
"Ummi tahu tidak? Hari ini kakak menang lomba loh, tapi sayang sekali pialanya lagi-lagi harus buat sekolah, padahal 'kan yang menang lomba itu Kakak."
"Dulu Adek juga menang lomba, tapi pialanya juga diminta sekolah, gimana sih. Kan yang menang Adek."
"Tapi untung saja Abi ganti pialanya dengan yang lebih besar."
"Kalau begini terus, mending Adek bikin sekolah sendiri saja lah. Biar pialanya tetap buat Adek."
"Dek, doa dulu!" seru Asywaq pada sang Adek yang langsung berceloteh ria saat sampai di makam sang Ibu. Sementara Ameer hanya terkekeh melihat kelakuan putranya itu.
Sore ini memang jadwal mereka ziarah ke makam Meizia, aktifitas yang rutin mereka lakukan seminggu sekali sejak dulu.
"Oh ya, hehe," sahut Syauqi.
Ameer menyentuh nisan yang terukir nama istrinya itu sambil tersenyum, sungguh ia merindukan mendiang istrinya itu.
"Anak-anak membuatku sangat bangga, Sayang," batin Ameer. "Aku yakin kamu juga pasti bangga 'kan sama mereka? Apa kamu juga bangga padaku karena menjadi ayah yang baik?"
"Abi, ayo doa!" Syauqi menarik ujung baju sang Ayah yang membuat lamunan Ameer buyar. "Ayo cepat do'a, Bi, Adek belum selesai cerita sama Ummi."
"Baiklah ... baiklah," kekeh Ameer.
...🦋...
Flashback, 6 tahun yang lalu.
Hidup di atas kursi roda bukan lah hal yang mudah bagi Hana. Apalagi setiap kali ia mengingat betapa tidak beruntungnya ia setelah Dokter mengatakan ia tidak akan bisa hamil.
Satu tahun pertama setelah kecelakaan itu adalah masa yang begitu sulit dalam hidup Hana, ia hanya bisa menangis, murung, dan selalu bertanya-tanya kenapa hal itu harus terjadi pada dirinya.
Hana yang dulu ceria telah hilang, berganti dengan Hana yang pemurung. Bahkan, selama satu tahun dia tidak pernah keluar dari rumah, seolah ia takut menghadapi dunia luar.
Bujukan Syafiq untuk menerima dirinya kembali juga ia tolak mentah-mentah, hingga akhirnya pria itu menyerah dan menjauh dari hidup Hana. Berpikir mungkin dia hanya akan menyakiti Hana jika tetap berada di sisinya, apalagi mengingat Syafiq lah penyebab kemalangan itu terjadi.
Namun, hari Hana mendengar si kembar sakit. Hatinya tergerak untuk melihat anak-anak sahabatnya itu, dan itu lah pertama kalinya ia keluar dari rumah setelah sekian lama ia mengurung diri.
"Bi?" panggil Hana dengan suara lirih.
"Kenapa, Nak?" tanya Abi Thohir yang saat ini sedang sibuk mengurus dapur, bukan memasak, melainkan merubah semua tata letak dan dekorasi dapur sehingga Hana bebas beraktivitas di sana di tengah keterbatasannya.
Hana juga berpindah kamar ke lantai satu, itu lama aman untuknya.
__ADS_1
"Aku dengar si kembar sakit," kata Hana.
Sang Ayah seketika mendongak, menatap wajah putrinya yang pucat. Hana juga sangat kurus, bahkan tulang pipinya hingga terlihat sangat jelas.
"Iya, katanya demam sejak kemarin," jawab sang Ayah.
"Aku ... aku ingin ke sana," cicit Hana yang membuat ayahnya tampak terkejut. "Aku ingin melihat keadaan mereka."
"Ayo!" ajak Abi Thohir dengan semangat.
Ia pun segera menyudahi aktivitasnya, setelah itu ia mencuci tangan dan berganti pakaian.
"Abi senang akhirnya kamu mau keluar rumah, Sayang," kata Abi Thohir sembari mendorong kursi roda Hana keluar dari rumah.
Hana tak menanggapi, ia hanya berdiam diri dan menatap langit yang biru terang. Setelah itu, Hana menatap ke depan sana. Entah kenapa kini ia merasa perjalanannya masih panjang, ia tak ingin berakhir begitu saja di atas kursi-rodanya.
"Dunia ini luas sekali ya, Bi," ucap Hana tiba-tiba sembari menatap ke atas lagi.
"Tentu saja, Nak," jawab sang Ayah sambil terkekeh.
Kini ia menggendong Hana masuk ke dalam mobil dan itu kembali membuat Hana ingin menangis. Untuk masuk ke mobil saja ia butuh orang lain.
"Si kembar pasti senang kalau kamu menjenguk mereka," kata Abi Thohir yang kini juga masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah Ameer, Hana disambut dengan begitu hangat oleh keluarga Ameer. Apalagi di sana ada kedua Kakak Ameer dan kaka iparnya, membuat suasana rumah jadi lebih ramai dari biasanya.
"Aku senang akhirnya kamu main ke sini, Nak," kata Ummi Nayla sambil tersenyum lebar.
"Sering-sering ke sini, Han, main sama si kembar," kata Abi Zaid.
Hana hanya bisa mengulum senyum, dan senyum itu lebih lebar ketika ia melihat Asywaq yang berjalan dengan sangat lucu. Mata Hana yang biasanya selalu sayu kini mulai kembali berbinar saat melihat Asywaq yang tampak sangat mengemaskan.
"Meskipun sakit, dia tetap ingin jalan terus," kata Shafa.
"Mungkin karena baru bisa berjalan, jadi dia senang dan ingin terus jalan," sahut Marwa.
"Lalu di mana Syauqi?" tanya Hana kemudian, apalagi ia mendengar si kembar sama-sama sakit.
"Dia tidur di kamar," jawab Ummi Nayla. "Si bungsu sepertinya akan lebih manja, jika dia sakit pasti dia lebih rewel atau sering tidur."
"Aku ingin melihatnya," ujar Hana pada sang Ayah. "Apa bisa Abi mengantarku ke sana?"
__ADS_1
"Bisa, Sayang," jawab Abi Thohir. Karena tak mungkin Hana memakai kursi-roda ke lantai dua, maka Abi Thohir pun menggendongnya dan tentu sang Ayah tak masalah dengan hal itu. Apalagi kini tubuh Hana benar-benar ringan.
Sesampainya di kamar, Ameer langsung menyambut Hana dengan senyum hangat, merasa senang karena adik sepupunya itu akhirnya mau keluar dari rumah.
Ia yang sejak tadi membaca buku di sisi putranya itu kini beranjak turun, ia meletakkan buku itu di atas meja.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Hana yang kini di dudukkan di sisi Syauqi.
"Masih panas, tapi tidak sepanas kemarin," jawab Ameer. "Aku senang kamu ke sini, Han."
"Aku mulai bosan di rumah," jawab Hana pelan, ia menyentuh pipi putra Meizia itu dan seketika Hana merasakan kehangatan di hatinya yang selama ini terasa begitu dingin.
Bahkan, Hana tak bisa menahan senyumnya saat melihat Syauqi merengek sambil mengucek matanya. Bocah itu menangis, dan Ameer tahu anaknya itu mengantuk tapi juga haus, jadi ia langsung memberikan dot-nya pada Syauqi.
"Boleh aku yang melakukannya?" pinta Hana dan tentu Ameer langsung memberikan dot itu pada Hana.
"Dia seperti malaikat yang mungil," gumam Hana dengan mata yang berbinar. "Meizia pasti sangat senang melahirkan anak-anak yang cantik dan tampan."
"Aku harap begitu," sahut Ameer.
Perlahan Syauqi kembali tertidur, dan saat Hana meletakkan botol susu itu di atas meja, ia melihat buku hitam. Hana tahu tadi Ameer membaca buku itu, ia yang penasaran mengambil buku itu dan Ameer tak melarangnya.
"Ini buku harian Meizia?" tanya Hana dengan kening berkerut.
"Iya," jawab Ameer. "Kamu boleh membacanya jika mau."
Hana membuka buku itu dengan asal dan ia membaca salah satu tulisan Meizia yang menyentuh hatinya.
"Aku berpikir aku adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini, bahkan aku juga berpikir Tuhan itu sangat tidak adil. Apa salahku sampai aku harus hidup seperti ini? Apa salahku sampai aku harus dilahirkan oleh wanita malam dan hidup sebagai wanita malam?"
" Alih-alih berpikir positif dan mencoba sabar serta ikhlas, aku justru selalu marah, murung dan selalu menganggap Tuhan tidak adil padaku."
"Hingga dia datang, malaikat tak bersayap-ku, belahan jiwaku."
"Ketika dia mengeluarkanku dari dunia gelap itu, aku sadar bahwa semua memiliki arti dan hikmah yang jauh lebih besar."
"Aku terlahir dari wanita malam, bahkan sebagian dari hidupku aku menjadi wanita malam. Dan Ameer jatuh cinta padaku, dia berusaha menyelamatkanku dan akhirnya dia berhasil menyelamatkan puluhan gadis sepertiku. Bukan kah itu sebuah kejutan yang tak terduga?"
"Jika saja bukan Meizia yang terlahir sebagai anak Mami Lala, jika saja aku tidak terjebak dalam dunia kelam itu, apakah Ameer akan tiba-tiba datang menyelamatkan para gadis itu? Jenny dan yang lainnya, beberapa gadis remaja bahkan hingga seorang Ibu yang harus terjebak dalam dunia gelap itu hanya atas nama uang, itu mengerikan."
"Aku baru menyadari, bahkan satu tetes air mata terkadang akan dibayar dengan dua senyuman."
__ADS_1
"Aku baru tahu arti di balik kata 'semua ada hikmahnya'.
"Aku baru tahu, bahkan gadis kotor seperti ku ternyata dapat menjadi perantara kebaikan bagi orang lain. Dan aku bersyukur karena kini aku menyadarinya, kini aku tahu bahwa aku memang harus ikhlas dengan semua yang terjadi karena Tuhan tahu setiap alur cerita kehidupan di dunia ini. Semua berhubungan, dan semua akan membawa kebaikan pada akhirnya."