Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 90 - Pelajaran Langsung


__ADS_3

"Aku minta maaf," ucap Syafiq sambil tertunduk dalam, merasa menyesal dan prihatin melihat keadaan Hana.


Sementara Hana tak mampu menjawab karena menahan tangis. "Aku harap kamu tidak membenci ku, Han." Syafiq memelas, membuat Hana merasa tersentuh.


"Itu sudah takdir-Nya," jawab Hana akhirnya yang membuat Syafiq menghela napas lega.


Sementara di luar, Abi Thohir memberi tahu Riana bahwa ia ingin pergi ke rumah Ameer untuk melayat. "Abi sudah menganggap Meizia sebagai putri Abi sendiri, sama seperti kamu dan Hana."


Riana mengangguk mengerti, apalagi bersamaan dengan itu Ilyas datang. "Apa kamu dari rumah Ameer, Mas?" tanya Riana dengan cepat.


Ilyas hanya mengangguk dengan raut wajah yang tampak sedih. "Bagaimana keadaan di sana, Mas?" tanya Riana lagi. "Apa Ameer baik-baik saja?"


"Fisik nya terlihat begitu," jawab Ilyas. "Kata om Zaid, dia menangis semalaman di sisi anak-anak nya. Dan tadi dia juga terlihat sangat terpukul, tatapan mata nya sangat kosong."


"Dia sangat mencintai Meizia, pasti ini menjadi pukulan yang luar biasa untuk nya," ucap Abi Thohir. "Tapi setidaknya Ameer masih punya si kembar, mungkin itu bisa menjadi obat untuk nya."


"Om dan tante juga bilang begitu, Bi," sahut Ilyas. "Kalau saja bukan karena si kembar, mungkin keadaan Ameer lebih buruk dari sekarang."


"Aku harus pergi ke sana sekarang," tukas Abi Thohir kemudian. "Kalian harus menjaga Hana," pinta nya.


Di sisi lain, Ameer mengurung diri di kamar nya, tak kuasa melihat orang-orang di luar yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa atas kematian sang istri, hal itu sangat wajar tetapi entah kenapa bagi Ameer itu seperti memperdalam duka nya.


Ia duduk di sudut kamar, memeluk pakaian pertama bayi nya yang di beli dengan sangat semangat oleh Meizia.


"Om?"

__ADS_1


Ameer mendongak saat mendengar suara cempreng itu. "Om sedih?"


Kaki kecil Adiba melangkah mendekati nya, membuat hati Ameer sedikit lebih tenang. Apalagi saat ia melihat Amina juga datang dengan membawa segelas air.


"Kata Nenek, Om belum minum dan belum makan," kata Amina.


"Lalu kenapa cuma di bawakan air minum, Kak? Kok tidak di bawakan makanan juga?" tanya Adiba.


"Kan tangan kakak kecil, Dek," jawab Amina dengan polos nya. "Cuma bisa bawa air."


"Kalau begitu biar Adek yang ambilkan makanan," tukas Adiba.


"Tidak usah, Adiba!" cegah Ameer yang memang tidak ingin makan sama sekali.


"Oh ya, kapan kita jemput adik bayi nya?" tanya Amina sembari menyodorkan gelas berisi air itu pada Ameer.


"Besok, Sayang," jawab Ameer. Ia mengambil gelas itu, tetapi entah kenapa napas nya kembali tercekat, mata nya kembali terasa panas dan berkaca-kaca.


"Om sedih karena ummi nya adik bayi pergi ke Surga?" celetuk Adiba dengan polos nya. "Jangan sedih, Om, kata abi surga itu indah sekali, semua orang ingin tinggal di sana."


Bukan nya merasa terhibur, Ameer justru kini kembali melepaskan tangis nya. Apalagi dada nya kembali terasa sesak membayangkan ini bukan perpisahan sementara.


"Minum dulu, Om!" Amina mendorong tangan Ameer agar Paman-nya itu segera minum. Sambil berlinang air mata, Ameer menyeruput air itu.


Tak berselang lama, pintu kembali terbuka dan kini Abi Thohir yang datang. Pria paruh baya itu menahan napas melihat keadaan Ameer, pria bijaksana yang mungkin tidak pernah menangis sejak ia remaja. Pria yang selalu terlihat kuat dan tenang, kini benar-benar terlihat hancur.

__ADS_1


Sementara Ameer langsung menyeka air mata nya dengan punggung tangan nya, ia menarik napas panjang dan berusaha terlihat tegar.


Abi Thohir yang juga kehilangan istri nya tentu saja sangat mengerti apa yang di rasakan oleh Ameer, apalagi sampai sekarang rasa sakit itu masih ada.


"Anak-anak main di luar sebentar, ya!" seru nya pada Adiba dan Amina, kedua bocah cilik itu langsung berlarian keluar dari kamar.


Abi Thohir mendekati Ameer, menyentuh pundak pria itu dan menepuk nya dengan pelan-pelan. "Mereka ada di tempat yang jauh lebih baik," lirih nya. "Di tempat yang hanya ada kenyamanan dan kebahagiaan."


"Aku hanya tidak bisa terima kenapa bisa secepat ini," gumam Ameer. "Anak-anak ku bahkan belum mendapatkan pelukan ibu nya, ujian terlalu menyakitkan untuk kami."


"Allah tidak akan menguji mu melampaui batas kemampuan mu, dan Allah tidak menguji seseorang kecuali untuk mengampuni dosanya atau menaikkan derajatnya."


"Semua orang bilang begitu." Ameer kembali berkata lirih. "Aku juga tahu itu, bahkan aku sering menjelaskannya dalam kajian. Tapi sekarang__"


"Pelajaran secara langsung." Abi Thohir memotong ucapan Ameer dan keponakan nya itu mengangguk.


"Ameer!" seru Abi Thohir sembari memegang kedua pundak Ameer, membuat sang keponakan langsung menatap nya. "Kamu harus tetap kuat, Nak, apalagi ada si kembar yang masih butuh sosok Ayah yang sempurna. Dan kamu harus melebihi sosok ayah itu, kamu juga harus bisa menjadi sosok Ibu untuk anak-anak mu."


Ameer masih terdiam, tetapi kata-kata Paman-nya itu begitu menyentuh hati Ameer dan seolah menyadarkan nya.


"Om tahu kamu berduka, satu atau dua minggu, bahkan satu atau dua bulan tidak akan bisa membuat luka itu sembuh, tapi kita harus tetap kuat demi buah hati kita, seperti Om yang harus kuat demi Riana dan Hana. Kamu pun harus kuat demi si kembar."


Ameer menghela napas panjang, ia kembali menatap baju bayi itu dan teringat dengan permintaan Meizia dulu, yang ingin Ameer menjadikan anak-anak nya anak yang kuat dan hebat.


"Aku akan ke rumah sakit sekarang, Om," kata Ameer kemudian. "Hanya wajah si kembar yang bisa meredakan rasa sakit ku."

__ADS_1


__ADS_2