut pandang yang berbeda," tukas Hana. "Sahabat yang juga menutupi bekas lukanya dengan henna, seperti yang kamu lakukan."


"Itu benar," sahut wanita itu. "Setelah mendengar kata-kata itu, aku mencoba bangkit dan mencari hikmah apa yang bisa aku dapatkan dari kejadian itu. Apalagi setelah aku tahu apa yang menimpa Mbak Hana, jika Mbak saja sanggup menghadapi dunia ini, kenapa aku tidak?"


Hana tersenyum penuh hari mendengar kata-kata wanita itu, hikmah di balik semuanya benar-benar selalu ada.


"Lalu apa yang kau temukan?" tanya Hana.


"Jati diri yang baru, yang lebih kuat dan tegar." Wanita itu menjawab sambil tersenyum lebar, seolah ia benar-benar sudah sembuh dari luka masa lalu. "Setelah kejadian itu, aku mendirikan sebuah komonitas untuk membantu sesama perempuan, terutama yang terkena masalah pelecehan. Mbak tahu sendiri, sebagai korban terkadang kita justru terlihat salah. Dan sebagai korban, kami juga takut bersuara. Takut karena malu, takut dikucilkan dan Sebagainya, sementara pelaku tetap hidup bebas dan tenang."

__ADS_1


" Itu benar," kata Hana. "Terkadang perempuan merasa lemah dan merasa tidak akan sanggup melawan, padahal sebenarnya perempuan juga kuat dan pasti sanggup melawan."


"Itu yang selalu aku katakan pada teman-teman di komonitasku, Mbak, bahwa kita juga kuat," sahut wanita itu yakin.


"Selain itu, aku juga menemukan seorang pria yang jauh lebih baik dari mantan calon suamiku dulu. Pria yang mau menerimaku apa adanya, yang tetap menganggapku suci dan menghormatiku. Bahkan, dia selalu mendukung aktivitas sosialku."


"Alhamdulillah, bukan kah itu kejutan yang luar biasa dan tak terduga?"


Itu juga apa yang Meizia tuliskan di buku hariannya, sebuah kejutan yang tak terduga.


Wanita itu mengangguk sembari menyeka air matanya, kali ini bukan air mata kesedihan tetapi air mata haru karena ia berhasil sampai pada titik ini, dan itu berkat orang asing seperti Hana.


Setelah makan dan mengobrol ringan, Hana pun pamit pulang.


"Jika Mbak Hana ada waktu, bisakah Mbak datang ke tempat kami? Kami sering membicarakan Mbak Hana dan kami mengidolakan sosok motivator seperti Mbak Hana." Wanita itu memberikan kartu namanya dan Hana langsung menerimanya.


"Inysaallah, aku akan menghubungimu nanti."


Wanita itu tampak semakin senang, membuat Hana juga tersenyum bahagia.


"Siapa yang sangka kamu menjadi malaikat tanpa kamu sadari, Hana," ujar Ilyas sambil terkekeh setelah perempuan itu pergi.


"Benar sekali," sahut Riana. "Wanita itu hanya satu dari sekian banyak orang yang termotivasi dari hidup kamu, Dek, kami semua bangga sama kamu."


"Aku juga tidak menyangka, di tengah keterbatasanku ternyata aku juga bisa menjadi perantara kebaikan untuk lain."


Berdamai dengan takdir bukan lah hal yang mudah, apalagi jika takdir itu berseberangan sangat jauh dengan apa yang selama ia inginkan. Namun, pada akhirnya ia harus tetap mengalah, pada akhirnya ia harus tetap berdamai demi ketenangan hidup yang lebih lanjut.


Hana berhasil melakukannya, meski butuh waktu yang tak sedikit. Meski butuh perjuangan yang tak sebentar dan tak mudah. Namun, kini ia menjadi seperti apa yang Meizia katakan dalam buku hariannya.


Mencoba membawa kebaikan untuk orang lain, mencoba mengambil hikmah di balik semua yang terjadi.


Kini, Hana menjadi seorang motivator yang cukup di kenal semenjak empat tahun yang lalu. Semua itu berawal dengan dia yang menulis sebuah buku dengan judul "Apa Arti Kehidupan?" dengan dua tokoh wanita yang berbeda tapi sama. Tokoh yang terinspirasi dari Meizia juga dirinya sediri. Mereka berbeda tapi sama.


Tentang seorang wanita yang merasa hidupnya sudah hancur, sudah selesai dan dunia ini begitu kejam. Tetapi gadis yang sama merasa hidup ini tidak akan selesai sampai maut datang dengan sendirinya. Dunia ini memang keras tetapi ia tahu ia sanggup menghadapinya.


Hana menunduk, menatap buku yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Itu adalah buku harian Meizia yang kini telah menjadi miliknya, buku yang membuat Hana membuka mata lebih lebar dan memandang segala sesuatu dari sudut yang berbeda.

__ADS_1


Di dalam buku itu, Meizia menceritakan hari-hari yang ia lewati. Dari saat hidupnya sebagai Meizia putri Mami Lala hingga menjadi Meizia istri Ameer.


Hana mengambil banyak pelajaran dari hidup Meizia dan juga hidupnya sendiri, dan kini ia berada di titik di mana Hana sudah sangat mampu berdamai dengan keadaan. Ia tak lagi mempermasalahkan dirinya yang berada di atas kursi roda sepanjang waktu, atau ia yang tak bisa melahirkan. Toh, keponakan-keponakannya juga anak-anaknya.


__ADS_2