
"Tante?" gumam Meizia pada ibunya Ameer datang ke rumahnya sendirian.
"Sibuk?" tanya Ummi Nayla dan Meizia hanya menggeleng. "Boleh minta waktu kamu sebentar?" tanyanya.
"Silakan masuk, Tante."
Meizia membuka pintu dengan lebih lebar, mempersilakan Ummi Nayla masuk. Jenny yang melihat ada Ummi Nayla langsung menyapa dengan ramah meski masih sedikit canggung.
"Kalian tinggal berdua di sini?" tanya Ummi Nayla.
"Iya, Tante," jawab Meizia yang juga tampak canggung. "Dulu aku tinggal sama mama di sini, Jenny tinggal di ...." Meizia sengaja tak melanjutkan, bahwa sebenarnya Jenny tinggal di rumah bordil.
"Tante faham," kata Ummi Nayla. "Tidak apa-apa, tidak usah selalu melihat ke belakang. Sebaiknya sekarang kalian fokus pada apa yang ingin kalian capai." Lanjutnya.
"Terima kasih banyak, Tante," ucap Meizia dan Jenny yang merasa senang atas dukungan kecil itu.
"Aku ingin berbicara berdua dengan kamu, Meizia, jika kamu tidak keberatan," kata Ummi Nayla kemudian yang seketika membuat Meizia sedikit cemas.
Sementara Jenny yang mengerti keinginan ibunda Ameer itu langsung beranjak dari tempat duduknya. "Aku berangkat duluan ya, Mei, lagi pula kamu akan ke restaurant sementara aku akan ke toko baju."
Meizia hanya bisa mengangguk kecil.
__ADS_1
"Apa kamu mencintai Ameer, Meizia?" tanya Ummi Nayla sesaat setelah Jenny pergi.
Meizia yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya bisa tercengang, bahkan pandangannya langsung turun seolah ia tak mau beradu tatapan dengan Ummi Nayla.
"Jujur saja, Meizia," tegas Ummi Nayla. "Karena Ameer sepertinya sangat mencintaimu, kakeknya juga mendukung itu bahkan membujuk kami agar mau merestui cintanya. Selain itu, Ameer sering memberikan sindiran halus pada kami untuk memberi tahu bahwa dia sungguh ingin menikahimu."
Meizia terhenyak, tak menyangka Ameer sudah melangkah sejauh ini untuk dirinya. Ia semakin kehilangan kata-kata.
"Kenapa diam saja?" desak Ummi Nayla yang tak sabar menanti jawaban Meizia.
"Maafkan aku, Tante," ucap Meizia kemudian. "Tapi aku sangat tidak pantas untuk pria sempurna seperti Ameer. Aku memang sangat bersyukur karena dia membantuku dan teman-temanku, tapi aku bahkan tidak ingin berteman dengan Ameer karena aku takut masa laluku menodai nama baik Ameer."
"Maksud kamu?" tanya Ummi Nayla yang sedikit tidak mengerti dengan kalimat terkahir Meizia.
"Bukankah sekarang kamu ingin memperbaiki diri? Kamu bisa memantaskan diri untuk Ameer."
"Tapi Bayang-bayang masa laluku tidak akan meninggalkanku, Tante, bahkan hal itu bisa menodai nama baik Ameer di masa depan. Mungkin orang akan mengatakan bahwa seorang Ustadz seperti Ameer menikahi seorang mantan pelacur. Aku tidak ingin itu terjadi, kalian juga pasti malu jika aku menjadi bagian dari keluarga kalian."
Tanpa terasa air mata Meizia tumpah, tetapi ia segera menyekanya. Bahkan, wanita itu juga masih sempat menyunggingkan senyum untuk menutupi rasa sakit karena tak bisa bersama orang yang ia cintai.
Sementara Ummi Nayla hanya terdiam mendengar ucapan panjang lebar Meizia, ini kali pertama wanita itu banyak berbicara dengannya.
__ADS_1
"Ada lagi, Tante?" tanya Meizia sembari melempar senyum lembutnya.
"Ameer sangat mencintai, Meizia. Dia berusaha keras menyelamatkanmu, bahkan masuk ke persidangan untuk membelamu. Apa itu tidak cukup untukmu mau menerimanya?"
Deg
Meizia terhenyak, apakah baru saja Ibunda Ameer itu memintanya menerima Ameer?
"Sebagai ibu, Tante memang sangat ingin Ameer mendapatkan wanita terbaik, dari keluarga baik-baik, Meizia. Tapi juga sebagai Ibu, Tante tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Ameer dan keinginannya. Dia sangat ingin menikahimu, bahkan meskipun kami menjodohkannya dengan Hana, dia menolak dan berkata jujur pada kami bahwa dia mencintaimu sejak pertama kali melihatmu."
Deg
Untuk kali kedua, Meizia dibuat terhenyak oleh pernyataan Ummi Nayla. Apalagi saat wanita paruh baya itu menyebut nama Hana sebagai wanita yang akan dijodohkan dengan Ameer, wanita baik-baik, anggun, sopan dan tentu saja berasal dari keluarga baik-baik.
"Tante tahu, ini akan berat untuk kamu dan kami, Meizia. Dan mungkin akan ada banyak orang yang mencemooh, tapi kebahagiaan kita tidak bisa digantungkan pada penilaian orang lain, kan? Jika kamu mau menjadi istri yang baik untuk Ameer, kami akan sangat senang karena Ameer akan sangat bahagia."
Meizia tak bisa berkata-kata, hal ini di luar ekspektasinya.
"Pikirkan sekali lagi, Meizia," pinta Ummi Nayla. "Jika kamu memutuskan menerima Ameer, maka Tante mohon, jaga nama baik dia dan kehormatannya."
"Aku takut gagal," jawab Meizia akhirnya.
__ADS_1
"Selama kamu tekun dalam hijrahmu, kamu tidak akan gagal."