Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 28 - Pilihan Yang Dijanjikan


__ADS_3

Ameer sudah berjanji akan memberikan pekerjaan pada para mantan PSK yang mau bersaksi di pengadilan, dan sekarang ia harus menepati janji itu tapi Ameer tentu tidak bisa melakukannya sendiri.


Maka, yang bisa membantu hanya kedua kakak perempuannya.


"Apa saja yang kamu janjikan pada mereka, Ameer?" tanya Shafa yang saat ini sedang sibuk dengan laptopnya.


"Hanya sebuah pekerjaan," jawab Ameer.


"Bukan menikahi mereka semua, kan?" ejek Marwa.


"Cintanya hanya tertuju pada Meizia, aku rasa dia tidak akan melirik wanita lain. Spek bidadari seperti Hana saja tidak bisa mencuri perhatiannya." Shafa menimpali yang membuat Ameer tersipu.


Saat ini Ameer sedang berada di Ahbab Store, toko baju muslimah yang dikelola oleh kedua kakak perempuannya sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan sebelum mereka menikah.


"Jadi bagaimana, Mbak? Bantu, ya?" rengek Ameer.


"Sebenarnya kami memang sedang mencari karyawan wanita, Ameer," kata Marwa. "Untuk toko cabang, kalau mereka mau sih."


"Pasti mau kok," jawab Ameer dengan cepat.


"Ckck, adik kecil kita ini rupanya sudah besar," kekeh Shafa.


"Astagfirullah, Mbak, aku sudah 30 tahun," seru Ameer.


"Nah, itu sadar. Usiamu sudah sepertiga abad, jadi sebaiknya kamu menikah, berikan cucu untuk Abi Ummi, adik untuk Adiba dan Amina. Indah hidupmu, Meer," celoteh Marwa.


"Masalahnya yang dicintai belum mau membuka hati," kata Shafa sambil tertawa.


"Dan restu belum ada." Marwa menimpali.


Sementara Ameer hanya bisa menghela napas berat, hal seperti ini sering sekali terjadi sejak kecil. Mentang-mentang dia si bungsu, kedua kakaknya itu selalu menggodanya.


"Baiklah, jadi kalian mau membantu apa tidak?" tanya Ameer kemudian.


"Panggil saja semuanya ke sini, biar nanti Mbak bicara sama mereka."


"Okay, Mbak," sahut Ameer dengan semangat sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Mau ke mana?" tanya Shafa.


"Mau kasih tahu Meizia supaya membawa teman-temannya ke sini," jawab Ameer.

__ADS_1


"Oh, pantas semangat," gumam Shafa yang lagi-lagi membuat Ameer kembali mengulum senyum malu-malu.


Saat Ameer sudah pergi, Shafa dan Marwa kembali membicarakan orang-orang yang akan mereka pekerjakan.


"Kita tidak butuh karyawan sebanyak itu, mungkin kita bisa minta bantuan ke Riana," saran Shafa.


"Boleh, restaurant ini sangat ramai dan katanya memang butuh beberapa pelayan lagi," sahut Marwa.


"Semoga saja Riana mau menerima mereka."


"Inysaallah dia akan mau membantu, dia sama baiknya seperti Hana."


...🦋...


Sementara itu, Ameer berkunjung ke restaurant Riana sebelum ia menemui Meizia. Ameer ingin membawakan makanan untuk wanita itu.


"Semuanya dibungkus?" tanya Riana dan hanya Ameer mengangguk sambil tersenyum.


"Mau dibawa ke mana?" tanya Hana yang baru saja keluar dari dapur.


"Untuk Meizia," jawab Ameer dengan suara lirih.


Rasa cemburu menyapa hati Hana, tetapi bibir wanita itu masih tersenyum manis. "Apa dia suka kepiting asam manis? Kakak ipar menambah menu itu dan rasanya sangat enak," pungkas Hana.


"Oh ya, kajian nanti jangan lupa. Karena sudah dua minggu kamu tidak mengisi kajian, orang-orang merindukanmu."


Ameer tertawa kecil mendengar ucapan Hana, ia memang sangat sibuk sebelumnya karena mendampingi Meizia dan yang lainnya menjalani kasus Mami Lala.


"Inysaallah nanti aku bisa mengisi kajian," kata Ameer.


"Sekalian ajak Meizia," saran Hana yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Ameer. "Sebentar, aku akan kasih tahu ke koki biar menyiapkan kepiting asam manis juga," kata Hana sembari beranjak dari kursinya.


"Terima kasih, Hana. Kamu saudari terbaik yang ada di dunia," puji Ameer sembari terkekeh, Hana pun ikut tertawa.


Namun, ia langsung membuang napas sambil mengusap dadanya saat berbalik badan. Ia tak bisa membohongi hatinya bahwa ia sangat cemburu pada Meizia yang mendapatkan perhatian istimewa dari Ameer.


"Ikhlas, Hana!" Ia berkata pada dirinya sendiri. "Hanya itu caranya untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup."


Hana meminta koki untuk menyiapkan kepiting asam manis juga, setelah semua pesanan Ameer siap, ia segera memberikannya dan melarang Ameer membayar.


"Anggap ini traktiran pertamaku untuk Meizia, sebagai ucapan salam kenal," kata Hana yang membuat Ameer semakin merasa takjub pada gadis itu.

__ADS_1


"Terima kasih adikku sayang," kata Ameer.


...🦋...


Sementara di rumah Meizia, ia kedatangan teman-temannya untuk bertanya tentang janji Ameer. Ada juga sebagian dari mereka yang sudah pergi ke luar kota untuk melanjutkan hidup mereka, tapi ada juga beberapa wanita yang tak bisa pergi ke mana pun.


"Kami tidak punya uang sepeser pun, Mei, kami takut untuk mencari pekerjaan," tukas seorang wanita di sana.


"Apa sebaiknya kita kembali saja bekerja seperti dulu? Tapi diam-diam?" celetuk yang lainnya yang membuat Meizia terperangah.


"Apa kalian gila?" pekik Meizia.


"Terus kami harus apa? Sebagian besar orang mengenal kita sebagai PSK, tidak ada yang mau menerima kita."


"Benar, ada yang juga yang mau menerima kita tapi dengan syarat kita harus bersedia menjadi pelampiasan hasrat mereka. Apa bedanya jika begitu?"


"Aku sudah menemukan pekerjaan, menjaga toko. Tapi gajinya cuma berapa ratus ribu, sangat tidak cukup untuk keluargaku."


Meizia hanya bisa menelan ludah mendengar cerita teman-temannya itu, ia tahu ada sebagian dari mereka yang terpaksa menjadi pelacur agar mendapatkan uang banyak, dalam waktu singkat. Salah satunya wanita yang duduk di sisi Jenny itu, dia tulang punggung keluarga. Harus memenuhi kebutuhan anaknya yang masih , adiknya yang masih sekolah dan ibunya. Sementara suaminya sudah meninggal.


"Kamu di mana Ameer? Aku butuh bantuan kamu," batin Meizia sambil menggengam ponselnya dengan erat.


"Sabar sebentar," seru Jenny. "Ameer sudah membantu kita keluar dari tempat terkutuk itu tanpa kita minta, jadi sebaiknya kita tunggu bantuan dia selanjutnya. Dia pria yang baik, tidak akan mengingkari janji."


"Tapi sampai kapan?" tanya wanita di sisinya itu. "Aku butuh uang secepatnya untuk memeriksa ibuku ke Dokter, aku juga butuh uang untuk uang semester adikku."


"Apa kau pikir ibumu akan senang jika tahu kamu mendapatkan uang dari menjual diri?" desis Jenny. "Asal kamu tahu, aku menjual diri demi mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung ibuku. Operasinya berhasil, tapi beberapa hari kemudian dia tahu aku menjual diri, dia shock dan meninggal saat itu juga. Kamu mau ibumu bernasib sama seperti ibuku?"


Wanita terdiam dan langsung tertunduk dalam, suasana menjadi tegang dan kini tak ada lagi yang berani bersauara. Hingga tak berselang lama, terdengar suara bel pintu. Meizia segera membuka pintu dan seketika ia bernapas lega melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, Ameer. Akhirnya kamu datang juga."


...🦋...


*Masih ada yang suka cerita ini?


Kalau kalian tanya, kok bisa begini ceritanya? Atau ini, itu.


Beberapa part di novel ini terinspirasi dari kisah nyata. Dimana ada seorang psk yang sudah berhenti menjadi psk, bekerja normal tapi tentu bayarannya mungkin tak sebesar menjual diri. Lalu, wanita itu kembali menjual diri dengan alasan bayarannya lebih mahal.

__ADS_1


Yang ingin aku sampaikan adalah ... pekerjaan halal gajinya mungkin tidak banyak, tapi lebih berkah dan hati pun tenang dan keluarga pun tidak malu. Rezeki sudah ada yang mengatur, tidak perlu mengambil jalan pintas*.


__ADS_2