Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 62 - Mengidam


__ADS_3

"Dua minggu lagi aku akan pulang ke Indonesia, kita akan meluangkan sedikit waktu untuk saling mengenal."


"HAH?"


Hana memekik terkejut, entah kenapa tiba-tiba dia merasa gugup membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan pria yang mungkin adalah calon suami nya.


"Kenapa?" tanya Syafiq dari seberang telfon. "Aku harap itu terlalu lama untuk mu, Hana," ucap Syafiq. "Sebenarnya aku ingin pulang lebih cepat, apalagi setelah aku tahu kakak sepupu mu merayakan pernikahan, itu akan menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan diri pada seluruh keluarga mu. Tapi sayang sekali aku memiliki banyak urusan yang harus segera di selesaikan."


"Sebenarnya itu terlalu cepat untuk ku," kata Hana dengan jujur. "Abi bilang kau akan pulang bulan depan."


"Apakah arti nya kau ingin aku pulang bulan depan?"


"Oh, bukan begitu, hanya saja ...." Hana menggaruk kepala nya, entah kenapa ia jadi kehilangan kata-kata.


"Aku rasa kau tidak senang dengan perjodohan ini, Hana, apakah itu benar?"


Hana meringis mendengar pertanyaan yang di lontarkan Syafiq.


"Itu tidak benar," bantah Hana dengan cepat.


"Jadi kau senang?"


"Emm ...." Hana memutar bola mata nya, baru sekarang ia berbicara dengan pria asing cukup lama, panjang lebar dan rasa nya sedikit aneh bagi Hana. Apalagi dengan berbagai pertanyaan yang di lontarkan oleh Shafiq.


"Jadi kau senang apa tidak, Hana?" desak Syafiq.


"Aku bukan nya tidak senang," kata Hana kemudian. "Tapi bukan berarti aku senang."


"Kata nya kau pintar, kau cerdas. Tapi kenapa kata-kata mu bertele-tele?" kekeh Syafiq yang membuat Hana langsung merasa kesal, baru sekarang ada orang yang mengatakan diri nya bertele-tele.


"Ustadz Syafiq yang terhormat, kau tidak mengenal ku jadi jangan menilai ku begitu saja," tegas Hana. "Aku tidak bertele-tele, aku hanya bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba aku di jodohkan dengan pria yang bahkan aku tidak tahu nama nya. Kemudian, tiba-tiba ada pria yang menghubungi ku dan mengaku sebagai calon suami ku. Apa menurut mu aku tidak akan gugup?"


"Oh, jadi sekarang kau gugup?"


Hana melotot saat mendengar pertanyaan itu, apalagi Syafiq juga tertawa. "Kenapa kau selalu tertawa?" desis Hana.


Bersamaan dengan itu, sang ibu keluar dari dapur dan langsung bertanya, "Kamu berbicara dengan siapa, Han?"

__ADS_1


"Syafiq, Ummi." Hana menjawab dengan jujur.


"Oh, apa kalian bicara hal yang serius? Dan kenapa wajah mu terlihat tegang?" Pertanyaan sang Ibu tampak nya di dengar oleh Syafiq, pria itu kembali tertawa, seolah menikmati kegugupan Hana.


"Tidak apa-apa, Ummi, hanya terkejut karena ada orang yang entah bagaimana bisa menghubungi ku," kata Hana dengan kesal.


"Bicara yang sopan pada calon suami mu, Han!" titah sang Ibu yang seketika membuat raut wajah Hana tampak berubah, lebih tenang.


"Maafkan aku," ucap Hana secara spontan.


Selama ini, ia tak pernah berlaku tidak sopan pada siapa pun.


"Kau manis sekali, Hana!" seru Syafiq dari seberang telfon. "Baiklah, kita akan bertemu dua minggu lagi, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Hana dengan suara rendah.


"Bagaimana? Apa kau merasa cocok dengan Syafiq?" tanya ibunya dengan semangat.


"Hana tidak pernah merasa tidak cocok dengan orang lain sebagaimana Hana merasa tidak cocok dengan Syafiq, Ummi," ungkap Hana dengan jujur. Tentu saja sang Ibu terkejut mendengar hal itu.


"Tidak, bukan begitu," bantah Hana. "Kita lihat saja nanti."


...🦋...


"Hana mengirim pesan," kata Meizia sembari membaca pesan Hana. Saat ini, Meizia dan Ameer masih berada di hotel. Mereka akan pulang siang nanti.


"Apa kata nya?" tanya Ameer sembari membereskan beberapa barang mereka.


"Kata nya pria yang di jodohkan dengan nya bernama Syafiq, dan dia berbeda dari mu." Ameer mengernyit mendengar jawaban sang istri.


"Maksud nya?" tanya Ameer sembari merangkak naik ke atas ranjang, bergabung dengan istri nya yang sejak tadi enggan turun dari ranjang. "Coba lihat," pinta Ameer.


Meizia pun menunjukkan pesan yang di kirim Hana, dan memang benar di sana Hana mengatakan Syafiq berbeda dari Ameer.


"Bagaimana menurut mu?" tanya Meizia.


"Hana tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun selain aku, Sayang, jadi mungkin dia merasa tidak nyaman saat berbicara dengan calon suami nya," pungkas Ameer.

__ADS_1


"Bagaimana jika Hana tidak menyukai pria itu? Apakah dia tetap harus menikahi nya?"


"Tentu saja mereka tetap akan menikah, karena aku yakin Hana pasti menyukai Syafiq setelah mereka dekat nanti."


Meizia mengangguk mengerti, ia pun membalas pesan Hana dengan mengatakan Hana pasti akan menyukai Syafiq saat mereka dekat nanti. Ameer yang membaca pesan istri nya itu tertawa.


"Kamu mencuri kata-kata ku, Sayang," kata Ameer.


"Kenapa? Tidak boleh?"


"Tidak!"


"Aku bahkan mencuri hati mu."


Ameer langsung tergelak mendengar ucapan terakhir sang istri. "Ya Tuhan, kau benar."


Ameer meletakkan kepala nya di pangkuan Meizia. "Kamu telah mencuri hati dan jiwa ku, sekarang aku tidak punya apapun selain cinta untuk mu."


Meizia tersentuh mendengar pengakuan romantis sang suami, ia menunduk dan mengecup kening Ameer dengan lembut.


Ameer memejamkan mata, hal yang selalu ia lakukan saat sang istri mencium nya. Entah kenapa Ameer menyukai kehangatan ciuman Meizia, kehangatan itu terasa menyentuh hati nya.


"Ameer, tiba-tiba aku ingin sesuatu," ujar Meizia kemudian.


"Kau ingin apa, Sayang? Mangga muda?" tanya Ameer, sebab yang ia tahu orang hamil suka sekali mangga muda.


"Bukan," rengek Meizia dengan manja. "Tiba-tiba aku ingin ayam mentega buatan Ummi."


"Itu saja?" tanya Ameer dan Meizia mengangguk. "Baiklah, nanti siang kita akan meminta Ummi memasak ayam mentega untuk mu."


"Tapi aku ingin nya sekarang!"


"Sekarang? Sekarang juga?" pekik Ameer dan Meizia mengangguk.


"Sayang, kamu baru saja makan pasta, memang nya tidak kenyang?" tanya Ameer karena beberapa menit yang lalu Meizia memang makan pasta.


"Entahlah, tiba-tiba aku merasa lapar ayam mentega dan mau nya sekarang. Jadi ayo kita pulang."

__ADS_1


__ADS_2