Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 48 - Cinta Sejati


__ADS_3

Ameer akan selalu mendukung apapun yang Meizia mau dan inginkan, selama itu baik untuk nya dan keluarga mereka.


Meizia pun sangat serius saat mengatakan akan selalu ikut ibu mertua nya untuk pergi ke pengajian kapan pun, ke mana pun, kecuali ke luar kota tentu nya.


Berkat hal itu, kini Meizia dan Ummi Nayla semakin dekat. Seiring berjalan nya waktu, tak ada lagi kecanggungan atau rasa tak suka di hati Ummi Nayla pada menantu nya itu, apalagi Meizia menunjukan tekad yang kuat bahwa ia benar-benar ingin memperbaiki diri.


Meizia juga sering mengajak Jenny ikut kajian ketika teman nya itu ada waktu, Meizia tak ingin memperbaiki hidup nya sendirian, ia ingin teman-teman nya juga merasakan indah dan manis nya perjalanan saat ingin memperbaiki diri.


Siang dan malam datang silih berganti, langit tak selalu terang tentu juga tak selalu mendung. Hal itu lah yang juga di rasakan oleh Meizia, perjalanan nya sangat tidak mudah. Apalagi apa yang ia prediksi sungguh terjadi, ada beberapa orang dari masa lalu nya yang datang dan membuat Meizia kembali ingat pada masa kelam itu.


Namun, Meizia tak mau terpuruk, tak mau termakan hinaan itu meski dulu ia memang hina. Ia selalu teringat dengan kisah yang pernah Ameer ceritakan pada nya, kisah yang menjadi bukti bahwa Tuhan itu memiliki penampunan yang begitu luas.


"Biar lah orang mengatakan apapun tentang ku, biar lah mereka menerka-nerka sebesar apa dosa ku, biar lah mereka menebak sekotor apa jiwa ku. Aku tidak mau peduli, yang aku ingin hanya lah Allah tahu bahwa aku sungguh ingin memperbaiki diri."


"Jika seseorang yang membunuh 100 orang saja Allah ampuni, kenapa aku tidak? Sementara aku juga hamba-Nya."


"Tak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin terlahir dari ibu tidak baik, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau menjadi orang kotor. Tapi, terkadang takdir takkan menunggu kompromi, takdir akan terus berjalan mengikuti garis yang sudah di tentukan."


" Aku tidak bisa mengubah takdir ku yang sudah berlalu, tapi aku sangat ingin merubah jati diri ku di masa depan."


"Tuhan, jika dulu jati diri ku adalah pendosa, aku terima. Namun, aku mohon berikan cinta-Mu untuk ku, karena aku ingin menjadi kekasih-Mu. Tidak apa-apa orang menganggap ku pendosa, asal Engkau memasukan aku pada golongan orang yang bertaubat."

__ADS_1


"Tak perlu ada yang tahu bahwa saat ini aku sedang merangkak, mengejar butiran tasbih cinta-Mu, cukip Engkau tahu itu aku sedang melakukan itu."


"Jika kau menghukum ku atas dosa di masa lalu, aku tahu aku layak mendapatkan nya. Namun, aku juga tahu bahwa Engkau pasti tahu, aku takkan sanggup menerima hukuman itu."


"Tuhan, aku hanya lah manusia biasa, yang terlahir dari seorang pelacur, bahkan aku tidak tahu siapa ayah ku sampai detik ini. Aku juga menghabiskan sebagian dari hidup ku sebagai seorang pelacur. Namun, bukan kah Engkau adalah Tuhan yang maha pengampun? Engkau juga maha pengasih. Maka, berikan lah belas kasih-Mu pada ku, berikan lah ampunan-Mu pada ku. Sekarang, aku hidup hanya untuk itu."


"Tuhan, terima kasih banyak atas belas kasih-Mu yang telah mengirim malaikat tak bersayap untukku. Aku mencintai nya, aku sangat mencintainya. Jika tidak ada dia, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dalam hidup ku. Oleh karena itu, aku mohon jangan ambil nyawa nya lebih dulu dari ku, aku tidak akan sanggup melangkah tanpa genggaman tangan nya."


Ameer mengulum senyum membaca buku diary sang istri, yang menuliskan perjalanan, perasaan dan pemikiran nya dengan bebas.


Ia juga terharu melihat perjuangan Meizia untuk tetap menguatkan iman dan tetap tawakal apapun yang terjadi, dan ungkapan cinta itu ... sungguh membuat Ameer terenyuh.


"Ya Allah, hamba-Mu itu tidak pernah berhenti merayu-Mu, tolong jawab lah rayuan itu dengan rahmat-Mu, juga dengan surga-Mu."


Ameer terlonjak saat tiba-tiba mendengar suara nyaring sang istri, ia langsung menoleh dan bersamaan dengan itu Meizia menyambar buku diary yang Ameer pegang.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh membaca buku istri ku?" goda Ameer sembari mengedipkan sebelah mata nya.


"Boleh saja, tapi jangan," pinta Meizia sembari memasukan buku itu ke dalam laci. "Tumben kamu pulang jam segini?" Meizia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4 sore, biasa nya sang suami pulang jam setengah 6 atau jam 5.


"Tiba-tiba aku merindukanmu," kata Ameer sembari memeluk Meizia dengan manja. "Jadi aku pulang lebih cepat dari biasanya."

__ADS_1


"Kita bertemu setiap hari, bagaimana bisa kau merindukan ku jika hanya berpisah beberapa jam?" Meizia menjauhkan Ameer dari nya setelah itu ia duduk di meja rias untuk mengeringkan rambut nya yang basah itu dengan hairdryer.


"Tentu saja bisa, Sayang, karena aku mencintaimu," ucap Ameer yang mengambil alih hairdryer itu, kemudian ia mengeringkan rambut panjang sang istri.


"Menurut ku kamu berlebihan," kekeh Meizia. "Bagaiamana jika nanti aku mati?"


"Aku bisa gila," sahut Ameer secara spontan dan seketika Meizia terdiam dengan raut wajah yang berubah.


"Aku rasa aku aku yang akan gila jika kamu pergi," lirih Meizia, ia mendongak agar bisa menatap sang suami yang berdiri di belakang nya. "Aku selalu berdoa sama Allah, meminta agar Dia tidak mengambil kamu duluan, aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu."


"Sshtttt...." Ameer langsung meletakkan jari nya di bibir Meizia. "Tidak boleh berbicara seperti itu, Sayang."


"Aku hanya takut," kata Meizia sambil tersenyum tipis. "Aku tidak bisa membayangkan apa yang harus aku lakukan tanpa kamu."


"Aku justru berdoa sebaliknya," ucap Ameer sembari melanjutkan aktivitas nya. "Aku selalu berdoa, semoga kita selalu bersama saat hidup, bahkan saat mati, kemudian kita di bangkitkan bersama dan semoga Allah membawa kita berdua ke surga bersama-sama. Aku juga tidak mau melepaskan tangan mu."


"Aamiin." Meizia mengaminkan dengan cepat. "Bukan kah itu artinya cinta kita sejati? Cinta yang di bawa mati."


"InsyaAllah."


...🦋...

__ADS_1


Berbicara tentang cinta sejati, aku jadi ingat Azhar dan Nasha



__ADS_2