Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 34 - Hari Bahagia Menanti


__ADS_3

Ameer tak bisa menghentikan senyum sumringahnya setiap kali mengingat percakapan dengan Meizia, sekarang hubungannya dan Meizia sudah memiliki kepastian. Kemajuan yang selalu Ameer inginkan.


Hal yang sama dirasakan oleh Meizia, bahkan tak henti-hentinya ia bersyukur atas anugerah yang tak terduga ini.


Setelah melewati hari pertamanya bekerja, Meizia segera pulang ke rumah dan ia bercerita tentang semuanya pada Jenny. Tentu saja sahabatnya itu ikut merasa senang, bahkan langsung mendoakan yang terbaik untuk Meizia.


"Kesempatan kedua dalam hidup kamu sangat indah, Mei," kata Jenny.


"Benar, dulu aku pikir Tuhan itu tidak adil, Jen. Dia bahkan tidak membiarkan aku mati dan juga tidak membiarkan aku hidup bahagia," tukas Meizia sembari menyentuh bekas luka yang sepertinya takkan hilang itu. "Tapi sekarang aku tahu kenapa aku masih hidup, karena Dia merencanakan hal yang indah ini untukku."


"Aku sangat bahagia untukmu, Mei," kata Jenny sembari memeluk sahabatnya itu dan tanpa terasa Jenny menitikan air matanya. "Doakan aku semoga aku juga mendapatkan kebahagiaan," lirih Jenny dengan suara tercekat.


"Aamiin, aku pasti mendoakan kamu, kita saling mendoakan." Meizia mengusap punggung temannya itu.

__ADS_1


"Tapi apa do'a ku bisa terkabul, Mei? Aku menjual diri bukan karena dipaksa seperti kamu, tapi memang itu pilihanku," ucap Jenny lirih.


"Tapi sekarang kamu 'kan sudah tahu itu salah dengan bertubat, aku yakin Allah mau mengabulkan do'a kita dan memaafkan kita," kata Meizia.


Jenny memang terpaksa menjual diri demi mendapatkan uang untuk pengobatan sang Ibu yang harus melakukan operasi jantung, tetapi saat operasinya selesai, ibunya tahu pekerjaan Jenny dan itu membuat sang ibu shock hingga meninggal saat itu juga.


Nasib malang Jenny tak berhenti sampai di sana, karena Mami Lala masih terus menjualnya untuk melunasi sisa hutang Jenny pada mucikari itu.


"Kita semua salah, tidak apa-apa, itu cuma masa lalu," kata Meizia. "Nanti kita pergi ke kajian Ameer bersama, ya? Aku yakin setelah itu perasaan kita bisa jauh lebih baik," saran Meizia meyakinkan.


"Hem, calon istri Ustadz," goda Jenny sambil tertawa yang membuat Meizia tersipu.


Sementara di sisi lain, Ameer yang baru pulang dari kantornya langsung berteriak memanggil sang Ibu.

__ADS_1


"Di dapur, Ameer!" teriak Ummi Nayla.


Ameer begergas ke dapur dan ia langsung memeluk Ibundanya itu dengan erat sambil mengucapkan banyak terima kasih.


"Ummi adalah Ibu terbaik di dunia, terima kasih banyak Ummi. Aku sangat mencintaimu, Ummi, belahan jiwaku," tukas Ameer yang membuat Ibunya meringis.


"Apa sih? Ummi sedang memasak, jangan ganggu," tegur Ummi Nayla. Namun, Ameer tak perduli, ia masih bergelanyut manja pada ibunya bahkan juga menghujani pipi sang yang sedikit keriput itu dengan kecupan-kecupan kecil.


"Ameer, mau Ummi pukul pakai wajan?" ancam Ummi Nayla dengan kesal.


"Jangan," jawab Ameer sambil menjauh dari ibunya. "Aku bantuin Ummi masak, ya," kata Ameer sembari melipat lengan bajunya.


"Tidak usah," cegah Ummi Nayla. "Lebih baik kamu mandi, bau asem tubuh kamu." Usirnya.

__ADS_1


"Baiklah ... baiklah, Ibunda tercinta," kata Ameer. "Haruskah kita mengundang Meizia makan malam untuk membicarakan pernikahan kita? Aku rasa lebih cepat lebih baik," kata Ameer.


"Jemput dulu kakekmu," seru sang Ummi Nayla. "Biar Ummi yang mengurus Meizia."


__ADS_2