
Saat hari sudah sore, Ameer kembali mengisi kajian setelah sebelumnya diganti oleh guru-guru yang lain. Kali ini Ameer lebih bersemangat dari biasanya karena dia tahu Meizia akan datang, meski sampai detik ini wanita itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
Sementara di sisi lain, Meizia justru berdiri di luar musholla sendirian. Gadis itu sudah berpakaian tertutup dari atas sampai bawah. Seperti yang Ameer sarankan.
Ia juga sangat ingin masuk, tetapi dia malu dan tidak tahu harus melakukan apa di dalam sana. Ia sempat berpikir akan pulang saja, tapi ia tak bisa karena Meizia sudah bertekad untuk memperbaiki diri.
Hingga tiba-tiba ada dua wanita yang baru datang dan salah satu wanita itu langsung menyapa Meizia. "Kenapa tidak masuk?" tanyanya.
Meizia bingung harus menjawab apa, ia hanya bisa menatap dua wanita cantik di depannya. Kening Meizia berkerut, rasanya ia tidak asing dengan salah satunya. "Meizia, kenapa diam saja?"
"Maaf," kata Meizia. Kini ia ingat siapa gadis itu, dia ada di rumah Ameer saat Ameer membawa Meizia ke rumahnya.
"Kenapa minta maaf? Ayo masuk," kekeh Hana bahkan ia langsung menarik tangan Meizia masuk.
Hana membawa Meizia duduk di pojok karena hanya tempat itu yang kosong, kajian yang diadakan dengan rutin itu memang tidak pernah sepi jemaah selama ini.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Hana yang melihat wajah Meizia sedikit pucat.
"Siapa namamu?" tanya Meizia yang membuat kening Hana berkerut dalam, tetapi sedetik kemudian ia terkekeh.
"Kamu sudah mengenal Ameer, Mbak Shafa dan Mbak Marwah, tapi kamu tidak mengenalku?" tanya Hana. "Padahal aku juga suadaranya Ameer," tambah Hana.
"Oh, maaf," ucap Meizia dengan tulus yang kembali membuat Hana tertawa kecil.
"Kamu terlalu serius, Meizia," tukas Hana.
Obrolan kecil kedua wanita itu rupanya menarik perhatian beberapa wanita yang ada didekat mereka, tak terkecuali Ummi Nayla dan juga ibunya Hana.
"Kalau mengobrol jangan di sini, di luar sana," tukas Ummi Nayla yang langsung membuat Meizia kembali menunduk dalam, sementara Hana hanya melempar senyum tipis pada Tante-nya itu.
Suasana kembali tenang, kini Ameer mulai membuka kajian seperti biasa dan semua orang mendengarkan dengan seksama, tak terkecuali Meizia.
"Di mana teman-temanmu?" TibawHana berbisik pada Meizia, tentu saja membuat wanita itu secara spontan langsung melirik Ummi Nayla karena ia takut kembali
"Tidak ikut," jawab Meizia yang juga berbisik.
"Kenapa?" Hana kembali bertanya yang membuat Meizia langsung meringis, ia pikir Hana adalah gadis anggun, lemah lembut yang akan terus menunduk dan tak banyak berbicara. Tapi sepertinya persepsi Meizia salah.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," jawab Meizia yang kembali berbisik.
"Memangnya kamu tidak bertanya kenapa mereka tidak ikut?" Meizia kembali meringis.
"Sudah, aku—"
"Ini bukan tempat mengobrol!" Ummi Nayla memotong jawaban Meizia. "Kalian ini sudah dewasa, apa tidak bisa diam dan dengarkan guru kalian berbicara di depan?"
"Hehe, iya, Tante," jawab Hana kembali melempar senyum tipisnya. Sementara Meizia lagi-lagi hanya bisa menunduk.
"Terutama kamu, Meizia!" seru Ummi Nayla dengan suara yang rendah tetapi tegas. "Ini pertama kalinya kamu ikut kajian, jadi akan lebih baik kalau kamu menyimak dan tidak sibuk sendiri."
"B-baik," jawab Meizia sedikit gugup. "Lain kali kamu datang lebih awal supaya bisa duduk di depan, siapa tahu dengan begitu kalian fokus mendengar bukan asyik berbicara."
"I-iya," sahut Meizia.
Kini kedua wanita itu kembali diam dan menyimak isi kajian, yang Ameer terangkan saat ini adalah bab shalat.
Meizia mendengarkan dengan seksama dan mengingat kembali berapa kali dirinya shalat? Dia bahkan lupa kapan terakhir sholat, tapi Meizia pernah shalat saat di sekolah dulu. Itu pun hanya karena ikut-ikutan temannya yang sholat.
Meizia tampak bingung harus menjawab apa, ia tidak punya mukena dan ia tidak tahu apa saja bacaan sholat. "Aku ... aku akan sholat di rumah saja," jawab Meizia.
"Shalat berjemaah lebih baik dari pada sholat sendirian," kata Hana sambil tersenyum. "Udah, sholat di sini saja."
"Aku tidak punya mukena," kata Meizia akhirnya.
"Di sini banyak, kamu tinggal pakai yang mana saja," pungkas Hana sembari menarik Meizia ke lemari yang berisi mukena. "Nah, ini tempat mukena dan yang itu tempat Al-Qur'an." Hana menunjuk ke lemari yang satunya. "Kamu boleh pakai barang-barang di sini."
Meizia hanya bisa mengangguk pelan.
Dari kejauhan, Ameer tersenyum saat melihat Hana yang menggandeng tangan Meizia dan gadis itu terus berbicara sejak tadi. Ameer sungguh berharap Meizia segera mampu berbaur dengan mereka semua dan terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang.
Sebentar lagi memang memasuki waktu maghrib, maka semua yang ingin melaksanakan sholat berjemaah di sana segera mengambil wudhu segera bergantian.
Hana masih menggandeng Meizia, seolah wanita itu adik kecilnya yang takut hilang di keramaian.
"Udah, masuk yuk!" ajak Hana saat merasa di dalam sudah tidak penuh.
__ADS_1
Meizia hanya patuh saja saat Hana menyeret ke dalam. "Wudhu di sini, ya." Hana berkata sembari menempatkan Meizia di sisinya.
Saat Meizia hendak berwudhu, ia melipat lengan bajunya hingga siku dan ternyata bekas sayatan di pergelangan tangannya menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana.
Mereka yang belum tahu siapa Meizia tentu saja terkejut dan mulai bertanya-tanya apa yang terjadi dengan wanita muda itu.
"Lenganmu kenapa, Neng?" tanya salah satu wanita paruh baya di sana.
"Tidak apa-apa," jawab Meizia dengan suara rendah.
"Astagfirullah, Neng, kamu mencoba bunuh diri?" celetuk wanita yang lain. "Itu tidak boleh loh, salah satu dosa terbesar selain zina dan musyrik adalah bunuh diri."
"Aku khilaf," sahut Meizia dengan suara yang sedikit bergetar.
"Khilaf kok sampai dua tangan, Neng? Khilaf itu cuma sekali, kalau dua kali melakukan sesuatu berarti memang niat dan ingin," celetuk yang lain lagi.
"Dosa besar, Neng, Allah murka sama orang yang mendahului takdirnya."
Pernyataan mereka tentu saja membuat Meizia mulai tidak nyaman, meski sebenarnya mereka memang sangat benar. Namun, sekarang Meizia sudah tahu dan sadar itu salah.
Hana yang melihat Meizia dipojokan langsung mendekati wanita itu dan membelanya. "Dulu dia memang salah, dan sekarang dia berusaha memperbaiki diri," kata Hana. "Sebagai sesama muslim, bukankah lebih baik menyemangati hijrahnya seseorang dari pada mengungkit kesalahan di masa lalu?"
Mendapatkan teguran dari Hana tentu saja membuat mereka semua langsung terdiam. "Meizia baru saja menapaki jalan yang benar, dia baru hijarh dan yang dia butuhkan adalah dukungan dan do'a kita."
"Maaf, Ning Hana," ucap salah satu wanita itu.
"Tidak perlu minta maaf," jawab Hana sambil tersenyum. "Tapi tolong lain kali jangan mengungkit masa lalu orang lain, Meizia ada di tempat ini untuk memperbaiki masa depannya."
Kedua mata Meizia sudah berkaca-kaca, dan tak lama kemudian air mata yang coba ia tahan akhirnya jatuh juga. Dadanya terasa bergemuruh tetapi ia mencoba menahan perasaan itu, Meizia tahu ini pasti akan terjadi. Pasti akan ada yang kembali melihat masa lalunya dan mempertanyakannya.
Adzan sudah berkumandang, meraka semua bergegas mengambil wudhu dan yang sudah selesai segera keluar.
"Jangan diambil hati," kata Hana menghibur dan Meizia hanya mampu mengangguk.
Saat ia menadahkan tangannya di bawah kran, air mata kembali tumpah deras dan gelapnya masa lalu kembali terbayang dalam benaknya. Membuat tangan wanita itu bergetar bahkan isakan kecil lolos dari bibirnya.
"Bisakah aku menghapus jejak hitam itu, Tuhan? Bisakah orang lain tak menanyakannya lagi? Ataukah ini adalah awal dari perjalananku yang sesungguhnya?"
__ADS_1