
Hari yang di tunggu oleh Ameer dan keluarga nya akhir nya tiba, resepsi sederhana tetapi tetap berkesan. Mereka memang hanya mengundang orang-orang terdekat. Namun, tetap saja pesta itu tidak bisa jadi sederhana lagi.
Abi Zaid mengundang beberapa teman nya, begitu juga dengan Ayah nya Hana.
Pesta di adakan di hotel yang yang tak jauh dari kediaman Ameer, acara sudah di mulai beberapa menit yang lalu tetapi Meizia belum selesai bersiap.
Sejak tadi siang, istri tercinta Ameer itu kembali merasa lemas, mual dan ia tak ingin apapun. Sehingga ia baru di rias beberapa jam yang lalu.
Tak berselang lama, Jenny datang menemui Meizia. "Kamu cantik banget, Mei," ujar Jenny penuh haru yang membuat Meizia tersipu. "Ini bukan hanya hari terindah dalam hidup mu, tetapi juga dalam hidup ku."
"Terima kasih, Jen," ucap Meizia sembari menggenggam tangan Jenny, teman seperjuangan nya. "Semoga hari indah seperti ini juga segera terjadi dalam hidup mu." Doa Meizia.
"Aku rasa hanya ada di satu Ameer di dunia ini, Mei, maka dengan begitu hanya akan ada satu Meizia yang beruntung."
"Jangan bicara begitu, Jenny," tegur Meizia. "Aku yakin Allah sudah sudah menetapkan sesuatu yang sangat indah untuk mu, dan kamu harus sabar menunggu hal itu, okay?"
Jenny tersenyum dan mengangguk. Bersamaan dengan itu, Hana datang untuk menjemput Meizia.
"Semua orang sudah hadir, saat nya pengantin wanita masuk," ujar Hana.
"Dia sudah siap kok," kata Shafa sembari mengambil cadar Meizia dan memakaikan nya.
Setelah itu, Meizia justru mengulurkan tangan nya pada Hana, tentu saja Hana langsung menyambut uluran tangan Meizia. "Kita akan pergi bersama ke sana," ujar Meizia.
"Saat aku menikah nanti, aku harap kamu juga bisa mengantar ku ke pelaminan," gurau Hana.
"Kalau begitu kau harus menikah sebelum aku melahirkan atau dua bulan setelah aku melahirkan," balas Meizia dan seketika kedua wanita itu tertawa kecil.
Kedua kakak perempuan Ameer, Jenny dan Hana mendampingi Meizia menuju ballroom hotel di mana acara sedang berlangsung.
__ADS_1
Saat sang pengantin masuk, seketika semua mata tertuju pada nya. Mereka semua menatap Meizia dengan takjub, meskipun tak ada yang bisa melihat wajah asli istri Ameer itu, tetapi semua sudah melihat kecantikan Meizia dari mata nya.
Ameer pun tak bisa mengalihkan tatapan nya dari sang istri, ia seperti tersihir tatapan Meizia.
"Masyaallah, menantu mu cantik sekali," bisik salah satu teman Abi Zaid pada ayah mertua Meizia itu.
"Alhamdulillah, Allah memberikan karunia yang cukup besar Ameer, sekaligus tanggung yang juga besar," kekeh nya.
'Yeah, kau benar. Semakin cantik pasangan kita maka semakin besar pula tanggung jawab kita."
Sama seperti yang lain, Rizal juga tampak mengagumi kecantikan istri sahabat nya itu. "Aku rasa dia lebih cantik dari pertama kali aku melihat nya," kata Rizal.
"Tundukan pandangan mu, wahai anak muda!" seru Ameer. "Dia istri saudara mu."
Rizal berdecak, tetapi ia tetap mengikuti perintah Ameer untuk menundukan pandangan nya dari Meizia.
Ameer tersenyum saat sang istri kini sudah berdiri di hadapan nya, ia menyambut tangan Meizia dan mengecup nya dengan lembut. "Semua orang memuji kecantikan mu, Sayang," kata Ameer.
"Yeah, dan aku sedikit cemburu." Ameer menarik pinggang Meizia. "Kita hanya sebentar di sini, hanya untuk menyapa tamu setelah itu kita kembali ke kamar."
Meizia mengerut kan kening nya mendengar pernyataan Ameer, ia tak pernah melihat ada pengantin yang datang hanya untuk menyapa tamu dan setelah itu pergi.
"Aku rasa jalan kan saja sebagaimana semestinya," saran Meizia.
Beberapa teman orang tua Ameer mengucapkan selamat dan memberikan berbagai macam hadiah pada sang pengantin, mereka juga mendoakan yang terbaik untuk janin yang ada dalam kandungan Meizia.
Sungguh berkah yang luar biasa bagi seorang mantan PSK seperti dirinya, anak yang bahkan belum lahir kini telah mendapatkan doa dari orang-orang yang baik dan sholeh.
Meizia teringat dengan apa yang Jenny katakan, bahwa pernikahan nya dengan Ameer bukan hanya berkah untuk Meizia tetapi untuk orang-orang di sekiatar Meizia juga.
__ADS_1
Semua orang tampak menikmati pesta itu, termasuk Hana yang sejak tadi berbincang dengan Rizal dan juga Marwa. Sementara Jenny justru tampak berbincang serius dengan Ummi Nayla.
Meizia memperhatikan setiap tamu yang ada di sana, tak ada yang tak tersenyum. Tak ada mata yang memperlihatkan kesedihan, semua nya berbinar terang.
"Kau bahagia, Sayang?" Ameer berbisik di telinga sang istri.
"Aku selalu bahagia di setiap hembusan napas ku selama aku bersama mu," kata Meizia yang seketika membuat Ameer tertawa kecil.
"Harus kah kita ke kamar sekarang?" tanya Ameer.
"Acara baru berjalan setengah nya, Sayang, bagaimana bisa kita pergi?"
"Katakan saja kau lelah berdiri."
Meizia langsung memicingkan mata nya pada sang suami. "Kita bisa duduk," ucap nya kemudian karena mereka memang di sediakan shofa panjang untuk duduk. "Kenapa?" tanya Meizia kemudian.
"Entah lah, sebenar nya aku hanya ingin kita cepat-cepat kembali ke kamar."
Meizia tertawa sembari mencubit lengan suami nya itu dengan lemas. "Kita masih punya banyak waktu untuk bersama, jadi sebaiknya kita nikmati waktu sekarang bersama mereka semua."
Ameer menatap orang-orang di sekitar nya, ia mengulum senyum melihat orang-orang terdekat nya yang sedang berbincang satu sama lain. Ada juga yang sedang menikmati hidangan.
Ah, jangan lupakan juga si kecil Adiba dan Amina. Dua bocah itu membuat pesta semakin seru dan ramai, ada yang minta makan, ada yang minta kue.
"Aku jadi membayangkan bagaimana kalau kita punya dua anak sekaligus, pasti seru sekaligus merepotkan."
Tatapan Meizia juga tertuju pada Meizia dan Adiba. "Benar, dua anak itu selisih satu tahun tetapi seperti anak kembar."
"Ya Allah, semoga saja anak kita kembar, ya. Laki-laki dan perempuan. Terus anak kedua kita nanti juga kembar."
__ADS_1
Meizia tergelak mendengar ucapan Ameer itu, tak ada yang bisa ia lakukan selain mengaminkan nya.