
Setiap hari yang Meizia lewati bersama Ameer terasa begitu bermakna, apalagi setiap kali ia meraskan adanya kehidupan dalam dalam perut Meizia. Sepasang suami istri itu merasa tak sabar lagi menanti kehadiran kedua buah hati mereka.
Hal yang serupa dirasakan oleh Hana dan Stafiq, tentu dalam konteks yang berbeda. Kedua insan itu merasa tak sabar menanti hari pernikahan mereka.
Tadinya, kedua orang tua Syafiq menyarankan agar putranya itu menikah secara agama lebih dulu sembari menunggu proses pernikahan mereka secara agama dia dua negara yang berbeda. Namun, Syafiq dan Hana menolak.
Kedua insan itu ingin menikmati setiap prosesnya tanpa terburu-buru.
Di sisi lain, kehamilan Meizia kini sudah semakin membesar bahkan kedua anak-anaknya sudah sangat aktif bergerak.
Tanpa terasa, kehamilan Meizia sudah memasuki usia ke 7 bulan. Kehamilan yang besar membuat gadis itu semakin mudah lelah, tetapi hal itu tak menyurutkan semangat nya untuk selalu ikut kajian, entah bersama Ameer atau pun Ibu mertua nya.
Meizia sudah belajar begitu banyak hal tentang ajaran agamanya, ajaran Ameer dan aktifitas nya dalam ikut kajian sama sekali tidak sia-sia.
"Andai saja Syafiq dan Hana segera menikah, mungkin nanti akan kita akan seumuran," celetuk Meizia sembari naik ke atas ranjang.
"Semoga saja setelah menikah Hana langsung hamil, supaya usia anak kita tidak jauh jadi bisa lebih dekat sebagai suadara," pungkas Ameer panjang lebar. Ia mengusap perut Meizia dengan lembut.
__ADS_1
"Assalamualaikum, anak-anak Abi," sapa Ameer. "Kalian baik-baik di sana, ya."
Meizia tertawa kecil kemudian ia mengusap kepala sang suami, membelai rambut nya. "Aku penasaran apakah mereka akan mirip kamu atau aku," tukas Meizia.
"Jika laki-laki akan mirip aku dan jika perempuan aku mirip kamu, Sayang," kata Ameer.
Keduanya saling menatap dengan dalam, penuh cinta, seperti biasa. "Aku tidak sabar mendengar panggilan Ibu dari anak-anakku," ujar Meizia. "Itu pasti akan sangat indah."
"Sebentar lagi, Sayang," sahut Ameer.
"Oh ya, apa orang tua Hana sudah menentukan tanggal pernikahan Hana dan Stafiq?" tanya Meizia kemudian. "Aku dengar semua yang perlu di urus sudah selesai, mereka sudah bisa menikah dan Hana bisa pergi ke Mesir setelah menikah."
"Itu wajar," ujar Meizia. "Semua orang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk mengurus pernikahan, apalagi antar negara."
"Iya sih," gumam Ameer. "Aku rasa kita akan merindukan Hana nanti."
"Aku yakin pasti begitu," ucap Meizia. "Tapi nanti kita bisa datang ke Mesir, kan? Kira-kira butuh berapa banyak uang ke sana?"
__ADS_1
"Yang pasti cukup banyak, tapi tidak apa-apa, kita bisa menabung lagi setelah kamu melahirkan nanti. Sekarang aku sedang mempersiapkan uang untuk calon anak-anak kita."
Meizia yang mendengar pernyataan suaminya itu langsung tersenyum lebar, kemudian dia mencium pipi Ameer dengan gemas. "Kamu suami terbaik yang ada di dunia."
...🦋...
Keluarga Hana dan keluarga Syafiq sudah bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan anak-anak mereka, semuanya telah siap sehingga mereka memutuskan menikahkan mereka dua minggu lagi. Apalagi setelah itu mereka harus segera kembali ke Mesir karena mereka sudah terlalu lama berada di Indonesia.
"Aku rasa mungkin satu minggu setelah pernikahan kami sudah kembali," kata Syafiq. "Aku harap kalian tidak keberatan dengan keputusan kami."
"Tidak sama sekali," jawab Abi Thohir. "Kenapa kami harus keberatan ketika anak kami akan di bawa ke rumah suaminya."
Abi Thohir menatap Hana yang duduk di sisi nya, ia menggengam tangan putrinya itu dengan lembut. "Tolong jaga dia ya, Syafiq, Mesir itu sangat jauh dan dia tidak punya siapapun di sana."
"Ketika aku mengucapkan ijab kabul nanti, maka Hana akan sepenuh nya menjadi tanggung jawab ku, Om. Aku akan menjaganya sepenuh hati."
Hana mengulum senyum mendengar jawaban Syafiq, ia merasa tidak sia-sia menghabiskan sedikit lebih banyak waktu mengenal Syafiq dan tidak langsung menikahi nya.
__ADS_1
Pria itu sangat baik, bertanggung jawab dan sangat menghormati wanita. Membuat Hana merasa sangat nyaman dan segala keraguan yang sempat singgah di hatinya musnah begitu saja, kini ia yakin Syafiq adalah imam terbaik yang Tuhan kirim untuk nya.
Haruskah Hana mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada pria itu tanpa bisa di cegah?