Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 79 - Pasrah 2


__ADS_3

Ameer tak bisa melakukan apapun, selain berusaha menutupi musibah yang terjadi pada keluarganya dari Meizia.


Orang-orang sudah mendapatkan kabar tentang apa yang terjadi pada Syafiq, Hana dan ibunya Hana. Mereka semua bersedih, apalagi selama ini Ibunya Hana terkenal sebagai orang yang baik, suka menolong tetangga dalam segala hal dan tidak pernah menyakiti orang baik dengan perilaku atau pun kata-kata.


Operasi Hana dan Stafiq sama-sama berjalan lancar, tetapi Dokter masih tak bisa memastikan keadaan keduanya karena luka yang mereka alami terlalu berat.


Saat pagi menjelang, Riana dan sang Ayah mengurus jenazah wanita yang sangat meteka cintai. Keluarga Ameer pun mendampingi, kecuali Ameer yang masih menemani Meizia di rumah sakit.


"Hana ke mana ya, Bi? Aku kirim pesan dari tadi malam,tapi sampai sekarang belum di baca," keluh Meizia sembari memakan anggur yang sudah dibelikan oleh Ameer.


"Mungkin masih tidur, Sayang," sahut Ameer yang terpaksa berbohong.


"Tidak mungkin," bantah Meizia. "Selama ini Hana tidak pernah bangun siang, ini sudah jam 9 lho," tukas nya.


Ameer terdiam, tak tahu lagi harus memberikan alasan apa pada Meizia agar istrinya itu percaya padanya. "Mungkin dia tidak punya pulsa," kata Ameer dengan asal.


"Bisa jadi," ucap Meizia kemudian.


Tak berselang lama, Dokter datang membawa hasil pemeriksaan Meizia. "Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja," kata Dokter. "Bayi-bayi dalam kandungan Ibu Meizia juga begitu sehat, tapi tolong lebih banyak minum air putih dan konsumsi buah ya, Bu."


"Baik, Dok," sahut Meizia dengan semangat. "Sekarang aku boleh pulang, kan?" tanya Meizia.


"Bisa, Bu," jawab Dokter.


"Ayo pulang, Sayang," ajak Meizia dengan semangat pada Ameer. "Jangan lupa nanti kita belikan pulsa untuk Hana, ya." Lanjutnya yang membuat Ameer terhenyak, merasa tak tega jika terus-terusan membohongi Meizia.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, keluarga Riana dirundung kesedihan yang begitu luar biasa, terutama saat mereka acara pemakaman.


Meski berkali-kali Riana menyeka air matanya, tetapi air mata itu terus mengalir tanpa henti. Semua orang mencoba menenangkan hati Riana, suami, Ayah, Paman dan Tante-nya. Tak ada satu pun yang berhasil membuat Riana tenang.


"Tenang Ri," pinta sang Ayah sembari merangkul Riana yang masih bersimpuh di sisi makam sang Ibu.


Namun, Riana justru menjatuhkan dirinya di atas maka. itu sembari memegang batu nisan ibunya. "Kenapa Ummi tidak membawa ku?" lirih Riana di tengah isak tangis nya. "Apa yang harus aku katakan pada Hana nanti?"


Orang-orang yang ikut menghadiri pemakaman juga tak bisa menahan air matanya, kali ini bukan karena kematian kerabat mereka, tetapi merasa tak tega melihat Riana yang begitu terluka.


"Sayang ...." Ummi Nayla memeluk Riana. "Jangan begini, itu tidak boleh, Nak." Ia mencoba menyadarkan keponakannya. "Ibumu tidak akan tenang di alam sana kalau kamu tidak bisa ikhlas, ibumu akan sedih dan Tante yakin kamu tidak mau ibu sedih, iya kan?"


"Tapi rasanya ... rasanya sakit sekali, Tante," lirih Riana.


"Tante tahu," sahut Ummi Nayla sembari menyeka air mata Riana. "Tapi kamu harus kuat, demi Hana. Siapa lagi yang akan menjaga dia kalau bukan kamu, Sayang? Siapa yang akan memberikannya kekuatan kalau bukan kamu? Sekarang kamu adalah sosok Ibu yang baru untuk nya."


"Hana juga butuh kamu, sekarang hanya kamu tempat dia bersandar." Riana menggigit bibir, mencoba menahan isak tangis.


Benar, dia masih punya Hana yang harus ia jaga. Yang harus ia lindungi dan ia sayangi.


"Sayang?" Kini Ilyas yang membujuk, ia mengusap kepala sang istri. "Kami juga sedih, tapi kami memang membutuhkanmu saat ini. Abi dan Hana juga membutuhkan kamu, aku tahu kamu kuat."


Riana menatap mata sang suami dengan sayu. "Kita semua terluka," kata Ilyas sembari menyeka air mata Riana. "Tapi kita harus ikhlas agar Ummi tenang di alam sana, agar dia tidak sedih. Yang dia butuhkan saat ini bukan air mata kita, tapi doa dan keikhlasan kita."


"Ilyas benar, Nak," sahut Abi Thohir. "Allah menguji kalian, karena Allah tahu kalian kuat dan sanggup menghadapinya."

__ADS_1


"Kami juga akan selalu ada di sisi mu, Ri," sambung Shafa. "Kami tidak akan meninggalkan mu dan Hana."


"Kita akan melewati ini bersama." Marwa menimpali.


Riana merasa sedikit tenang saat mendengar dukungan dan nasihat seluruh anggota keluarganya, meski rasa sakit itu masih ada, begitu besar dan dalam. Namun, mereka benar. Ini sudah takdir, Riana tak puny pilihan selain pasrah.


......🦋......


"Sudah?" tanya Meizia saat Ameer kembali ke dalam mobil.


Ameer hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan, Meizia memaksanya membeli pulsa untuk Hana dan hal itu membuat hati Ameer terasa nyeri.


"Masih centang satu," kata Meizia saat memeriksa pesan yang ia kirim dari ponsel sang suami.


Meizia pun mencoba menghubungi nomor ponsel Hana, tetapi yang menjawab justru operator. "Ponselnya tidak aktif," tukas Meizia memberi tahu Ameer.


"Mungkin dia sedang sibuk," kata Ameer. "Sebaiknya kita tunggu dia saja yang menghubungi kita." Ameer mengambil ponselnya dari tangan Meizia, membuat Meizia sedikit merasa heran.


Namun, ia merasa sepertinya Hana memang sedang sibuk apalagi pernikahannya tinggal menghitung hari.


Kini mereka sudah sampai di rumah tetapi di rumah tidak ada siapa pun. Meizia tak merasa heran dengan hal itu, sebab mertuanya memang punya jadwal yang lumayan padat sebagai orang terkemuka.


"Kamu tunggu di sini, ya. Aku mau mengambil air minum," kata Ameer sembari meletakkan ponsel dan dompetnya di meja.


Meizia hanya mengangguk, saat pergi, ponselnya menyala dan sebuah notifikasi masuk. Meizia membukanya dan seketika ia tercengang, air mata menetes begitu saja di pipinya.

__ADS_1


"Zia, maka—" Ucapan Ameer terhenti saat melihat Meizia memegang ponselnya dan air mata sudah mengalir di pipi istrinya itu.


"Hana bukannya kesiangan, tidak punya pulsa atau sibuk, Ameer. Dia kecelakaan, tadi malam."


__ADS_2