Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya

Mengejar Butiran Tasbih Cinta-Nya
Bab 94 - Berlian Ameer


__ADS_3

Kenapa kematian bisa menjadi sesuatu yang terbaik padahal itu menyakitkan?


Tentu saja Ameer masih tak tahu apa yang harus ia jelaskan pada putranya itu mengenai pertanyaannya. Ameer tidak tahu harus menyusun kata-kata seperti apa untuk membuat bocah yang baru berusia 7 tahun itu mengerti bahwa kematian adalah bagian dari takdir yang terkadang tak bisa dipertanyakan.


Namun, yang bisa Ameer katakan hanya satu hal, Tuhan yang tahu apa yang tidak kita ketahui..


Hari ini, Asywaq sebagai perwakilan dari sekolahnya sedang bersiap menunggu giliran untuk naik ke atas panggung, kemudian melafalkan surat-surat suci Al-Qur'an yang sudah dia hafal sejak satu setengah tahun yang lalu.


Mereka ada di gedung yang tak jauh dari tempat kerja Ameer, gedung itu sudah cukup ramai dengan kehadiran orang dari berbagai kalangan untuk menyaksikan lomba menghafal Al-Qur'an yang diadakan setiap tahun itu.


"Kakak gugup?" tanya Syauqi yang melihat kakaknya itu terus meremas jari jemarinya.


"Abi belum datang, Dek?" Asywaq justru balik bertanya dengan cemas dan adiknya itu hanya menggeleng lemah.


Bersamaan dengan itu, teman kelas mereka datang. Bukannya mendukung dan menyemangati teman mereka agar menang untuk mengharumkan nama sekolah, Mereka justru datang lagi-lagi untuk mengejek.


"Apa sekarang kalian juga tidak punya ayah?" tanya anak laki-laki yang berdiri di sisi Syauqi.


"Kasihan sekali, Sudah tidak punya ibu, sekarang tidak punya ayah."


"Kami punya ayah!" bantah Syauqi dengan cepat, bahkan kedua mata bocah itu sudah berkaca-kaca dan terasa panas.


Bukannya merasa kasihan pada Syauqi yang sudah akan menangis, teman-teman jahilnya itu justru tertawa bersama.


"Cengeng sekali jadi anak laki-laki, gampang nangis padahal cuma dibilang tidak punya Ibu," seru anak yang lain.


"Benar, lagi pula kan memang kenyataannya kalian tidak punya." Yang lain menimpali, membuat air mata Syauqi tak bisa lagi ia bendung. sementara sang kaka hanya diam saja sembari menggenggam tangan sang adik.

__ADS_1


Yeah, bagi mereka yang tidak tahu rasanya tidak punya ibu mungkin kata-kata Kalian tidak punya bukan lah kata-kata yang menyakitkan meskipun itu fakta.


Padahal, kata-kata itu seperti mata pedang yang menyayat setiap saraf tubuh anak tak berdosa tak itu.


"Jangan ganggu kami!" Asywaq berusaha bertindak tegas seperti biasa. "Atau nanti kami akan melaporkannya pada guru."


"Memangnya kami melakukan kesalahan apa?" tanya salah satu anak jahil itu. "Kami kan cuma bilang kalian tidak punya ibu, semua orang tahu itu, guru-guru juga tahu."


Dada Asywaq bergemuruh, rasanya menyakitkan sekali mendengar kalimat itu. Bahkan, matanya juga sudah berkaca-kaca tetapi ia berusaha tegar, ia tidak boleh lemah karena dia harus menjadi pelindung adiknya.


"Apa kalian tahu? Semua peserta lomba datang bersama orang tuanya, bahkan kami saja yang hanya datang untuk mendukung juga datang bersama orang tua kami. Lalu kenapa kamu tidak datang dengan orang tuamu padahal kamu peserta lomba?" celoteh anak itu lagi yang membuat kesedihan dan kekesalan dalam hati Asywaq menyatu.


Asywaq sudah membuka mulut ingin memarahi temannya itu tetapi tiba-tiba wali kelasnya datang dan langsung menegur anak-anak jahil itu.


"Sebagai teman kalian tidak boleh membuat teman yang lain sedih, itu tidak baik," tegas sang wali kelas.


"Habisnya Adek kesal, Kak," rengek Syauqi.


"Abi bilang kita harus bisa menahan rasa kesal karena itu dari setan, ya?" bujuknya.


Wali kelasnya yang melihat itu merasa terenyuh, ia juga merasa kasihan pada si kembar ini yang selalu menjadi sasaran kejahilan anak-anak yang lain.


"Kalian harus kuat, okay?" pinta wali kelas mereka itu. "Ibu akan berbicara nanti dengan orang tua mereka supaya mereka dikasih pelajaran dan tidak membuat kalian sedih lagi."


"Terima kasih, Bu," ucap Asywaq. "Tapi tolong jangan beri tahu Abi kalau mereka sering begitu di sekolah, Abi biasanya akan sedih kalau ada orang yang bertanya tentang ibu kami. Kami tidak mau Abi sedih."


"Baik, Sayang, Ibu janji tidak akan memberi tahu Abi," kata wali kelas mereka dengan yakin. "Sebentar lagi giliran Asywaq yang mau, jangan lupa berdoa, dan tenangkan hati, supaya hafalannya tidak hilang, okay?"

__ADS_1


Asywaq langsung mengangguk sambil tersenyum, dan benar saja ... tak berselang lama nama gadis itu di panggil.


"Asywaq Hasanah al-Fatih."


Di sisi lain, Ameer terjebak macet cukup lama karena ini memang jam makan siang.


"Ya Allah, bagaimana ini?" gumam Ameer sembari terus melirik arlojinya. Ia tentu tak ingin ketinggalan saat putrinya tampil, itu adalah momen yang sangat berarti dan Ameer tak mau melewatkannya begitu saja.


Merasa tak ada jalan lain, Ameer meninggalkan mobilnya di sana dan dia berlari ke gedung tempat lomba itu diselenggarakan.


Ameer tak mau peduli dengan matahari yang terik, yang bahkan seolah membakar kepalanya. Ia juga tak peduli rasa lelah di tubuhnya, atau pandangan orang-orang yang tampak bingung melihat dia berlari secepat itu.


Sementara itu, Asywaq kini sudah di atas panggung, tetapi ia tak juga memulai hafalannya karena ia tak melihat satu pun ada keluarganya yang datang.


Di kursi penonton dia hanya melihat adiknya yang duduk sedih sendirian, sementara peserta lomba yang lain di kelilingi keluarganya.


Asywaq sudah hampir menangis, hingga ia melihat keluarganya datang. Asywaq juga segera memberi isyarat pada sang Adik untuk menoleh, seketika Syauqi tersenyum lebar melihat seluruh keluarganya datang ... yeah, meskipun sang Ayah tak ada di sana. Namun, kakek, nenek, Tante, Om bahkan kedua kakak sepupunya datang sudah membuat dia bahagia.


"Tante Hana!" Syauqi langsung berdiri di atas kursinya. "Sini!" teriaknya sambil melambaikan tangan pada Hana dan keluarga yang lain.


Hana yang saat ini duduk di kursi rodanya juga melambaikan tangan pada Syauqi. "Untung lah kita belum terlambat," ujar Shafa bernapas lega.


"Tapi Ameer belum datang, padahal dia yang si kembar tunggu," gerutu Marwa.


"Ameer pasti datang," sambung Ummi Nayla.


"Benar, Ameer tidak akan melewatkan momen berharga seperti ini," tambah Hana dengan yakin. "Dia akan melihat berlian-nya memancarkan cahaya yang sangat indah hari ini."

__ADS_1


__ADS_2