
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Ameer yang menyadari Meizia menatapnya sejak tadi sambil terus mengulum senyum.
"Kamu ganteng banget sih," puji Meizia yang membuat Ameer langsung tertawa.
"Apa kamu tahu? Sejak menikah, baru sekarang lho kamu memuji ketampanan ku." Ameer menaik-turunkan alisnya pada sang istri.
"Ah masa?" tanya Meizia sembari mendekati Ameer yang berdiri di depan meja rias, ia meletakkan tangannya di dada sang suami bahkan ia terang-terangan menghirup aroma maskulin dari tubuh suaminya itu.
"Kamu juga wangi sekali, Sayang."
Ameer melongo mendengar pujian itu, apalagi setelah ia menatap wajah sang istri yang kini memejamkan mata.
"Ada apa dengan mu, hem?" Ameer menarik kedua pipi Meizia dengan lembut, merasa gemas dengan tingkah Meizia yang semakin hari semakin menjadi itu.
"Aku hanya memuji suamiku, apa itu tidak boleh?" Meizia bertanya dengan nada yang sangat manja.
"Tentu saja sangat boleh, aku bahkan merasa sangat senang karena istriku yang dulu pendiam kini mulai banyak bicara." Ameer menarik wajah Meizia dan memberikan kecupan singkat di sudut bibir sang istri.
"Sayang, sebaiknya kamu ganti baju karena acaranya sebentar lagi dimulai," kata Ameer sembari melirik jam dinding di kamarnya.
Acara syukuran memang akan di mulai setelah sholat isya, dan Ameer sudah mendengar suara banyak orang di lantai bawah. Bahkan, suara motor dan mobil juga sudah terdengar berdatangan sejak tadi.
"Aku harus pakai baju apa, Sayang?"
"Apa saja, yang penting menutup aurat dengan baik."
Meizia terkekeh mendengar jawaban singkat Ameer, padahal yang ia maksud adalah ingin Ameer memilihkan baju untuknya. Entah kenapa, tiba-tiba Meizia menginginkan hal konyol itu, seolah ia tidak puas dengan perlakuan Ameer yang memanjakan nya.
__ADS_1
"Bisa pilihkan baju untukku?" pinta Meizia memberi kode. "Aku merasa semakin gemuk dan aku takut tidak ada baju yang cocok untuk ku."
Ameer tersenyum simpul kemudian dia membawa sang istri duduk di tepi ranjang. "Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar."
Ameer segera membuka lemari Meizia dan ia menarik gamis berwarna putih polos dari sana.
"Pakailah ini, pasti akan sangat cocok untuk mu."
"Terima kasih," ucap Meizia sembari menerima gamis itu. Ia segera memakai bajunya dan bersamaan dengan itu terdengar suara Shafa yang memanggilnya.
"Acaranya mau dimulai lho, Dek, belum siap?" tanya Shafa setelah mengetuk pintu.
"Sudah, Mbak," jawab Meizia dengan cepat.
Setelah selesai, Ameer dan Meizia segera keluar dan Shafa langsung mengajak mereka turun.
"Ameer," panggil Abi Zaid. "Kamu dan Meizia belum menemui orang tuanya Syafiq, kan?"
"Belum, Bi," jawab Ameer.
"Kita temui mereka sebelum acaranya dimulai, sejak tadi mereka menanyakan keberadaan kalian," pungkas Abi Zaid.
Ameer dan Meizia hanya mengangguk patuh, Mereka pun mengekori Abi Zaid menemui Kakek dan kedua orang tua Syafiq.
Mereka berkenalan seperti biasa, sedikit pujian terlontar dari bibir ibunya Syafiq melihat penampilan Meizia. Pujian yang sebenarnya tak begitu disukai oleh Meizia, ia takut merasa dirinya sudah baik hanya karena penampilannya yang terus dipuji.
Itulah yang selalu Ameer ajarkan selama ini, jangan pernah menyukai pujian dari orang lain karena bisa jadi itu akan menjadi penyebab kesombongan tumbuh dalam hati.
__ADS_1
Namun, tentu Meizia menghargai pujian itu dengan sebuah senyuman.
"Hana pasti senang memiliki sahabat seperti dirimu, Meizia," kata Ummi Umaroh.
"Justru aku yang sangat senang memiliki sahabat seperti Hana, Tante," balas Meizia.
"Hari sudah semakin malam," sela Kakek. "Saatnya memulai acara syukuran, Sayang." Pria lansia itu mengusap kepala Meizia dengan lembut.
"Iya, Kek," jawab Meizia.
Meizia pun segera menghampiri ibu mertua nya yang duduk bersama saudara perempuannya yang lain, termasuk Hana. Sementara Ameer duduk bersama sang Kakek dan anggota keluarga laki-laki keluarga yang lain.
Acara dimulai dengan membaca beberapa ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh beberapa orang, kemudian di lanjutkan dengan do'a yang dipimpin langsung oleh kakek. Tak lupa Kakek memberi tahu syukuran itu diadakan untuk kehamilan Meizia yang insyaallah akan melahirkan anak kembar.
Kabar yang membuat semua orang langsung mengucapkan puji syukur, bahkan raut wajah mereka juga tampak berbahagia.
Suatu hal yang tak pernah Meizia sangka, orang-orang yang tak mengenal nya kini ikut bahagia dan bahkan mendoakannya.
Berbanding terbalik dengan kehidupan Meizia yang dulu, di mana hanya tatapan sinis, hinaan dan ejekan yang ia terima dari orang-orang yang mengenal dirinya.
"Ya Allah, semoga ibuku merasakan apa yang Aku rasakan sekarang. Nikmat rahmat-Mu yang luar biasa, yang dulu kami ragukan. Semoga dia ada dijalan pertobatannya. Karena sesungguhnya Engkau maha berbelas kasih pada hamba-Mu meski kami bermandikan dosa."
Ameer menatap Meizia sambil tersenyum, ia pun memanjatkan doa terbaik untuk belahan jiwanya itu. "Ya Allah, semoga Engkau senantiasa menempatkan istriku di tempat terbaik dan dikelilingi oleh orang terbaik. Semoga istriku selalu berada di bawah naungan rahmat-Mu, begitu juga dengan ibu mertua ku."
"Dan semoga Engkau menjadikan anak-anak kami pelipur lara bagi kamu, kebanggaan kami dan jalan kami menuju surga-Mu."
"Aamiin."
__ADS_1